Jaga Raja Ampat

Jaga Raja Ampat - 2025 06 06 06 11 16 | Artikel | Potret Online
Ilustrasi: Jaga Raja Ampat


(Puisi untuk Surga yang Terluka)

Oleh Gunawan Trihantoro
Ketua Satupena Kabupaten Blora dan Sekretaris Komunitas Puisi Esai Jawa Tengah

Di ujung timur negeri ini,
Tuhan menjatuhkan sejumput surga ke laut biru
tempat karang menyanyi,
dan ikan-ikan menari
dalam litani alam yang tak pernah kering pujian.

Raja Ampat,
namamu bukan sekadar peta atau promosi wisata,
kau adalah nafas ribuan makhluk laut,
nyanyian angin yang jatuh di pundak burung cendrawasih,
dan sunyi hutan bakau yang menyimpan doa
para leluhur Papua.

Namun kini,
ada deru yang asing datang dari jantung tanahmu.
Bukan gelombang, bukan suara paus,
tetapi gemuruh mesin dan dentam keserakahan
yang menancapkan kuku-kuku besi
di tubuhmu yang suci.

Mereka bilang,
“Ini demi kemajuan.”
Tapi kami tahu,
itu hanya nama lain dari kehancuran yang diberi label izin.
Tanah yang dulu menghijau,
akan menjadi luka merah
di punggung bumi yang kau jaga.

Raja Ampat,
bagaimana jika karang tak lagi berwarna?
Jika pasirmu tak lagi lembut karena beradu dengan logam?
Bagaimana jika paus-paus berhenti bernyanyi,
dan anak-anak Papua tak lagi bisa
bercerita tentang laut yang mereka warisi?

Kita bukan hanya kehilangan panorama,
kita kehilangan jiwa.

Lihatlah,
setiap pohon yang tumbang adalah bait doa yang hilang,
setiap tebing yang terkikis adalah kitab suci alam
yang dilenyapkan oleh tangan manusia.

Siapa yang bisa hidup dari kekayaan
jika udara jadi racun
dan laut jadi kolam mati?

Baca Juga

Aku ingin berkata pada dunia, cukup sudah.
Tahanlah tanganmu.
Jangan kau tebus masa depan
dengan emas nikel dan angka-angka semu.

Karena Raja Ampat bukan tambang,
ia adalah warisan.
Ia bukan ruang kosong untuk dikavling,
tapi pelukan bumi bagi anak cucu kita.

Mari jaga Raja Ampat
seperti menjaga ibu yang renta.
Mari rawat lautnya
seperti merawat mata anak kita yang tertidur.

Dan jika nanti ditanya,
apa yang kita tinggalkan?
Katakan,
kita pernah memilih menjaga,
bukan menguasai.
kita pernah menahan diri,
agar bumi tetap bisa bernapas.

Raja Ampat, maafkan kami,
yang lambat sadar dan nyaris membunuhmu
dengan tangan kami sendiri.

ADVERTISEMENT

Rumah Kayu Cepu, 5 Juni 2025

Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Gunawan Trihantoro
Gunawan Trihantoro adalah seorang penulis kelahiran Purwodadi tahun 1974. Ia merupakan alumni Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) yang mulai aktif menulis sejak masa kuliahnya. Karya-karyanya telah terbit di berbagai media cetak dan online. Gunawan aktif dalam berbagai komunitas kepenulisan, termasuk Satupena, Kreator Era AI, dan Komunitas Puisi Esai Jawa Tengah. Selain itu, ia juga berkontribusi sebagai penulis buku-buku naskah umum keagamaan dan moderasi beragama di Kementerian Agama RI selama periode 2022–2024. Hingga kini, Gunawan telah menghasilkan puluhan buku, baik sebagai penulis tunggal maupun penulis bersama, yang memperkuat reputasinya sebagai salah satu penulis produktif di bidangnya.

Komentar

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.