Oleh T.A. Darwis
Membaca tulisan Tabrani Yunis di Potretonline .com edisi 21 April 2026 dengan judul “Menguak Kenanangan Orkes Mekar Melati Manggeng dan Para Musisi Muda”, mendorong penulis untuk ikut menyambung cerita. Penulis sendiri adalah bagian dari sejarah keberadaan Orkes Mekar Melati dan kelanjutan band serta sanggar seninya. Oleh sebab itu, tulisan ini menjadi bagian integral dari apa yang telah dipaparkan oleh Tabrani Yunis dalam tulisannya.
Nah, Manggeng, Aceh Barat Daya, pada awal tahun 1990-an, khususnya masyarakat Gampong Padang Manggeng, menyaksikan lahirnya sebuah lembaga kebudayaan bernama Sanggar Seni Tambo Aceh. Sanggar ini didirikan sebagai wadah pengembangan musik dan penciptaan lagu-lagu berbahasa Aceh, sekaligus menjadi ruang silaturahmi bagi generasi muda yang ingin melestarikan budaya daerah.
Pendirian sanggar tersebut digagas oleh Drs. Sulaiman, M.M. bersama Fahmi Ayus,S.Pd. Keduanya merupakan tokoh seni yang memiliki kepedulian tinggi terhadap pelestarian musik tradisional Aceh di wilayah Aceh Barat Daya. Dengan semangat kekeluargaan, mereka membangun sanggar sebagai pusat kegiatan seni yang tidak hanya berfokus pada pertunjukan, tetapi juga pada pembinaan dan regenerasi seniman lokal.
Fahmi Ayus sendiri merupakan sosok yang telah lama berkiprah di dunia musik. Sejak tahun 1970-an, ia dikenal sebagai pimpinan Orkes Mekar Melati, salah satu grup musik senior yang paling disegani pada masanya. Orkes Mekar Melati bahkan menjadi satu-satunya grup yang secara rutin diundang tampil di berbagai acara pesta perkawinan hingga ke daerah Tapaktuan dan Alur Bilie. Kehadiran orkes tersebut menjadi hiburan utama masyarakat pada masa itu dan meninggalkan jejak yang mendalam dalam sejarah kesenian Aceh Barat Daya.
Di dalam Sanggar Seni Tambo Aceh, Fahmi Ayus berperan sebagai pimpinan, sementara penulis turut bergabung sebagai anggota bersama sejumlah anggota keluarga lainnya. Para anggota sanggar aktif sebagai musisi, penyanyi, dan pencipta lagu dalam satu kesatuan keluarga besar seni. Kebersamaan ini memperkuat karakter sanggar sebagai komunitas seni yang lahir dari ikatan kekeluargaan.
Memasuki era 1980-an, Orkes Mekar Melati resmi bubar seiring perubahan zaman dan dinamika perkembangan musik. Sebagai kelanjutannya, para seniman lokal kemudian membentuk grup band baru untuk meneruskan semangat bermusik yang telah dirintis sebelumnya. Grup band ini diharapkan dapat menyesuaikan diri dengan selera musik generasi baru tanpa meninggalkan identitas Aceh.
Sanggar Seni Tambo Aceh hingga kini menjadi bagian penting dari sejarah kebudayaan Gampong Padang, Kecamatan Manggeng, Kabupaten Aceh Barat Daya, yang pada masa itu masih termasuk dalam wilayah Kabupaten Aceh Selatan. Keberadaan sanggar diharapkan dapat terus menjadi inspirasi bagi
generasi penerus dalam menjaga dan mengembangkan kesenian Aceh di tengah arus modernisasi.
Selain Sanggar Seni Tambo Aceh, dunia musik Gampong Padang Manggeng pada masanya juga diwarnai kehadiran *The Melda Group*, sebuah grup band junior yang menjadi kebanggaan anak muda Kecamatan Manggeng. Grup ini berada di bawah pimpinan Zulkifli,S.Pd., dengan penulis sebagai salah satu personelnya.
Pada saat itu, The Melda Group merupakan satu-satunya grup band anak muda di Kecamatan Manggeng. Kehadirannya selalu dinanti di berbagai acara pesta perkawinan, bahkan hingga ke luar daerah. Latihan rutin grup ini selalu ramai dihadiri, tidak hanya oleh para personel pemain dan penyanyi, tetapi juga oleh kawan-kawan penikmat dan pengamat seni. Semangat kebersamaan itu menjadi kenangan indah yang sulit dilupakan, terutama di masa ketika telepon genggam belum menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Seiring berjalannya waktu, keberadaan grup band mulai tergeser. Kemunculan alat musik modern, terutama keyboard tunggal dengan suara yang lengkap dan praktis, membuat penyelenggara pesta lebih memilih format musik instan. Secara perlahan, grup band seperti The Melda Group tersingkir dan tidak mampu bersaing dengan tren tersebut.
Meski era telah berubah, semangat berkesenian tidak pernah padam. Fahmi Ayus, Drs. Sulaiman, dan penulis terus berkarya melalui Sanggar Seni Tambo Aceh. Bersama-sama, mereka merintis album perdana sanggar yang berjudul *“UTANG”*. Album ini dirilis dalam format kaset gulung di dapur rekaman *LY Record Medan Studio* milik Hj. Laila Hasyim, penyanyi senior asal Medan.
Sebanyak 12 lagu Aceh lahir dalam album perdana tersebut, di antaranya:
– *“Di Antara Dua Pilihan”* – Cipt. Fahmi Ayus / Drs. Sulaiman
– *“Aceh Membangun”* – Cipt. Fahmi Ayus / Drs. Sulaiman
– *“Poma”* – Cipt. T.A. Darwis
– *“Aneuk Laot”* – Cipt. T.A. Darwis
– *“Krueng Baru”* – Cipt. Fahmi Ayus / Drs. Sulaiman
– *“Muntui Hanama”* – Cipt. Fahmi Ayus / Drs. Sulaiman
– *“Bungkoh Puteh Kuneng”* – Cipt. Fahmi Ayus / Drs. Sulaiman
Serta beberapa lagu lainnya yang juga mendapat sambutan hangat masyarakat.
Album “UTANG” terjual hingga puluhan ribu kopi pada masa itu. Penulis sendiri yang secara langsung mengedarkan kaset ke toko-toko kaset di seluruh Aceh. Dua lagu, yaitu _“Poma”_ dan _“Di Antara Dua Pilihan”_, menjadi lagu yang paling sering diputar dan menggema di toko-toko kaset.
Sanggar Seni Tambo Aceh merupakan sanggar keluarga besar Fahmi Ayus yang berlokasi di Rumah Tinggi, Gampong Padang Manggeng, Aceh Barat Daya. Kini sanggar tersebut hanya tinggal kenangan. Karya terakhir beliau adalah *Lagu Mars Abdya* dan *Lagu Himne Abdya*, dua lagu kebanggaan yang menjadi identitas Kabupaten Aceh Barat Daya.
*Selamat jalan Sang Maestro.* Al-Fatihah untuk keluarga besar yang telah mendahului kami: Fahmi Ayus beserta istri, Drs. Sulaiman beserta istri, Heri Sandi selaku musisi, dan Rhumainur selaku penyanyi. Semoga amal dan karya mereka diterima di sisi Allah SWT. Amin.
Kini, Rumah Tinggi di Gampong Padang Manggeng berdiri sebagai monumen kenangan Sanggar Seni Tambo Aceh, saksi bisu perjalanan para seniman maestro Kabupaten Aceh Barat Daya.
Penulis, T.A. Darwis, anggota personel Sanggar Seni Tambo Aceh, hingga saat ini masih aktif berkarya secara solo di media sosial untuk menyalurkan hobi bermusik. Terima kasih.
_Wassalam._























Diskusi