Korupsi Pertamina: Wayang Gelap yang Menghancurkan Negeri

Korupsi Pertamina: Wayang Gelap yang Menghancurkan Negeri - 2025 08 08 17 19 19 | Artikel | Potret Online
Ilustrasi: Korupsi Pertamina: Wayang Gelap yang Menghancurkan Negeri

Oleh: Dayan Abdurrahman

Ledakan Skandal: Uang Rakyat Jadi Mainan

Kasus korupsi di tubuh Pertamina, bukan sekadar kebocoran anggaran, melainkan perampokan terstruktur yang terjadi di ruang gelap kekuasaan. Sejak 2018 hingga 2023, praktik korupsi ini menggerus uang negara sebesar Rp 193,7 triliun, dan kini dengan kasus baru yang menyeret delapan tersangka, kerugian diperkirakan mencapai Rp 285 triliun. Ini bukan sekadar angka—ini darah rakyat yang dikuras demi pesta pora segelintir elit.

Mengapa Korupsi Begitu Mudah?

Jawabannya sederhana: hukum tumpul, kekuasaan rakus, dan budaya permisif. Lihat KPK—lembaga yang dulu jadi harapan kini tak lebih dari harimau ompong. Revisi UU KPK 2019 mematikan taringnya, membuatnya tak lagi mampu menyentuh korupsi struktural. Kejaksaan Agung menangani kasus, tapi tanpa independensi penuh, fokusnya lebih ke individu, bukan sistem.

Politik dan Patronase: Dalang di Balik Wayang

BUMN seperti Pertamina sudah jadi alat politik. Direksi dipilih karena loyalitas, bukan kompetensi. Kasus terbaru bahkan mengaitkan nama-nama yang punya kedekatan dengan lingkaran kekuasaan, membuktikan bahwa kursi jabatan bukan soal kemampuan, tapi soal siapa yang bisa “main cantik” dengan penguasa.

Pengadaan Barang: Sarang Manipulasi

Sektor pengadaan publik adalah ladang basah korupsi. Skema tender tertutup, harga fiktif, pencampuran BBM bersubsidi untuk dijual premium—semua dilakukan untuk mengeruk keuntungan. Riset menunjukkan 49% kebocoran anggaran negara terjadi di sektor pengadaan. Inilah alasan mengapa setiap proyek besar sering kali jadi ajang bancakan.

Budaya Jawa dan Lakon Wayang: Negara Jadi Panggung

Indonesia ibarat panggung wayang, dengan dalang yang tak tersentuh dan rakyat hanya jadi penonton bisu. Budaya politik Jawa yang sarat kompromi dan basa-basi menciptakan ruang abu-abu di mana kejahatan moral dianggap biasa. Elite berjalan tanpa malu, tanpa integritas, sementara rakyat hanya bisa menyaksikan negaranya dikuliti oleh orang-orang yang mestinya menjaga martabat bangsa.

Dampak: Dari BBM Mahal hingga Rakyat Sengsara

Dampaknya? BBM naik, ongkos hidup membengkak, dan kemiskinan menggila. Ketika subsidi jebol, uang negara yang seharusnya membangun sekolah, rumah sakit, dan jalan tol justru mengalir ke kantong-kantong pribadi. CPI Indonesia 2024 hanya 37/100, peringkat 99 dari 180 negara, bukti kita sedang berada di titik rawan ketidakpercayaan publik.

Analogi Kanker: Korupsi Memakan Demokrasi

Korupsi ini seperti kanker stadium akhir: ia tidak hanya mematikan ekonomi, tapi juga membunuh demokrasi. Undang-undang tak lagi berdaulat, hukum jadi dagangan, dan keadilan hanyalah ilusi. Setiap kali kasus besar mencuat, kita ribut sebentar, lalu lupa, seolah penyakit ini bisa sembuh dengan sendirinya.

Belajar dari Negara yang Tegas

Cina menghukum mati koruptor besar. Singapura menutup celah korupsi lewat pengawasan ketat dan transparansi pengadaan. Negara-negara Skandinavia memastikan direksi BUMN dipilih karena integritas, bukan politik. Lalu kita? Masih sibuk saling memaafkan dan menyebut korupsi sebagai “kesalahan administratif”.

Solusi Konkret: Jangan Lagi Jadi Negara Wayang

  1. Pulihkan KPK dengan kewenangan penuh.
  2. Digitalisasi pengadaan agar transparan dan diawasi publik.
  3. Pisahkan BUMN dari politik—jabatan harus berbasis merit.
  4. Hukum berat tanpa kompromi bagi koruptor kelas kakap.
  5. Gerakkan masyarakat sipil untuk kontrol anggaran dan kebijakan.

Doa untuk Negeri: Sampai Kapan Kita Terpuruk?

Dosa apa yang membuat kita selalu mengulang luka yang sama? Sampai kapan kita biarkan panggung wayang ini dimainkan oleh para dalang serakah? Jika kita ingin Indonesia Emas 2045, maka kita harus berhenti jadi bangsa yang memaafkan korupsi. Negara ini harus kembali punya kehormatan—karena jika tidak, kita hanyalah negeri yang hidup dalam lakon gelap, tanpa harapan.

Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Majalah Perempuan Aceh

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Artikel terbaru untuk dibaca

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.