Dengarkan Artikel
Oleh Fileski Walidha Tanjung
Saya menulis kuratorial ini bukan dari jarak aman seorang pengamat, melainkan dari posisi yang lebih rapuh: sebagai ayah dari pelukisnya. Posisi ini tentu tidak netral. Ia sarat afeksi, harapan, juga kegelisahan.
Namun justru dari situlah saya ingin memulai—bahwa karya ini lahir bukan dari proyek besar yang dirancang matang oleh institusi seni, melainkan dari ruang domestik: dari bunyi latihan musik di rumah, dari kanvas yang terbentang di lantai, dari tangan seorang anak yang merespons dunia dengan cara yang belum sepenuhnya ia jelaskan kepada kita.
Lukisan Huiga Tanjung Ramadan (6) yang menjadi sampul buku puisi saya, Epistemologi Moksa Para Naga, pada mulanya lukisan berukuran 30 x 43 cm, ini tidak saya posisikan sebagai “peristiwa seni”. Ia hadir sebagai ekspresi spontan. Tetapi ketika saya berniat melelangnya dalam rangka peluncuran buku, Dwi Kartika Rahayu, pengajar lukis Huiga di Titikan School of Art, menyarankan untuk mencari calon kolektor dulu sebelum diadakan lelang lukisan.
Begitu saya posting di beberapa media sosial, beberapa tawaran mulai berdatangan, saya menyadari bahwa karya ini telah bergerak keluar dari ruang privat menuju ruang publik. Momen itu menjadi titik balik: saya tidak lagi hanya melihatnya sebagai lukisan anak saya, tetapi sebagai karya yang sedang memasuki percakapan yang lebih luas.
Salah satu respons yang paling menggugah datang dari Ananda Sukarlan. Komponis dan pianis terkemuka yang juga penyandang Sindrom Asperger ini menyatakan ketertarikannya bukan sekadar karena komposisi visualnya, tetapi karena ia merasakan resonansi sinestetik di dalam lukisan karya Huiga. Sinestesia adalah kondisi ketika satu indra memicu pengalaman indra lainnya—seseorang dapat melihat warna ketika mendengar bunyi atau proses kebalikannya, atau merasakan bentuk ketika membaca huruf.
Bagi Ananda, yang secara terbuka mengakui mengalami sinestesia dalam praktik musiknya, lukisan Huiga bukan hanya rangkaian warna, melainkan komposisi musikal yang hidup, bermodulasi, berirama, dan berdinamika.
Menurut komponis yang telah ditulis oleh Sydney Morning Herald sebagai “one of the world’s leading pianists at the forefront of championing new piano music” ini, sinestesia yang diidapnya kemungkinan besar karena efek samping dari Asperger’s Syndrome.
Pengakuan Ananda Sukarlan membuat saya merenung. Sejak lama saya menyaksikan Huiga seringkali tiba-tiba ingin melukis ketika saya sedang berlatih musik. Ia seperti menangkap sesuatu dari bunyi yang saya mainkan—lalu memindahkannya ke kanvas dalam bentuk warna. Seolah-olah bunyi itu tidak berhenti di telinganya, tetapi berubah menjadi penglihatan. Apakah itu sinestesia? Saya tidak tergesa menyimpulkannya. Sebagai ayah, saya menyadari bahwa asumsi harus diuji, mungkin melalui pemeriksaan medis yang cermat. Namun saya melihat bahwa yang lebih penting adalah bagaimana pengalaman itu—apa pun namanya—menjelma menjadi energi visual yang otentik.
📚 Artikel Terkait
Ananda Sukarlan mengatakan, lukisan ini tidak tunduk pada tata komposisi yang jinak. Ia tidak berusaha sopan. Warna-warnanya bertubrukan, lalu tiba-tiba menemukan harmoni yang tak terduga. Ada ritme yang tidak rata, seperti ketukan 7/8 yang melompat, lalu kembali ke 4/4 yang lebih gamblang, sebelum akhirnya lepas dalam kebebasan yang nyaris improvisasional. Saya tidak ingin mengurungnya dalam istilah teknis yang kaku, tetapi jelas bahwa secara estetis, karya ini bergerak dalam wilayah ekspresif yang berani—mendekati semangat ekspresionisme yang mengutamakan intensitas batin dibanding representasi realistik.
Dalam sejarah seni rupa modern, pencarian relasi antara bunyi dan warna bukan hal baru. Sejumlah pelukis awal abad ke-20 berusaha “menggubah” warna sebagaimana komposer menggubah nada. Namun dalam banyak kasus, eksplorasi itu lahir dari refleksi teoritis yang panjang. Pada Huiga, saya melihat sesuatu yang berbeda: bukan teori yang mendahului pengalaman, melainkan pengalaman yang mendahului teori. Ia tidak membaca manifesto seni; ia merespons bunyi. Ia tidak menghitung harmoni; ia merasakan dorongan untuk menorehkan warna.
Di sinilah saya merasakan ketegangan yang relevan dengan situasi seni hari ini. Dunia seni kontemporer sering kali bergerak di antara dua kutub: spontanitas dan institusionalisasi. Pendidikan formal, galeri, pasar, dan kurikulum membentuk standar-standar tertentu tentang apa yang dianggap “baik”, “matang”, atau “layak koleksi”. Dalam komentarnya, Ananda bahkan mengingatkan agar Huiga kelak tidak kehilangan keberanian itu jika suatu hari belajar secara akademik. Pernyataan tersebut mungkin terdengar provokatif, tetapi ia menyentuh persoalan penting: bagaimana menjaga keberanian ekspresi di tengah sistem yang cenderung menata dan menormalkan.
Rencana peluncuran buku Epistemologi Moksa Para Naga dan lelang lukisan ini mempertemukan dua dunia: dunia puisi yang saya tulis dengan nada profetik, dan dunia visual yang digarap Huiga dengan spontanitas musikal. Buku puisi yang saya tulis ini, berbicara tentang krisis ekologis, kelelahan peradaban, kerusakan hutan, dan keterasingan manusia modern. Alam di dalamnya bukan sekadar latar, melainkan subjek yang menegur dan menuntut pertanggungjawaban moral. Jika puisi-puisi itu adalah seruan kesadaran, maka lukisan Huiga saya baca sebagai gema emosionalnya—sebuah respons indrawi terhadap dunia yang berisik dan rapuh.
Secara material, lukisan ini memanfaatkan cat dengan keberanian gestural. Sapuan kuas tidak rapi; ia meninggalkan jejak, tekstur, dan ketidaksempurnaan yang justru menjadi kekuatannya. Warna-warna tidak dicampur untuk menghasilkan gradasi halus yang akademik, melainkan ditempatkan dalam kontras yang tegas. Di sana ada keberanian untuk “terlalu terang”, “terlalu keras”, atau “terlalu tiba-tiba”. Dalam dunia yang sering menuntut keseimbangan dan harmoni konvensional, sikap visual seperti ini menjadi bentuk perlawanan halus terhadap domestikasi rasa.
Tentu saya menyadari dimensi lain yang tidak bisa diabaikan: pasar dan investasi. Ananda secara jujur menyebut bahwa ini kesempatan baik untuk mengoleksi karena harga karya Huiga belum melambung. Saya tidak menutup mata terhadap realitas itu. Sejak dahulu, seni selalu berada dalam jaringan patronase dan nilai ekonomi. Namun saya berharap, koleksi pertama ini bukan sekadar transaksi, melainkan pertemuan konseptual—sebuah karya yang mungkin lahir dari pengalaman melihat bunyi, dimiliki oleh seorang musikus yang mengaku mendengar warna.
Sebagai ayah, saya merasakan kebanggaan. Sebagai kurator lukisan ini, saya berusaha menjaga jarak kritis. Karya ini tidak saya anggap sempurna, dan memang tidak perlu sempurna. Yang membuatnya penting adalah keberaniannya untuk hadir apa adanya—tanpa malu, tanpa sungkan, tanpa menunggu legitimasi. Dalam konteks zaman yang serba terukur oleh algoritma dan citra, keberanian seperti ini menjadi langka.
Saya ingin pembaca dan penonton melihat proyek ini sebagai ruang dialog. Dialog antara generasi, antara bunyi dan warna, antara puisi dan lukisan, antara ekspresi dan pasar. Lukisan Huiga bukan sekadar sampul buku atau objek lelang; ia adalah pertanyaan terbuka tentang bagaimana indra bekerja, bagaimana kreativitas tumbuh, dan bagaimana kita merawat keberanian itu agar tidak padam.
Mungkin suatu hari nanti kita akan mengetahui secara medis apakah Huiga mengalami sinestesia atau tidak. Tetapi hari ini, yang saya saksikan adalah seorang anak yang merespons dunia dengan intensitas yang jujur. Dan sebagai ayah, saya memilih untuk merawat intensitas itu—bukan dengan membekukannya dalam pujian berlebihan, melainkan dengan membuka ruang agar ia terus berdialog dengan zaman. Karena pada akhirnya, seni bukan tentang kesempurnaan, melainkan tentang keberanian untuk bersuara sebelum semuanya menjadi terlalu sunyi. (*)
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






