POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Muntah Oleh Borok Korupsi

oknum jaksa terima suap sampai 11,5 miliar

Rosadi JamaniOleh Rosadi Jamani
March 4, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Banyak permintaan follower, bang tulis ini, dong, tulis itu dong. Namun, kali ini saya abaikan. Ini menyangkut wajah wilayah saya, Kalbar. Berani-beraninya oknum jaksa terima suap sampai 11,5 miliar. Walau lapar dan haus, yok kita injak-injak harga dirinya, geram dah, kate budak Pontianak.

Kita hidup di negeri yang korupsinya tak sekadar penyakit, ini sudah jadi budaya, jadi agama baru bagi mereka yang rakus. Pejabat, aparat, penegak hukum, mereka bukan lagi abdi negara, melainkan algojo yang membantai harapan rakyat dengan rakusnya.

Lihatlah, belum kering ludah kita mengecam megakorupsi Rp 968,5 triliun di Pertamina, sekarang muncul lagi berita busuk, seorang jaksa, si mulia penegak hukum, malah ikut menilap uang barang bukti! Namanya Azam Akhmad Akhsya, Kasi Intel Kejari Landak, Kalbar. Oh, sungguh nama yang akan diingat dengan jijik! Bukannya menangkap maling, dia malah ikut menggali kubangan najis yang sama. Dengan tenang, dia memasukkan Rp 11,5 miliar ke kantongnya, uang yang seharusnya kembali kepada korban!

Ia ditangkap oleh kawannya sendiri, Kejati Jakarta, akhir Februari lalu, dan baru diberitakan hari ini. Landak tercoreng oleh aparat hukum sendiri. Di sinilah saya dulu lama bertugas, bukan sebagai aparat sih. Sebagai kuli tinta.

Memikirkan ini saja sudah membuat darah mendidih. Di mana harga dirinya? Di mana sumpahnya? Ah, sumpah jabatan itu rupanya hanya seremonial. Lihat betapa rendahnya moral pejabat kita! Mereka bukan manusia biasa, mereka itu predator! Mengintai, menunggu kesempatan, dan ketika ada celah, mereka menerkam, mencabik-cabik uang rakyat seperti hyena mlapar.

Kita? Kita ini apa? Sekadar sapi perah. Dipajaki, diperas, dipaksa tunduk pada aturan yang katanya dibuat demi keadilan. Tapi keadilan macam apa yang mereka jual ini? Kejaksaan yang seharusnya jadi benteng hukum, malah jadi sarang penyamun. Bukannya membasmi kejahatan, mereka malah berbisnis dengan koruptor. Memainkan hukum seperti judi di kasino. Menentukan siapa yang bisa “dibantu,” siapa yang harus jadi korban.

📚 Artikel Terkait

Haus Buku (Di) Era AI

Mengenang Peristiwa G30S/ PKI

Puisi-Puisi Delia Rawanita

KUKU PANJANGKU

Lebih menjijikkan lagi, mereka ini hidup dari uang rakyat. Mereka makan dari pajak kita, gaji mereka dari keringat buruh, petani, nelayan, guru. Tapi lihatlah gaya hidup mereka, mobil mewah, rumah megah, liburan ke luar negeri. Mungkin saat kita makan nasi dengan lauk sederhana, mereka bersulang anggur mahal sambil mentertawakan kebodohan rakyat.

Sialnya, sistem ini sudah seperti rantai setan. Hari ini satu ditangkap, besok akan muncul sepuluh yang baru. Mereka tak takut! Mengapa harus takut? Hukum di negeri ini tumpul ke atas, tajam ke bawah. Curi sandal, masuk penjara bertahun-tahun. Tapi korupsi miliaran? Ah, palingan dipenjara sebentar, dapat remisi, lalu keluar dengan senyum lebar. Bahkan ada yang setelah bebas, malah kembali duduk di kursi kekuasaan.

Negeri ini sudah seperti kapal yang dilubangi dari dalam oleh tikus-tikus rakus. Perlahan tenggelam, tapi mereka tetap pesta pora di atasnya. Kita, yang berteriak meminta keadilan, dianggap angin lalu. Seakan-akan kita ini sekadar figuran dalam drama busuk mereka.

Kita muak. Kita marah. Tapi kemarahan saja tidak cukup. Karena selama kita diam, mereka akan terus berpesta. Selama kita pasrah, mereka akan terus mencuri. Dan selama sistem ini dibiarkan, tidak ada yang akan berubah.

Sudah cukup! Hentikan pesta bangsat ini! Siksa mereka, buat mereka takut. Bukan sekadar penjara, tapi buat mereka merasakan apa yang telah mereka lakukan terhadap rakyat. Kalau hukum tak bisa bertindak tegas, maka rakyat yang harus bertindak!

Cukup sudah! Koruptor tidak boleh lagi dibiarkan hidup nyaman. Jangan beri mereka ruang, jangan beri mereka belas kasihan. Karena mereka tak pernah punya belas kasihan terhadap kita.

Ini bukan lagi sekadar kasus hukum. Ini pertaruhan martabat bangsa! Belum cukupkah juara 2, mau juara 1? Biar lebih keren gitu. Ampun dah. Baru kali ini saya gregetan nulis saking emosinya. Untung puasa masih bisa nahan kopi.

Camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 74x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 74x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 61x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 58x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 53x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya
Tadarus di Bawah Cahaya Lampu Masjid

Tadarus di Bawah Cahaya Lampu Masjid

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00