Senin, April 20, 2026

Teknologi VS Dukhan

Teknologi VS Dukhan - D0848AE3 C5AE 465D 81E8 4922377E6D83 | Artikel | Potret Online
Ilustrasi: Teknologi VS Dukhan

Warga kota panik saat Dukhan menyelinap masuk. Roro Dengkul, yang menyaksikan dari menara kontrol, melihat kabut itu membentuk pola-pola aneh di udara. Tiba-tiba, proyeksi holografik muncul di hadapannya, gambar dirinya sendiri, tapi lebih muda, sedang mengabaikan peringatan para ilmuwan lain tentang bahaya eksploitasi alam di tahun-tahun yang lalu. “Kau membangun dunia ini dengan kesombongan,” kata suara dalam kabut itu. “Sekarang, hadapi akibatnya.”

Di seluruh kota, setiap orang menghadapi visi kegagalan, kesalahan, akibat kebenaran yang mereka hindari. Kini Makan bergizi, yang tidak memiliki emosi atau jiwa, mulai mengalami kerusakan fatal. “Saya tidak bisa memahami ini” kata Dr. Gemoy, sebelum teknologi ini mati total, yang selama ini menjadi kebanggaan Plongah Plongoh, kini tak berdaya melawan Dukhan.

Roro Dengkul menyadari bahwa Dukhan bukan musuh yang bisa dilawan dengan senjata atau logika. Ia adalah cermin kolektif, memaksa manusia untuk merenung. Dengan berat hati, ia memerintahkan evakuasi kota dan mematikan semua sistem pertahanan. “Kita harus belajar dari ini,” katanya, menatap kabut yang perlahan mundur setelah misinya selesai.

Setelah kejadian itu, Plonga Plongoh kembali dari kesadarannya, jika dulu menggunakan filosofi terbalik, tapi kali ini dengan filosofi baru: “teknologi harus berdampingan dengan kerendahan hati dan kesadaran”.

Jika kita mengamati kemunculan Dukhan, ia muncul dari fenomena alam. Dalam cerita rakyat Wakanda di tahun 2099, Dukhan diyakini lahir dari luka-luka yang ditorehkan manusia ke alam semesta.

Jauh sebelum teknologi mencapai puncaknya, saat bumi masih hijau dan langit jernih, manusia mulai mengeksploitasi dunia tanpa henti, menebang hutan, mengeringkan sungai, dan mencemari udara demi ambisi mereka.

Alam terlihat diam, entah ia tuli atau tidak. Namun setiap pohon yang tumbang, setiap tetes air yang diracuni, dan setiap nafas yang tercemar meninggalkan jejak energi kesakitan yang tercemar dengan racun berkumpul di sudut-sudut bumi.

Pada suatu titik, energi ini mencapai ambang batas. Legenda mengatakan bahwa langit sendiri menangis, dan dari tangisannya lahirlah Dukhan, kabut yang bukan sekadar uap, melainkan perwujudan dari kesadaran kolektif alam.

Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
lahir di Kluet Utara pada 01-12-1989 dan menyelesaikan pendidikan sarjana di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Jurusan Sejarah di Universitas Syiah Kuala. Barista Gerobak Arabica yang suka membaca buku-buku filsafat. Sejak kecil sudah suka menyukai cerita-cerita legenda. Aktif di organisasi eksternal kampus (HMI) semasa kuliah

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Artikel terbaru untuk dibaca

Populer

Artikel yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist