• Latest
Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik - de887664 5703 4ea3 b536 ece938504d8e | Budaya Menulis | Potret Online

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Februari 22, 2026
9edda383-f515-49a9-9938-8d5b8ebcf730

Sastra sebagai Cermin Kehidupan: Refleksi Perjalanan dari Panggung Teater ke Dunia Penelitian

April 11, 2026
29e05edd-7320-4d1e-bee4-7bd4496720de

Bahaya “Self-Diagnosis” di Balik Layar TikTok: Mengapa Remaja Aceh Butuh Validasi Profesional?

April 10, 2026
Ilustrasi dua kelompok manusia yang terpisah dengan perbedaan warna, menggambarkan prasangka, bias sosial, dan pengelompokan in-group dan out-group.”

Memahami Prasangka: Mengapa Kita Mudah Menilai Orang Lain Secara Keliru

April 10, 2026
3271b064-e5af-478a-be77-3253443f27da

Media Sosial: Meningkatkan atau Menurunkan Kepercayaan Diri Remaja?

April 10, 2026
IMG_0722

Make-Up dan Self-Confidence Pada Remaja Perempuan dalam Perspektif Psikologi

April 10, 2026
Kota Batavia abad ke-18 dengan kanal, bangunan kolonial, dan suasana senja yang muram di sekitar Kali Besar.

Geger Pecinan 1740 Mengubah Wajah Nusantara Selamanya

April 10, 2026
667109a2-c370-4108-8a9c-7dcb1a0a1d44

Normalisasi “Chatting” Tanpa Batas: Pergeseran Makna Khalwat di Era Digital

April 10, 2026
Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | Budaya Menulis | Potret Online

Dari Instrumen ke Otoritas: Ketika Algoritma Menggeser Kedaulatan Keputusan Manusia

April 10, 2026
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Esai
  • PODCAST
Sabtu, April 11, 2026
  • Login
  • Register
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
  • Sastra
  • Buku
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
  • Sastra
  • Buku
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik - de887664 5703 4ea3 b536 ece938504d8e | Budaya Menulis | Potret Online

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Tabrani Yunis by Tabrani Yunis
Februari 22, 2026
in Budaya Menulis, Latihan Menulis, Literasi, Menulis
Reading Time: 5 mins read
0
589
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Bagian ke Empat

Oleh Tabrani Yunis

Usai menikmati sahur bersama keluarga tadi sekira pukul 04.30 WIB saya memulai aktivitas mengedit beberapa tulisan yang dikirimkan oleh para penulis untuk diposting di Potretonline.com. Ada beberapa tulisan yang masuk dan harus disegerakan pemuatannya. Karena sesungguhnya setiap penulis yang mengirimkan tulisan pasti menginginkan agar tulisannya cepat dimuat. Ketika tulisan itu cepat dimuat, maka kebahagian penulis pun cepat didapat. 

Baca Juga:
  • Antara Konten dan Tulisan: Cara Sederhana “Healing” di Era Digital
  • Benarkah Bangsa Aceh Malas Menulis?
  • Produktif Menulis, Kala Puasa Ramadan

Jadi misi yang saya jalankan juga dalam konteks mempercepat kebahagiaan penulis. Kalau penulis merasa bahagia, saya pun ikut merasakan kebahagiaan itu.

Dalam proses editing dan publikasi tulisan yang sudah masuk tersebut, ingatan saya terbawa pada sebuah janji diri untuk menyiapkan tulisan ke empat tentang workshop Storytelling dan Foto jurnalistik yang disengsarakan oleh CommsLab,USK dan Gelios di gedung  TDMRC USK, Banda Aceh pada tanggal 13 Februari 2026.

Sebuah acara yang memiliki bobot pengetahuan yang sangat banyak dan mengatrol produktivitas orang, terutama orang muda untuk menulis. Saya sendiri telah menulis tiga tulisan tentang acara itu dan ini adalah tulisan ke empat.

Tulisan ini akan mengaitkan tentang pemaduan dua media ekspresi sebuah atau beberapa fakta lapangan dengan pendekatan storytelling secara tertulis dan media  fotografi dalam perspektif jurnalistik.

Ruang auditorium Dr. Redha yang berada di lantai 3 gedung TDMRC USK hari Jumat itu, diisi secara dominan oleh orang-orang muda. Umumnya para mahasiswa yang memiliki concern tentang menulis dan photography journalism. Mereka menempati balkon-balkon di bagian belakang pengunjung yang duduk di bagian depan yang letaknya di bawah.

Presentasi lanjutan adalah sebuah presentasi visual, yang dipresentasikan oleh chaideer Mahyuddin yang terkenal sebagai journalist photographer yang merupakan visual photographer dari AFP Jakarta.

Diawali dengan curahan pengalaman sang fotografer mengungkap fakta bencana saat Aceh dilanda bencana gempa dan tsunami yang sangat dahsyat pada 26 Desember 2004 hingga bencana ekologis Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat, ia menampilkan sejumlah foto hasil karyanya yang menjadi pilihan foto favorit dari media di mana ia bekerja dan juga pilihan para netizen di media sosial.

Tanpa disadari air mata menetes di pipi, kala menyaksikan foto-foto jurnalistik yang ditampilkan di layar oleh Bung Chaedeer Mahyuddin yang diiringi dengan curahan pengalaman mengabadikan suasana duka dan derita para penyintas bencana ekologis di Aceh itu. Foto-foto itu seakan membawa serta kita langsung berada di lokasi pengambilan gambar atau foto. Sehingga bisa hanyut dalam cerita yang memberikan gambaran kesulitan hidup para penyintas bencana menyelamatkan diri dari buah kebijakan pemerintah yang brutal terhadap lingkungan dan masyarakat korban hingga kini.

Kedua presentasi  pada acara yang bergizi itu, memberikan banyak sekali pembelajaran dan pengetahuan kepada peserta workshop. Apalagi kedua sajian itu dikaitkan dengan konteks bencana ekologis Aceh, Sumut dan Sumbar.  Sehingga tak terhitung betapa besar dan luasnya pengetahuan yang bisa kita petik dan pelajari. Menggunakan dengan memadukan dua kekuatan, yakni storytelling yang  mengungkap fakta dengan melukis kata dan kekuatan visual photography tentang bencana Aceh, melahirkan getaran jiwa kala seorang penulis akan mengungkap fakta lapangan dalam lukisan kata dan gambar visual yang sangat menyentuh. Keduanya, storytelling dan foto jurnalistik merupakan dua kekuatan dalam menggambarkan Bencana Ekologis Aceh.

Sebagai mana kita sudah ketahui dan menyaksikan  bencana ekologis yang melanda Aceh pada akhir November 2025 berupa banjir bandang dan longsor, menelan ratusan korban jiwa, ribuan orang hilang, serta memaksa lebih dari 150 ribu warga mengungsi. Kondisi tag yang bukan sekadar angka statistik, melainkan tragedi kemanusiaan yang menyisakan luka mendalam. 

Baca Juga

Perempuan Aceh mengenakan hijab sedang menulis di buku dalam suasana komunitas, mencerminkan semangat literasi dan pemberdayaan perempuan desa

Kerinduan Perempuan Aceh untuk Menulis: Dari Dibungkam Menjadi Bersuara

April 9, 2026
IMG_0662

Ruang Digital dan Perebutan Demokrasi

April 7, 2026
e08e89c0-dfa9-447a-887f-f0826157341c

Antara Konten dan Tulisan: Cara Sederhana “Healing” di Era Digital

April 7, 2026

Tragedi yang bukan hanya sekadar angka  statistik dan tragedi ekosida itu akan tidak terungkap dengan menyentuh bila tidak diungkapkan dengan cara storytelling dan foto jurnalistik yang menyentuh. Oleh sebab itu, lewat storytelling dan foto jurnalistik ini bisa  mengabadikan dan menyuarakan tragedi ini. Dikatakan demikian, karena kedua pendekatan ini adalah dua pendekatan yang saling melengkapi, storytelling dan foto jurnalistik.

Hal ini, terungkap dalam persentasi yang menarik dari kedua narasumber yang memaparkan kekuatan kedua pendekatan yang bisa diterapkan.  Storytelling lewat melukis kata memiliki sejumlah kekuatan di antaranya. Pertama, storytelling dapat menghidupkan pengalaman personal. Artinya, kata-kata mampu membawa pembaca masuk ke dalam perasaan korban,ketakutan saat air bah datang, kehilangan orang tercinta, atau harapan tipis di pengungsian. Kedua, dapat menyusun narasi berlapis. 

Storytelling bisa mengaitkan bencana dengan akar masalah ekologis seperti deforestasi 1,4 juta hektar hutan akibat izin tambang dan perkebunan. Lebih jauh lagi lewat pendekatan ini  dapat pula dengan mudah  membangun empati. Sehingga, dalam setiap cerita yang menyentuh hati membuat publik tidak hanya tahu, tetapi juga haru serta peduli dan terdorong untuk bertindak. Apalagi bila penulis begitu lihai dalam melukis kata, walau isi tulisan adalah kritik yang begitu keras, tapi bisa diterima dengan lembut, tanpa merasa disakiti.

Semata kekuatan foto jurnalistik yang tak dapat dibantah adalah visualisasi fakta itu sendiri yang tak terbantahkan. Foto banjir yang membawa kayu gelondongan di Aceh Tamiang dan daerah lain, atau bangkai gajah sumatera yang ditemukan di Pidie Jaya , menjadi bukti nyata kerusakan ekologis yang terungkap jelas dalam karya foto jurnalistik. 

Tentu bukan hanya itu, foto jurnalistik dapat 

menghadirkan momen otentik. Hal ini bisa terjadi karena kamera menangkap ekspresi warga yang kehilangan rumah, anak-anak di pengungsian, atau lanskap hutan yang gundul.

Selanjutnya juga tidak kalah penting adalah  bahwa karya foto jurnalistik itu mampu menggugah kesadaran instan: Satu foto bisa lebih kuat daripada seribu kata dan dapat  menyalakan rasa urgensi di benak publik.

Jadi kedua kekuatan  media ekspresi, lewat storytelling dengan kekuatan melukis kata dan visualisasi lewat foto jurnalistik  dapat pula memeta emosi yang  menggugah empati melalui narasi personal, menyentuh hati lewat ekspresi wajah dan lanskap. Juga berusa fakta yang menjelaskan kronologi, data, dan akar masalah, serta mampu  menyajikan bukti visual yang sulit disangkal . Hal yang tidak kalah penting bahwa foto jurnalistik bisa mempertahankan daya ingat kita.  Karena bisa melekat lewat detail naratif gambar. Ya, melekat lewat kesan visual dan bisa sangat membantu untuk kepentingan advokasi yang  membutuhkan  banyak argumen untuk perubahan kebijakan.  Karena dengan kekuatan visual juga malu memberi tekanan publik melalui bukti visual .

Oleh sebab itu, kombinasi storytelling dan foto jurnalistik sesungguhnya bisa menjadikan bencana Aceh bukan sekadar berita sesaat, melainkan memori kolektif yang menuntut tanggung jawab negara dan korporasi . Narasi kata memberi konteks, sementara foto memberi bukti. Bersama-sama, keduanya menjadi senjata advokasi untuk mendorong restorasi ekologis dan pemulihan alam.

Akhir kata, workshop storytelling dana visualisasi foto jurnalistik yang dilakukan di auditorium  TDMRC USK ini, bukan hanya penting untuk meningkatkan kapasitas pemahaman peserta, tetapi lebih besar mendorong para peserta untuk secara produktif menggunakan kedua pendekatan  yang diutarakan dalam paparan tulisan ini.  Semoga banyak peserta yang bisa mengambil pelajaran berharga dan melakukan advokasi lewat dua pendekatan ini dalam mengangkat fakta lapangan di daerah bencana di Aceh saat ini. Semoga.

—

SummarizeShare236Tweet147
Tabrani Yunis

Tabrani Yunis

Bio Narasi Tabrani Yunis, kelahiran Manggeng, Aceh Barat Daya, Aceh berlatarbelakang profesi seorang guru bahasa Inggris, mulai  aktif menulis di media sejak pada medio Juni 1989. Aktif mengisi ruang atau rubrik opini di sejumlah media lokal dan hingga nasional. Menulis artikel, opini, essay dan puisi pilihan hidup yang  kebutuhan hidup sehari-hari. Telah menulis, lebih 1000 tulisan berupa opini, esası dan puisi yang telah publikasikan di berbagai media.Menerbitkan 2 buku, yang merupakan kumpupan tulisan dalam buku Membumikan Literasi dan buku antologi puisi “ Kulukis Namamu di Awan” Aktif terlibat dalam  membangun gerakan literasi anak negeri sejak tahun 1990 terutama di kalangan perempuan dan anak. Bersama mendirikan LP2SM ( Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Sumber daya Manusia) dan di tahun 1993 mendirikan Center for Community Development and Education (CCDE). Lalu, sebagai Direktur CCDE membidani terbitnya Majalah POTRET (2003) dan majalah Anak Cerdas (2013). Kini aktif mengelola Potretonline.com dan majalahanakcerdas.com, sambil mempraktikkan kemampuan entreneurship di POTRET Gallery, Banda Aceh

Related Posts

9edda383-f515-49a9-9938-8d5b8ebcf730
Artikel

Sastra sebagai Cermin Kehidupan: Refleksi Perjalanan dari Panggung Teater ke Dunia Penelitian

April 11, 2026
29e05edd-7320-4d1e-bee4-7bd4496720de
Artikel

Bahaya “Self-Diagnosis” di Balik Layar TikTok: Mengapa Remaja Aceh Butuh Validasi Profesional?

April 10, 2026
Ilustrasi dua kelompok manusia yang terpisah dengan perbedaan warna, menggambarkan prasangka, bias sosial, dan pengelompokan in-group dan out-group.”
Psikologi Sosial

Memahami Prasangka: Mengapa Kita Mudah Menilai Orang Lain Secara Keliru

April 10, 2026
3271b064-e5af-478a-be77-3253443f27da
BIngkai Remaja

Media Sosial: Meningkatkan atau Menurunkan Kepercayaan Diri Remaja?

April 10, 2026
Next Post
Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik - 0237279e d5c3 4d36 b2e6 86c4653b0f70 | Budaya Menulis | Potret Online

Kekompakan Ibu-Ibu Seneubok Saboh Wujudkan Buka Puasa Bersama

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Privacy Policy (Kebijakan Privasi)
  • Terms of Service (Syarat dan Ketentuan)
  • Penulis
  • Al-Qur’an

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com