Dengarkan Artikel
“Ya!!!ya!! ya!!”
H. Insani sebagai tokoh deretan gang sekitar sini memang mengetahui cerita tentang pembakaran pencuri ampli masjid setengah tahun lalu. Mungkin dari perbuatan itu emosi kerap meledak pada sebagian warga jika mendapatkan kabar tentang penangkapan seorang pencuri.
Dengan wajah biru bengkak dan kucuran darah mencuat dari lubang hidung dan mulutnya Arsakha menukas lemah.
“Luar biasa kalian. Luar biasa??” suara Arsakha terengah-engah. “Inilah karakter kita. Sungguh hina diri kalian dibanding seorang pelacur!”
“Ooohhh mulutmu!!!” teriak satu pemuda gamis dengan sepakan.
Bukk!!!! Mendarat ke uluh hati Arsakha. Dia tersungkur memegang dada lalu tampak memuntahkan sari makanan bercampur darah.
H. Insani masih menenangkan dengan siaga terhadap colongan serangan.
“Kumohon Ji. Jangan lindungi dia. Sudah jelas buktinya iblis satu ini memang maling!!!”
📚 Artikel Terkait
“Tak berhak kita bicara begitu Sofyan!!! Istighfar!! ” tangan H. Insani mencengkram pundak salah satu muridnya itu. “Aku tak ajarkan kesombongan!”
“Tapi jalanan penuh dengan ketegasan! Budaya itulah yang berlaku sekarang.”
Masih merasa pusing dan mual, Arsakha mencoba untuk kembali duduk. Dari gerai rambut keriting gondrongnya, seutas senyum mengalir merah berpoles darah.
“Lihat gerandong ini!!! Masih tersenyum. Tampang penduduk neraka!!” lanjut Sofyan geram.
“Dia gila menjelang ajal. Itu karmanya!” sergah seorang warga lain..
Sofyan yang sangat geram berapi-api lalu melanjutkan:
“Jika kita biarkan yang seperti ini, Ji. Kita yang akan lemah terhadap penjahat”
“Aku tak setuju. Aku akan bawa dia ke kantor polisi. Ini sandalku. Urusanku! Kalian pulang!”
H. Insani berjalan ke arah Arsakha. Tapi tubuhnya dicegah Sofyan. Hingga satu pekikan muncul disusul pekikan lainnya.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





