Dengarkan Artikel
Oleh Feri Irawan
Saya mulai tahu matematika sejak saya sekolah dasar. Saat itulah saya mulai diajarkan untuk menghitung dari mulai menambah, mengurangi, mengali, dan membagi angka. Semenjak itu baru tahu bahwa angka dan bilangan itu berbeda.
Pada saat itu saya berpikir bahwa matematika adalah pelajaran yang sangat sulit dan membinggungkan. Namun, ketika saya duduk di bangku kelas 1 SMP saya berpikir bahwa matematika itu pelajarannya sangat sulit, tapi juga sangat menantang. Pada saat itu saya mulai tertarik menyukai pelajaran matematika.
Dan saat saya sudah lulus SMA, saya mempunyai keinginan untuk masuk di jurusan matematika karena saya bercita-cita untuk menjadi seorang saintis.
Pentingnya matematika bagi kehidupan disampaikan Kurnia Widhiatuti. Trainer Parenting Nasional ini menyebut, ahli matematika zaman lampau Al-Kindi bahkan mengatakan bahwa matematika adalah mukadimah (pengantar) bagi kita untuk memahami filsafat kehidupan.
Matematika tidak bisa dilepaskan dari kehidupan. Segala yang kita lihat, sentuh, dan bicarakan, tanpa sadar adalah matematika. Bentuk laptop (persegi, sudut-sudut di tempat tidur, hingga takaran bumbu dan garam saat memasak, bahkan matematika bisa membuat seseorang memiliki persepsi baru terhadap suatu persoalan.
Tak bisa dipungkiri, ada kesan menakutkan terhadap matematika. Yang membuat anak takut adalah doktrin. Ketika orang tua bilang bahwa matematika itu sulit, anak langsung menganggap matematika sebagai momok
Kebanyakan murid yang ada di sekolah menganggap matematika sebagai suatu pelajaran yang menegangkan dan juga menyeramkan. Belum lagi, mereka juga harus dipusingkan dengan hitungan yang tidak ada akhirnya.
Lalu, sebenarnya, hal apa yang membuat matematika terkesan menyeramkan?
Menurut saya, cara mengajar seorang guru sangat berpengaruh terhadap cara pandang serta minat seorang murid. Tak heran bila murid menganggap matematika menyeramkan jika guru yang mengajar saja terlampau serius dan monoton.
📚 Artikel Terkait
Bagaimana tidak, masuk kelas langsung sodorin sederet soal. Ngomong sendiri sama papan tulis seperti pesawat radio. Materi pembelajarannya begitu-begitu saja, hanya papan tulis dan buku teks konvensional.
Guru seharusnya lebih pandai mengombinasikan rumus matematika dengan konsep atau hal-hal yang menarik agar murid lebih terkesan untuk mempelajari matematika.
Menurut survey dari Kaspersky (2021), sebanyak 48% responden menjawab matematika sebagai mata pelajaran tersulit. Menguatkan survey Kaspersky, dalam kunjungan ke kelas-kelas, ketika saya meminta siswa angkat tangan yang tidak menyukai matematika, ternyata hasilnya 50 persen siswa angkat tangan. Artinya, 50 persen murid di sekolah saya tidak suka atau membenci pelajaran matematika.
Menurut saya, ada dua penyebab siswa tidak menyukai matematika. Pertama, metode pembelajaran yang diberikan guru kepada murid tidak menarik.
Bahkan ada stigma di kalangan siswa, matematika adalah pelajaran yang ‘menakutkan’ dengan guru yang tidak menyenangkan. Metode pembelajaran yang tidak menarik sehingga menyebabkan matematika paling dibenci.
Faktor kedua, kualitas guru matematika karena selama ini guru disibukan dengan beban administrasi. Akibatnya, subtansi ilmu diabaikan karena guru cenderung lebih takut dengan sanksi.
Pernahkah menonton film Stand and Deliver (2018)? Film yang didasarkan kisah nyata seorang guru Matematika Jaimie Escalante (diperankan oleh Edward James Olmos) yang menggunakan humor dan pesona untuk masuk ke dalam otak anak-anak didiknya dan kemudian mengambil hati mereka.
Kepalanya yang setengah botak dan mengenakan celana yang kebesaran, ia tidak pernah mengeluh mendidik sejumlah siswa yang selalu gagal dalam matematika.
Dia terus bereksperimen mencari tahu bagaimana caranya menangani anak-anak remaja di kelasnya. Dia menggunakan soal matematika yang bisa berhubungan langsung dengan persoalan kehidupan anak-anak remaja itu, dan mengubahnya menjadi jenius. Ternyata, faktor humor menjadi penentu utama dalam film ini.
Ternyata rasa humor pada diri guru sangat penting untuk memikat hati para siswa belajar menyenangkan. Dalam mengajar, humor ini dapat dilemparkan di tengah-tengah pembelajaran. Sehingga ketika siswa sedang jenuh, dapat mencair dengan humor yang disampaikan tersebut.
Pada intinya, seorang guru meskipun tidak memiliki rasa humor yang tinggi, harus bisa mencairkan suasana kelas ketika siswa sudah mulai tampak jenuh dengan apa yang berlangsung di dalam kelas.
Sistem pendidikan Indonesia memang butuh inovasi untuk menciptakan sebuah metode belajar yang membuat matematika disukai dan mudah dipahami siswa.
Penulis adalah guru matematika dan kepala SMKN 1 Jeunieb
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini









