• Latest
Ziarah Asam Pedas Menuju Kebahagiaan Hakiki - 2025 05 11 15 44 23 | Essay | Potret Online

Ziarah Asam Pedas Menuju Kebahagiaan Hakiki

Mei 11, 2025
Ziarah Asam Pedas Menuju Kebahagiaan Hakiki - 1001353319_11zon | Essay | Potret Online

Fatimah al-Fihri, Pendiri Universitas Tertua

April 21, 2026
3753a9dd-0c43-46a6-9577-711a7479d4d5

Misogini Genital (Di) Kartini Digital

April 21, 2026
IMG_0878

Perempuan di Titik Klimaks

April 21, 2026
Ziarah Asam Pedas Menuju Kebahagiaan Hakiki - 1001361361_11zon | Essay | Potret Online

Kisah Perempuan POTRET – Zaynab bint al-Kamal

April 21, 2026
d2a5b58f-c424-41eb-91dc-d0a057017eda

Menguak Kenangan Orkes Mekar Melati Manggeng dan Para Musisi Muda

April 21, 2026
de2293cc-7c03-4d26-8a68-a4db3f4d65b4

Sinergi Fiskal Syariah: Navigasi Zakat Perdagangan di Era Mata Uang Modern

April 21, 2026
4fb2b103-7d0d-484c-ba9b-02ec8de8ff7a

Perempuan Hebat, Perjuangan Tak Terlihat: Refleksi Hari Kartini dalam Cahaya Islam

April 21, 2026
819dc996-4ffe-43e0-a861-db43521da05d

Dr. Damanhur Yusuf Abbas: The Living Reference tentang Syariat Islam di Kota Lhokseumawe

April 21, 2026
Selasa, April 21, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Ziarah Asam Pedas Menuju Kebahagiaan Hakiki

Redaksi by Redaksi
Mei 11, 2025
in Essay, Kuliner
Reading Time: 2 mins read
0
Ziarah Asam Pedas Menuju Kebahagiaan Hakiki - 2025 05 11 15 44 23 | Essay | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh Rosadi Jamani

Tiga hari libur. Sebuah momen langka yang lebih langka dari senyuman tulus dari debt collector. Ini saatnya liburan. Bagi yang suka julid, baper akut, iri kronis, dan alergi terhadap kebahagiaan orang lain, liburan wak. Percayalah, liburan bukan hanya kebutuhan jasmani, tapi juga eksorsisme jiwa. Biar otak di-reset. Biar aura dendam kesumat itu bisa kembali netral seperti air cucian beras.

Maka kami sekeluarga melakukan ziarah kuliner dan kontemplasi eksistensial ke tempat suci bernama Tanjung Bajau, Singkawang. Sebuah destinasi wisata yang katanya bisa menyembuhkan luka batin hanya dengan duduk memandangi batu-batu pasrah di tepi pantai. Tapi, tentu saja, sebelum sampai ke puncak pencerahan spiritual itu, kami harus melewati ritual perut, yang sering diabaikan orang-orang modern yang terlalu percaya kopi bisa menggantikan makan siang.

Baca Juga
  • Dari Alumni SMANSA Bima, NTB, untuk Saudara Kami di Aceh: Ketika Empati Menemukan Jalannya
  • Nilai Filisofis dan Sosiologis Sambel Tempoyak Dalam Tradisi Makan Suku Bangsa Lampung

Kami mampir di sebuah tempat sakral, dulu namanya Kafe Galaherang, sekarang bersolek menjadi Bandar Mempawah. Jangan tertipu oleh namanya yang terdengar seperti pelabuhan penyelundupan cinta, karena di sinilah kenikmatan hakiki dan kedamaian semesta disajikan dalam bentuk ikan berkuah merah.

Saya, seorang peziarah kuliner yang tidak gampang tergoda oleh gimmick promo ShopeeFood, langsung memesan ikan asam pedas Senangin. Ini bukan sembarang ikan. Ini Senangin, ikan yang tampaknya mati dengan ikhlas demi menyatukan umat manusia lewat citarasa. Saat kuah asamnya menyentuh lidah, saya mendadak tercerahkan, inilah esensi hidup, asam, pedas, dan penuh duri, tapi tetap bisa dinikmati jika dimasak dengan cinta.

Baca Juga
  • RONA POLITIK DAN DEMOKRASI KITA
  • Hidup adalah Pilihan

Lalu datanglah bala bantuan, pakis (miding) tumbuhan hutan yang dipanen dengan air mata harapan. Disusul telur dadar, simbol kesetiaan rumah tangga, dan sambal udang, pemantik api cinta di dalam perut. Semuanya bersatu padu, menciptakan simfoni rasa yang membuat saya ingin mendeklarasikan perdamaian dunia di atas meja makan.

Dalam keheningan penuh kunyahan, saya sadar satu hal penting,
perut yang damai melahirkan jiwa yang waras.
Perut lapar? Jangan salahkan kalau tiba-tiba kamu debat kusir di kolom komentar Instagram artis.
Perut kenyang? Bahkan mantan pun terasa bisa dimaafkan.

Baca Juga
  • Petualangan
  • Seni Konseling

Setelah ritual makan dan istirahat yang hampir menyerupai retret rohani itu, kami pun melanjutkan perjalanan. Menuju Tanjung Bajau, bukan lagi sebagai wisatawan biasa, tapi sebagai manusia baru yang sudah bertobat lewat asam pedas.

Saya pun berjanji dalam hati, jika dunia ingin damai, beri setiap pemimpin se-mangkuk ikan asam pedas.
Minimal, biar mereka diam sejenak, ngunyah dulu sebelum ngumbar amarah.

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

Share234SendTweet146Share
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Next Post
Ziarah Asam Pedas Menuju Kebahagiaan Hakiki - 1000574930_11zon | Essay | Potret Online

Pemimpin yang Lupa Menjadi Manusia

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com