Senerai Puisi Delia Rawanita

April 2023
Oleh: Redaksi

Sesungguh Kita Merugi

Delia Rawanita

Demi kuda yang berlari kencang

Menerbangkan debu di sepanjang derap langkah kaki yang mengeluarkan percikan api

Kemenangan telah nyata

Manusia tetap serakah mengumpulkan harta

Melupakan setiap jengkal   timbunan pahala

Seberapa pun dikumpulkan di dunia

Berbalas kebahagiaan di akhirat sana

Sungguh manusia tetap lalai dan merugi

Padahal semuanya itu bekal untuk kembali

Seakan merajut lupa

Bahwa dunia adalah tempat perhiasan semata

27 Ramadhan 2023.

Peristiwa Ramadhan

Delia Rawanita

Ditatapnya pintu rumah yang tertutup

Debu menempel pekat

Seresah  bertaburan menutupi jalan

Pintu papan yang tak terkunci menimbulkan derit  engsel berkarat didorong  perlahan

Dengan kaki dijinjit dia  mengendap endap masuk.

Seketika aroma kayu tua dimakan rayap menebar

Pandangan berhenti pada bingkai foto di dinding

Kusam dan berdebu

Kecuali kursi rotan dan meja kayu yang sudah lapuk , ada lemari kayu mengisi ruangan tamu

Selebihnya tak ada

Entah berapa lama sudah  foto itu terpajang di situ

Sejak peristiwa  pembantaian yang menewaskan banyak orang tidak bersalah

yang difitnah karena terlilit utang

Karena cinta yang tidak berbalas bahkan hanya karena rasa iri dan dengki mereka menghasut saudara sendiri

Ditariknya nafas dalam dalam

Peristiwa keji di saat berbuka puasa yang menimbulkan dendam.

Ramadhan bertahun lalu  masih ada Abah dan ummi

Ramadhan selanjutnya  juga masih ada mereka di sini

Namun kehidupan sudah berbeda alam  sejak peristiwa di malam ramadhan  itu

Karena  mereka seorang guru mengaji

Karena mereka orang yang disegani

Karena mereka disayangi  para santri

Lalu mereka dihasut seseorang  sebagai penghianat negeri.

Tak ada yang bisa melawan kecuali pasrah semuanya kehendak takdir ilahi

orang orang bersenjata itu sangat keji

“Allahu Akbar, itu kalimat terakhir Abah

Lalu rebah bersimbah darah bersama umi kekasih hati

Dua kekasih Tuhan  yang terbujur dalam senyum di hari Fitri

Disemayamkan  pekarangan rumah ini.

“Abah, umi , izinkan aku meneruskan  kembali  ” Bisiknya lirih

Rasa pahit yang ditanggung bertahun sendiri semua berganti

Diyakini bahwa derita  hidup di dunia hanyalah titian semata

Kekuatan  iman adalah  tempat sandaran  menuju hakiki

Dibenahinya kembali semua sudut rumah agar tertata  indah dan  rapi

Pekarangan kotor  menyemak belukar sudah  bersih kini

Mari membuang benci dan sakit hati tekadnya pasti.

Kini di halaman dekat makam Abah dan ummi  terpancang papan bertulis rapi

” Dibuka kembali tempat mengaji ”

Bna, 27 April 2023

Biodata

Delia Rawanita , guru Biologi yang sangat menikmati dunia seni sastra ini pernah menjadi   kepala sekolah prestasi Aceh tingkat SMA, penulis naskah sinetron Pendidikan di balai Tekkomdik Aceh , ikut terlibat dalam pementasan teater dan beberapa sinetron pendidikan serta  film berjudul  Namaku Budaya prod. Dinas Pariwisata  dan Toga Diatas Pusara oleh  TVRI Aceh .  Kini menikmati masa pensiun  diisi dengan menulis puisi dan cerpen untuk melawan lupa .

Tentang Penulis
Majalah Perempuan Aceh

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Puisi terbaru untuk dibaca

Populer

Puisi yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist