• Latest
Muntah Oleh Borok Korupsi - IMG 20250304 WA0006 | # Koruptor | Potret Online

Muntah Oleh Borok Korupsi

Maret 4, 2025
9fdb3c1c-1879-4f8c-9aa8-02113678bceb

Warisan Musik Aceh dari Gampong Padang Manggeng

April 21, 2026
Ilustrasi siluet pasangan dengan hati retak melambangkan cemburu, konflik emosional, dan hubungan yang rapuh

Cemburu Membunuh Perempuan

April 21, 2026
Muntah Oleh Borok Korupsi - 1001348646_11zon | # Koruptor | Potret Online

Kisah Perempuan – Lubna dari Córdoba

April 21, 2026
Muntah Oleh Borok Korupsi - 1001353319_11zon | # Koruptor | Potret Online

Fatimah al-Fihri, Pendiri Universitas Tertua

April 21, 2026
3753a9dd-0c43-46a6-9577-711a7479d4d5

Misogini Genital (Di) Kartini Digital

April 21, 2026
IMG_0878

Perempuan di Titik Klimaks

April 21, 2026
Muntah Oleh Borok Korupsi - 1001361361_11zon | # Koruptor | Potret Online

Kisah Perempuan POTRET – Zaynab bint al-Kamal

April 21, 2026
d2a5b58f-c424-41eb-91dc-d0a057017eda

Menguak Kenangan Orkes Mekar Melati Manggeng dan Para Musisi Muda

April 21, 2026
Rabu, April 22, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Muntah Oleh Borok Korupsi

oknum jaksa terima suap sampai 11,5 miliar

Rosadi Jamani by Rosadi Jamani
Maret 4, 2025
in # Koruptor, #Kriminal, #Kritik, Essay
Reading Time: 3 mins read
0
Muntah Oleh Borok Korupsi - IMG 20250304 WA0006 | # Koruptor | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh Rosadi Jamani

Banyak permintaan follower, bang tulis ini, dong, tulis itu dong. Namun, kali ini saya abaikan. Ini menyangkut wajah wilayah saya, Kalbar. Berani-beraninya oknum jaksa terima suap sampai 11,5 miliar. Walau lapar dan haus, yok kita injak-injak harga dirinya, geram dah, kate budak Pontianak.

Kita hidup di negeri yang korupsinya tak sekadar penyakit, ini sudah jadi budaya, jadi agama baru bagi mereka yang rakus. Pejabat, aparat, penegak hukum, mereka bukan lagi abdi negara, melainkan algojo yang membantai harapan rakyat dengan rakusnya.

Baca Juga
  • ALAS KEMLAGI 2
  • Gaya Koruptor Sorong Beda dengan Indonesia Barat

Lihatlah, belum kering ludah kita mengecam megakorupsi Rp 968,5 triliun di Pertamina, sekarang muncul lagi berita busuk, seorang jaksa, si mulia penegak hukum, malah ikut menilap uang barang bukti! Namanya Azam Akhmad Akhsya, Kasi Intel Kejari Landak, Kalbar. Oh, sungguh nama yang akan diingat dengan jijik! Bukannya menangkap maling, dia malah ikut menggali kubangan najis yang sama. Dengan tenang, dia memasukkan Rp 11,5 miliar ke kantongnya, uang yang seharusnya kembali kepada korban!

Ia ditangkap oleh kawannya sendiri, Kejati Jakarta, akhir Februari lalu, dan baru diberitakan hari ini. Landak tercoreng oleh aparat hukum sendiri. Di sinilah saya dulu lama bertugas, bukan sebagai aparat sih. Sebagai kuli tinta.

Baca Juga
  • Pemancing Ikan: Optimisme, Kesabaran dan Iman
  • 🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

Memikirkan ini saja sudah membuat darah mendidih. Di mana harga dirinya? Di mana sumpahnya? Ah, sumpah jabatan itu rupanya hanya seremonial. Lihat betapa rendahnya moral pejabat kita! Mereka bukan manusia biasa, mereka itu predator! Mengintai, menunggu kesempatan, dan ketika ada celah, mereka menerkam, mencabik-cabik uang rakyat seperti hyena mlapar.

Kita? Kita ini apa? Sekadar sapi perah. Dipajaki, diperas, dipaksa tunduk pada aturan yang katanya dibuat demi keadilan. Tapi keadilan macam apa yang mereka jual ini? Kejaksaan yang seharusnya jadi benteng hukum, malah jadi sarang penyamun. Bukannya membasmi kejahatan, mereka malah berbisnis dengan koruptor. Memainkan hukum seperti judi di kasino. Menentukan siapa yang bisa “dibantu,” siapa yang harus jadi korban.

Baca Juga
  • Ketika Orang Bodoh Jadi Ahli Negara
  • Mengenal Dwi Wahyudi, Jenius Finansial Tersandung 11,7 T

Lebih menjijikkan lagi, mereka ini hidup dari uang rakyat. Mereka makan dari pajak kita, gaji mereka dari keringat buruh, petani, nelayan, guru. Tapi lihatlah gaya hidup mereka, mobil mewah, rumah megah, liburan ke luar negeri. Mungkin saat kita makan nasi dengan lauk sederhana, mereka bersulang anggur mahal sambil mentertawakan kebodohan rakyat.

Sialnya, sistem ini sudah seperti rantai setan. Hari ini satu ditangkap, besok akan muncul sepuluh yang baru. Mereka tak takut! Mengapa harus takut? Hukum di negeri ini tumpul ke atas, tajam ke bawah. Curi sandal, masuk penjara bertahun-tahun. Tapi korupsi miliaran? Ah, palingan dipenjara sebentar, dapat remisi, lalu keluar dengan senyum lebar. Bahkan ada yang setelah bebas, malah kembali duduk di kursi kekuasaan.

Negeri ini sudah seperti kapal yang dilubangi dari dalam oleh tikus-tikus rakus. Perlahan tenggelam, tapi mereka tetap pesta pora di atasnya. Kita, yang berteriak meminta keadilan, dianggap angin lalu. Seakan-akan kita ini sekadar figuran dalam drama busuk mereka.

Kita muak. Kita marah. Tapi kemarahan saja tidak cukup. Karena selama kita diam, mereka akan terus berpesta. Selama kita pasrah, mereka akan terus mencuri. Dan selama sistem ini dibiarkan, tidak ada yang akan berubah.

Sudah cukup! Hentikan pesta bangsat ini! Siksa mereka, buat mereka takut. Bukan sekadar penjara, tapi buat mereka merasakan apa yang telah mereka lakukan terhadap rakyat. Kalau hukum tak bisa bertindak tegas, maka rakyat yang harus bertindak!

Cukup sudah! Koruptor tidak boleh lagi dibiarkan hidup nyaman. Jangan beri mereka ruang, jangan beri mereka belas kasihan. Karena mereka tak pernah punya belas kasihan terhadap kita.

Ini bukan lagi sekadar kasus hukum. Ini pertaruhan martabat bangsa! Belum cukupkah juara 2, mau juara 1? Biar lebih keren gitu. Ampun dah. Baru kali ini saya gregetan nulis saking emosinya. Untung puasa masih bisa nahan kopi.

Camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Share234SendTweet146Share
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Ketua Satupena Kalbar

Next Post
Muntah Oleh Borok Korupsi - 4c2eba17 0085 43cb 906e 0fd130bcecc8 | # Koruptor | Potret Online

Tadarus di Bawah Cahaya Lampu Masjid

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com