Tidak semua jurusan yang diremehkan itu salah. Kadang, justru di situlah kebutuhan terbesar berada—hanya saja belum banyak yang menyadarinya.
“Kuliah kok jurusan BK sih, Kak?”
“Loh, memang kenapa?” sahutku heran.
“BK itu jurusan cari-cari masalah! Nanti kakak menghadapi anak-anak bandel. Memangnya sanggup? Mending pindah jurusan saja.”
Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut uwakku. Tidak keras, tapi cukup untuk membuatku terdiam. Ada jeda yang canggung. Aku tidak langsung menjawab—bukan karena tidak punya jawaban, tetapi karena harus menahan sesuatu di dalam diri: antara kaget, kecewa, dan sedikit ragu.
Ini bukan pertama kalinya aku mendengar hal seperti itu. Sudah berkali-kali—dari keluarga, teman, bahkan dari orang yang baru mengenalku. Seolah-olah jurusan Bimbingan dan Konseling (BK) adalah pilihan yang aneh, pilihan yang salah, atau bahkan pilihan yang “tidak menjanjikan”.
Padahal, jika kita berhenti sejenak dan melihat kenyataan, dunia justru sedang menghadapi masalah yang sangat dekat dengan bidang ini.
Realitas Kesehatan Mental Remaja di Indonesia
Berdasarkan hasil Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS), sekitar 1 dari 3 remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental. Angka itu setara dengan sekitar 15,5 juta remaja.
Dari jumlah tersebut, sekitar 2,45 juta remaja mengalami gangguan mental dalam kategori serius. Namun yang lebih memprihatinkan, hanya sekitar 2,6% yang mendapatkan layanan bantuan profesional.
Artinya, jutaan remaja sedang berjuang sendirian—tanpa pendampingan yang memadai.
Di tingkat global, data WHO juga menunjukkan bahwa 1 dari 7 remaja di dunia mengalami masalah kesehatan mental.
Masih pantaskah jurusan BK dianggap “cari-cari masalah”?
Peran Jurusan BK yang Sering Disalahpahami
Banyak orang mengira BK hanya tentang menghadapi anak bermasalah. Padahal, lebih dari itu.
- Membantu individu memahami dirinya
- Mendampingi dalam menghadapi tekanan hidup
- Menjadi pendengar tanpa menghakimi
- Membantu menemukan solusi, bukan menghakimi masalah
Di tengah meningkatnya kasus kecemasan, depresi, hingga tekanan sosial di kalangan remaja, peran konselor justru semakin penting. BK bukan sekadar profesi—melainkan kebutuhan nyata.
Tekanan Keluarga dan Perbandingan Jurusan
Di keluargaku, banyak sepupu memilih jurusan yang dianggap “keren”: Farmasi, Teknik Mesin, Pendidikan Agama Islam, hingga Bahasa Inggris.
Dan aku memilih BK.
Sering kali, tanpa disadari, aku dibandingkan. Tidak selalu secara langsung, tetapi cukup terasa. Dari situ aku belajar satu hal:
Tidak semua orang harus berjalan di jalan yang sama.
Dalam berbagai studi psikologi pendidikan, minat dan bakat memiliki pengaruh besar terhadap keberhasilan akademik dan kepuasan karier. Artinya, memilih jurusan yang sesuai dengan diri sendiri jauh lebih penting daripada sekadar mengikuti standar orang lain.
Saran yang Baik, Tapi Tidak Selalu Tepat
Ada lagi uwakku yang lain berkata:
“Kalau kakak ambil teknik elektro, itu bagus. Gajinya tinggi.”
Aku hanya tersenyum. Padahal dalam hati aku tahu—itu bukan duniaku.
Ngecolok air sanyo saja aku gemetar… ini malah disuruh kuliah kelistrikan.
Aku tidak marah. Aku hanya mengerti bahwa tidak semua orang benar-benar memahami siapa aku dan apa yang aku mampu.
Bertahan di Tengah Keraguan
Saat ini aku sudah berada di semester 4. Aku telah melewati banyak proses—belajar, memahami, dan mulai mencintai apa yang aku jalani.
Apakah masuk akal untuk berhenti hanya karena omongan orang?
Bagiku, tidak.
Aku memilih bertahan—bukan karena keras kepala, tetapi karena sadar bahwa ini adalah jalan yang aku pilih.
Mengubah Luka Menjadi Kekuatan
Perkataan orang-orang memang sering terasa menyakitkan. Namun dari situ aku belajar sesuatu:
Tidak semua kritik harus dilawan—sebagian cukup dijadikan bahan bakar.
Aku menjadikannya motivasi. Bukan untuk membuktikan kepada mereka, melainkan kepada diriku sendiri—bahwa aku mampu.
Penutup
Mungkin benar, jurusan BK terlihat seperti “cari-cari masalah”. Namun bukan untuk menambah masalah.
Melainkan untuk memahami, mengurai, dan membantu menyelesaikannya.
Di dunia yang semakin penuh tekanan seperti sekarang, mungkin justru itulah yang paling dibutuhkan.
Oleh Ahdaniya
Mahasiswi Prodi Bimbingan dan Konseling (BK), Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, UIN Ar-Raniry Banda Aceh
Catatan Redaksi: Artikel ini pertama kali tayang pada 08 Mei 2021 dan dipublikasikan kembali dengan beberapa penambahan data serta penyempurnaan isi.























Diskusi