POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home Bahasa

Kesopanan (dalam) Dunia Tulis

Redaksi by Redaksi
Mei 14, 2025
in Bahasa, Budaya, kebudayaan, Menulis, POTRET Budaya
0
Kesopanan (dalam) Dunia Tulis - 1000561439_11zon | Bahasa | Potret Online


Catatan Paradoks; Wayan Suyadnya

Dunia ini panggung paradoks. Kita membaca dan menulis, mendengar dan berbicara—dua keping mata uang yang tak terpisahkan.

Saya menulis karena membaca. Saya berbicara karena mendengar. Keduanya adalah bahasa; satu menari lewat aksara, satu mengalun lewat suara.

Baca Juga
POTRET Budaya
Untaian Sajak Alkhair Aljohore@
04 Agu 2023

Sama-sama alat untuk menyampaikan isi hati, pikiran, maksud dan tujuan. Tapi dunia terus berubah, dan bahasa pun terguncang.

Bahasa tulis—yang dulu mungkin hanya milik para pujangga dan cendekia—kini ada di genggaman siapa saja. WhatsApp, email, Instagram, semua menjadikan bahasa tulis alat komunikasi utama.

Kesopanan (dalam) Dunia Tulis - 11110cbb 5c43 4df5 b3a7 f15aa006ccca | Bahasa | Potret Online
Baca Juga
POTRET Budaya
SALAM AL-AQSA
22 Okt 2023

Undangan tak lagi diucapkan, cukup dikirim lewat gambar digital dengan huruf-huruf yang didesain manis.

Bahkan konfirmasi kehadiran diminta hanya dengan satu klik. Tak perlu bertatap muka, tak perlu menundukkan kepala atau membungkukkan badan.

Kesopanan (dalam) Dunia Tulis - IMG 20250502 WA0010 | Bahasa | Potret Online
Baca Juga
Aceh
Tradisi Mengaji Shalat Magrib di Aceh Memudar: Alarm Sosial dari Serambi Mekkah
29 Jun 2025

Datang, terima kasih. Tidak datang, tidak apa-apa.

Di sinilah paradoks itu menggeliat. Sampai di mana bahasa tulis menggusur bahasa lisan?

Di Bali, etika dan sopan santun adalah napas dalam setiap tutur kata. Dalam bahasa lisan, bukan hanya isi yang penting, tapi cara menyampaikannya juga tak kalah pentingnya. “Tityang sadia meriki,” bukan sekadar datang, tapi niat dan hormat yang ditegaskan.

Dalam kabar duka, tidak ada kalimat ajakan, hanya “matur piuning”—memberi tahu, bukan mengundang. Karena dalam lisan, rasa dan relasi dijalin, bukan sekadar informasi yang dipindahkan.

Namun kini, sopan santun semakin kabur di balik layar. Bahasa lisan, yang selama ini mengajarkan adab dan empati, perlahan surut digantikan teks-teks dingin tanpa intonasi.

Siapa yang bertanggung jawab atas pergeseran ini? Kita semua, mungkin. Atau mungkin pula tidak ada yang betul-betul bersalah, hanya zaman yang terus melaju tanpa menunggu.

Paradoks ini tak meminta jawaban, hanya kesadaran. Bahwa dalam setiap kata yang kita tulis dan ucapkan, ada nilai yang harus dijaga. Karena bahasa bukan sekadar alat, tapi cermin dari siapa kita.

Denpasar, 14 Mei 2025

Ikuti Kami
Channel WhatsApp Potret Online
Dapatkan berita terbaru langsung di WhatsApp kamu
Ikuti Sekarang
Next Post
Kesopanan (dalam) Dunia Tulis - 1000579147_11zon | Bahasa | Potret Online

🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah