Senin, April 20, 2026

Abu Syech Mud; Syekhul Masyayikh Ulama Dayah Aceh Periode Awal. 

Abu Syech Mud; Syekhul Masyayikh Ulama Dayah Aceh Periode Awal.  - fdc0b06d 66a7 42f6 a74b 976a8a189cd7 | #Ulama Kharismatik Aceh | Potret Online
Ilustrasi: Abu Syech Mud; Syekhul Masyayikh Ulama Dayah Aceh Periode Awal. 

Oleh Dr. Nurkhalis Muchtar, Lc,MA

Nama kecilnya Teungku T. Mahmud bin T. Ahmad, berasal dari Lhoknga. Setelah menjadi alim besar yang rasikh ilmunya, masyarakat Blangpidie dan sekitarnya mengenal beliau  dengan sebutan Abu Syech Mud. Abu Syekh Mud diperkirakan lahir sekitar tahun 1899. Beliau masih keturunan Teuku dan Ulee Balang kawasan Lhoknga Aceh Besar dan menikah ke Lamlhom, masih di kawasan yang sama. 

Mengawali pengembaraan ilmunya, semenjak kecil Abu Syech Mud telah mulai belajar agama di desanya, disertai pelajaran umum di sekolah yang dikhususkan kepada anak-anak bangsawan ketika itu. 

Setelah beberapa tahun belajar di desanya, Abu Syech Mud kemudian memperdalam keilmuannya ke Dayah Abu Hasan Kruengkalee di Siem tahun 1916, setelah tibanya Abu Kruengkalee dari Mekkah di mana sebelumnya Abu Kruengkalee mengabdi beberapa tahun di Lembaga Pendidikan Teungku Chik Muhammad Arsyad di Yan temannya Teungku Chik Oemar Diyan dan Abu Kruengkalee menikah di sana. 

Hampir lima tahun dengan segenap kesungguhan dan ketekunan Abu Syech Mud belajar, sehingga beliau sudah dianggap sebagai ulama muda yang mendalam ilmunya dan mampu menguasai kitab-kitab besar dalam Mazhab Syafi’i. 

Namun Abu Syech Mud masih merasa minim ilmunya, sehingga beliau berangkat ke Yan Keudah menumpang dengan kapal pelajar yang diberangkatkan ke Batavia. 

Selama belajar di Yan Malaysia dengan para Teungku Chik, banyak keluarga Aceh yang berkesan dengan keluhuran budi dan keilmuan mendalam Abu Syech Mud, sehingga beliau dijadikan ‘anak angkat’ oleh mereka. 

Setelah menamatkan pendidikan di Yan, Teungku Syekh T Mahmud kemudian dikirim ke Blangpidie atas permintaan Teuku Sabi, Ulee Balang kawasan Blangpidie, di mana sebelumnya yang menjadi pemimpin agama di Abdya adalah Teungku Muhammad Yunus Lhoong atau Teungku di Lhoong utusan PUSA yang kemudian dikembalikan ke Kuta Raja Banda Aceh setelah peristiwa Penyerangan Tangsie Belanda dan Syahidnya Teungku Peukan dan pengikutnya pada tahun 1926. 

Tibalah Teungku Syekh Mahmud untuk menjadi Guru bagi seluruh masyarakat Blangpidie dan sekitarnya pada tahun 1927. Sedangkan di Labuhan Haji telah datang sebelum beliau Teungku Syekh Muhammad Ali atau Abu Ali Lampisang sekitar tahun 1924 dan membangun lembaga pendidikan Jam’iyatul Khairiyah. Mulailah Teungku Syekh Mud mendirikan Dayah beliau dengan nama Bustanul Huda (Kebun Petunjuk) yang berada di seputaran Mesjid Jamik Baitul ‘Adhim Blangpidie. 

Terhitung mulai tahun 1928 beliau memimpin dan mengayomi masyarakat Blangpidie sampai hari terakhir wafatnya yaitu tahun 1966 beliau memimpin Dayah Bustanul Huda, dan telah banyak melahirkan kader ulama terpandang yang melanjutkan estafet keilmuan dan keulamaannya. 

Di antara sekian banyak murid Abu Syech Mud adalah: Teungku Syekh Muhammad Waly al-Khalidi, Teungku Syekh Muhammad Arsyad atau Abu Calang, Teungku Syekh Jailani Kota Fajar, Teungku Syekh Abdul Hamid Kamal yang kemudian menjadi menantu dan melanjutkan kepemimpinan Dayah, Teungku Syekh Adnan Mahmud Bakongan, Teungku Syekh Bilal Yatim Suak, Teungku Syekh Imam Syamsuddin Sangkalan, Abu Ibrahim Woyla, Abu Ghafar Lhoknga dan banyak ulama lainya yang tersebar di seluruh Aceh. Bahkan Abu Syech Mud ini merupakan guru utama dari Abuya Syekh Muda Waly setelah Abuya belajar dari Abu Ali Lampisang.

Abu Syech Mud sebagaimana ditulis oleh cucunya Tgk Silman Haridhi merupakan seorang ulama yang mendalam ilmunya lagi seorang yang zuhud. Hal senada juga ditulis oleh Abuya Doktor Muhibbuddin bahwa Abu Syech Mud memposisikan dirinya sebagai seorang guru yang lebih banyak diam dan mendoakan para muridnya. 

Setelah wafatnya Abu Syech Mud, estafet Pimpinan Dayah Bustanul Huda dan Guru Ummat kemudian dilanjutkan oleh ulama lainnya yang juga murid khusus dan menantunya yaitu Teungku Syekh Abdul Hamid Kamal yang dikenal dengan Abu Haji Blangpidie. Beliau memimpin Dayah Bustanul Huda hingga tahun 1980 sampai wafatnya. Yang Kemudian dilanjutkan oleh Abu Mohd Syam Marfaly ulama teguh, tegas dan istiqamah. 

Abu Syam berangkat ke Labuhan Haji setelah sekitar tiga tahun menjadi Jama’ah tetap di Mesjid Jamik Baitul ‘Adhim Blangpidie dari tahun 1955 sampai 1958 mendengar ceramah dan pengajian dari Abu Syech Mud. Kemudian 17 tahun berikutnya Abu Syam Marfaly menimba ilmu di Darussalam yang kemudian mengantarkannya menjadi seorang ulama yang diperhitungkan. 

Ketiga Ulama tersebut telah kembali kehadirat Allah SWT. Semoga Allah terima setiap dedikasi mereka untuk ummat Nabi Muhammad SAW. 

Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Nurkhalis Muchtar, anak dari Drs H Mukhtar Jakfar dan Nurhayati binti Mahmud, lahir di Susoh, Aceh Barat Daya. Mengawali pendidikan di SD Negeri Ladang Neubok, Tsanawiyah di SMP Cotmane, lanjut ke MTsN Blangpidie. Kemudian merantau ke Banda Aceh dan bersekolah di MAS Ruhul Islam Anak Bangsa yang ketika itu masih di Lampeneurut. Setelah menyelesaikan pendidikan di MAS RIAB, berangkat ke Bekasi Jawa Barat dan belajar di STID Mohammad Natsir pada jurusan Dakwah (KPI). Setahun ia di Bekasi, kemudian pulang dan melanjutkan di UIN Ar-Raniry pada jurusan Bahasa Arab. Mendapat beasiswa ke Mesir tahun 2006 ia dan menyelesaikan Strata Satunya di Universitas Al Azhar Kairo Mesir pada tahun 2010 pada jurusan Hadits dan Ulumul Hadits. Lalu, melanjutkan ke Program Pascasarjana UIN Ar-Raniry konsentrasi Fiqih Modern dan selesai di tahun 2014 sebagai salah satu lulusan terbaik. Awal 2015 hingga akhir 2017 mengambil S3 di Universitas Bakht al-Ruda Sudan dan selesai di tanggal 10-10-2017 dalam usianya genap 31 tahun dengan nilai maksimal. Disela-sela penelitian S3, ia sempat mengenyam pendidikan di Pascasarjana IIQ Jakarta selama setahun pada kajian Al Qur'an dan Hadits. Pernah juga mengenyam pendidikan di beberapa pesantren, di antaranya adalah: Rumoh Beut Wa Safwan, Pesantren Nurul Fata dan Babul Huda Ladang Neubok, Dayah Mudi Cotmane, ketiganya masih di wilayah Aceh Barat Daya. Sambil mengikuti kuliah di Banda Aceh pada jenjang S2, ia sering mengikuti pengajian pagi di Dayah Ulee Titi, dan pernah mondok di Dayah Madinatul Fata Banda Aceh. Selain itu juga pernah belajar dan mengajar di Dayah Terpadu Daruzzahidin Lamceu dan Dayah Raudhatul Qur'an Tungkob Aceh Besar. Lalu, mendarmabaktikan ilmunya sebagai dosen dan pengajar di kampus negeri dan swasta, serta sebagai ustad di majelis-majelis taklim yang diasuhnya dalam pengajian TAFITAS Aceh, dan ia juga tercatat sebagai Ketua STAI al-Washliyah Banda Aceh,terhitung 2018-2022. Juga mulai berdakwah melalui tulisan, dan telah terbit beberapa tulisannya dalam bentuk buku dan karya ilmiyah lainnya. Salah satu buku yang ditulisnya adalah Membumikan Fatwa Ulama.  

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Artikel terbaru untuk dibaca

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist