Minggu, April 19, 2026

‎Ghost in the Cell: Bukan Sekadar Horor Fiksi, Melainkan Realitas Pahit Ketidakadilan Sistem

d6285489-5291-4630-bb73-f4e571585b61
Ilustrasi: ‎Ghost in the Cell: Bukan Sekadar Horor Fiksi, Melainkan Realitas Pahit Ketidakadilan Sistem

Oleh : Ririe Aiko
Penulis


‎Beberapa hari yang lalu, saya meluangkan waktu untuk menonton Ghost in the Cell. Jujur saja, sejak trailernya sliweran di media sosial, rasa penasaran saya sudah begitu menggebu-gebu. Apalagi ada nama Joko Anwar di kursi sutradara—sineas yang kalau urusan memacu adrenalin memang juaranya. Bagi saya pecinta horor, karya-karyanya selalu masuk dalam daftar wajib tonton.

‎Namun, setelah duduk tenang di depan layar, saya tersadar bahwa film ini tidak sedang menyajikan komedi dengan balutan horor biasa. Di balik segala absurditasnya, terselip kritik sosial yang rasanya lebih tajam daripada silet. Film ini bicara tentang kriminalitas, tentang kuasa, dan tentang bagaimana sebuah sistem gagal bekerja dengan adil.

‎Ngerinya bukan hanya karena ada hantu yang tiba-tiba muncul, tapi karena realitas yang digambarkan terasa terlalu dekat dengan apa yang saya lihat di berita setiap hari.

‎Saya memperhatikan bagaimana kehidupan penjara di film ini digambarkan layaknya miniatur sosial yang jujur sekaligus menyakitkan. Seolah mereplikasi ketidakadilan di dunia luar, jeruji besi pun tak mampu menghapus strata sosial yang ada.

Mereka yang miskin koneksi dan tanpa nama besar dipaksa mendekam di sel kumuh, sedangkan para mantan koruptor justru mendapatkan banyak fasilitas mewah. Meski sama-sama berstatus narapidana, tapi privilese mereka tetaplah raja. Blok khusus dengan fasilitas Wi-Fi gratis, kasur empuk serta ijin pelesir setiap minggu, menjadi bukti bahwa kenyamanan pun bisa dibeli di balik jeruji.

‎Yang lebih bikin saya miris adalah melihat bagaimana relasi kuasa itu bergeser. Para sipir, yang seharusnya menjadi simbol otoritas negara, malah terlihat menyesuaikan diri dan tunduk pada narapidana bergelar koruptor. Seolah-olah status sosial itu tato permanen yang tidak bisa dihapus oleh vonis hakim mana pun. Penjara kehilangan fungsi dasarnya sebagai ruang pembelajaran. Bagi para perampok uang rakyat ini, penjara seolah hanya menjadi tempat liburan singkat untuk bersembunyi sejenak dari hiruk-pikuk kesibukan bekerja.

‎Korupsi dalam film ini hadir bukan sebagai kejahatan yang menggetarkan, melainkan sesuatu yang nyaris banal, seperti rutinitas harian yang dianggap lumrah. Ia bekerja diam-diam, namun dampaknya merusak tatanan negeri hingga ke akar. Namun saat akhirnya terungkap, konsekuensi yang datang terasa seperti formalitas belaka. Hukum seolah hanya menyentuh permukaan, tanpa pernah punya keberanian untuk benar-benar menembus akar masalahnya. Di sinilah dominasi kekuasaan menundukkan ketidakadilan.

‎Semakin lama saya menonton, semakin sulit bagi saya untuk memisahkan film ini dari realitas negeri kita. Ini bukan lagi sekadar cerita fiksi, melainkan cermin tentang sistem yang membiarkan ketidakadilan terus berlangsung; tentang aturan yang bisa sangat tegas dan menekan ke bawah, namun mendadak elastis dan lentur saat ditarik ke atas.

“Loe punya uang, loe punya kuasa.” Sebuah kalimat satir yang pahit, namun dalam sistem kita hari ini, ia adalah kebenaran yang paling telanjang.‎

Film ini, pada akhirnya, menyentil saya tentang bagaimana seseorang dibentuk oleh sistem yang gagal menyediakan pilihan adil. Tentang bagaimana bertahan hidup bagi sebagian orang adalah perjuangan berdarah-darah di ruang sempit, sementara bagi yang lain hanyalah soal mempertahankan gaya hidup. Dan jujur saja, bagi saya, rasanya terlalu pedih untuk menyebut semua ini hanya sekadar imajinasi sutradara.

‎Sambil berjalan keluar, saya sempat berandai-andai: seandainya saja setan itu benar-benar ada dan mereka memilih bekerja lebih konsisten daripada hukum di negeri ini, mungkin tidak akan banyak ruang bagi kesewenang-wenangan untuk tumbuh subur. Atau setidaknya, keadilan tidak akan terasa sejauh dan semahal ini bagi saya dan orang-orang biasa lainnya.

Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Ririe Aiko adalah seorang penulis dan pegiat literasi asal Bandung yang dikenal karena konsistensinya dalam menyuarakan isu-isu kemanusiaan melalui karya sastra, khususnya puisi esai. Sejak remaja, ia telah menjadikan dunia menulis sebagai rumahnya. Ia mulai dikenal pada 2006 lewat karya pertamanya Senorita yang memenangkan Lomba Penulisan Naskah TV di Tabloid Gaul dan kemudian diadaptasi menjadi FTV oleh salah satu stasiun televisi nasional. Perjalanan kepenulisan Ririe berakar dari genre horor dan roman, dua dunia yang memberinya ruang untuk menggali sisi gelap dan getir kehidupan. Cerpen-cerpen horornya bahkan sering menjadi trending dan memenangkan penghargaan di berbagai platform, termasuk Arum Kencana yang menjuarai lomba cerpen Elex Novel. Namun di tengah jejak panjang fiksi populernya, Ririe justru menemukan makna baru dalam genre puisi esai—sebuah ruang tempat ia bisa bersuara lebih lantang tentang luka sosial, ketidakadilan, dan harapan yang tertindas. Pada 2024, Ririe menerbitkan buku antologi pertamanya yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama berjudul KKN, sebuah karya kolaboratif yang mempertemukannya dengan pembaca lebih luas. Setahun kemudian, ia menerbitkan buku puisi esai mini bertajuk Sajak dalam Koin Kehidupan (2025), sebagai tonggak awal perjalanannya menapaki genre puisi esai secara lebih mendalam. Tak berhenti di sana, ia menantang dirinya untuk menulis puisi esai setiap hari selama 30 hari di bulan Ramadhan—yang kini tengah dirangkai menjadi buku puisi esai mini bertajuk Airmata Ibu Pertiwi. Ririe juga merupakan Founder Gerakan Literasi Bandung, sebuah inisiatif yang bertujuan menumbuhkan kembali kecintaan anak-anak terhadap buku di era digital. Melalui program berbagi buku, kelas kreatif, dan kegiatan literasi berbasis komunitas, ia membangun jembatan antara dunia literasi dan tantangan teknologi masa kini. Selain menulis, Ririe aktif sebagai kreator video berbasis Artificial Intelligence, menjelajah cara-cara baru dalam menyampaikan pesan melalui medium visual. Baginya, menulis bukan sekadar merangkai kata, melainkan menyalakan cahaya kecil di tengah gelapnya kenyataan—cara untuk berdamai, berjuang, dan tetap bertahan di dunia yang sering kali bisu terhadap suara-suara kecil.

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Artikel terbaru untuk dibaca

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist