POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home Essay

Kisah Sepotong Kain Selendang Batik

Redaksi by Redaksi
Oktober 14, 2025
in Essay
0
Kisah Sepotong Kain Selendang Batik - 1000967967_11zon | Essay | Potret Online

Oleh Endah wr

Sepotong kain batik usang alas setrika punya cerita
Sepotong kain yang sebelumnya selalu tersampir di pundak seorang perempuan muda hadiah dari ibu mertuanya
menggendong banyak cerita warna warni sang ibu dan anak-anaknya

Kain seledang batik yang dulu terlipat rapi di meja kamar, bersanding bersama popok dan minyak telon menjadi saksi perempuan itu selama selama 9 bulan
bagaimana dia tak pernah bosan menghitung hari, memintal sabar dan kekuatan agar kelak jabang bayi pertama dalam kandungannya terlahir sehat
Di setiap senja berganti fajar tendangan dan geliat mahluk mungil dalam rahim perempuan itu makin nakal
Tangan kirinya mengusap lembut perut agar mahluk mungil di dalamnya tenang, tangan kanannya sibuk menggulirkan butiran tasbih hingga selesai maghrib
menunggu datang waktu Isya adalah waktu yang di nikmatinya untuk melupakan letihnya hari
Selesai Isya perempuan yang kelak di panggil ibu ini memejamkan mata berharap
Allah menghadirkan mimpi indah
… tentang hadirnya anak soleh dan solehah yang akan memecah hening dan sunyi rumah mungilnya

Baca Juga
  • Kisah Sepotong Kain Selendang Batik - 2025 07 16 17 11 10 | Essay | Potret Online
    Artikel
    Makna Kebaikan Sejati dan Ukhuwah Islamiyah/Basyariyah
    16 Jul 2025
  • 02
    Essay
    Takdir Cinta
    07 Jul 2022


Anak kedua, ketiga, ke empat ……menyusul hadir, kerja paling sibuk si selendang batik
Meredakan tangisan, meninak bobokan bocah-bocah yang menangis dan gelisah tanpa sebab di tengah malam
Menghangatkan dinginnya pagi, meneduhkan terik siang hari dan heningnya malam bulat menyatu saat kain batik ini menjadi selimut wajah mungil yang terlelap
Kain batik di temani tangan ibu muda yang menepuk-nepuk bokong mungil agar tidak terjaga dalam lelapnya

Jejak2 mungil, jeritan, tingkah polah polos dan centang perenangnya perabot mengisi tiap sudut rumah menjadi keseharian si ibu
Harinya penuh tawa kecil, tersenyum geli adalah juga hiburan di kala kerjanya seharian tak di hargai
Letihnya ternyata tidak selalu di anggap berharga oleh bapak si bocil
Menegaskan bahwa menjadi seorang ibu adalah tanggung jawab bukan pilihan
Dan pernikahan berjalan tidak melulu tentang asmara

Baca Juga
  • Kisah Sepotong Kain Selendang Batik - 6FFB03DE 5D22 4678 90C2 CC5F5D0532FA | Essay | Potret Online
    Berbagi
    KETIKA MINYAK GORENG MENGGORENG PEMERINTAH DAN RAKYAT INDONESIA
    25 Mar 2022
  • 02
    Artikel
    RIZAL RAMLI DALAM KENANGAN
    03 Jan 2024

Seiring rambut perempuan itu mulai memutih,dari meja setrika, selendang batik melihat sesekali perempuan ini meneteskan air mata
keras kepala anak-anak yang tidak lagi bocah ini melawan patuh
… mengusik istiqomahnya, membuat giginya menyatu rapat, geram menahan amarah
Bocah-bocah mungil itu dan ibu kini adalah manusia dewasa yang punya banyak pandangan berbeda
Perempuan itu hanya mampu kembali khusuk pada doanya, agar amarahnya tak terlontar keluar dari mulutnya
Agar ALLAH tidak murka pada buah hatinya
Mereka adalah harta terbesar ibu untuk bisa masuk syurga dari pintu mana saja yang dia pilih
Maafkan anak-anakku ya ALLAH, karena aku yang salah mendidik, kepalanya sujud khusuk dalam sejadah
Seorang Ibu yakin, bahwa dia tak selalu benar, ALLAH maha pengampun dan doa selalu mampu membuat jalan menembus langit untuk melembutkan sekeras-kerasnya hati yang kilaf


Kain batik yang hanya tinggal sebagian, kini tertata rapi sebagai alas setrika bertindihan dengan selimut usang
Merasakan kesepian si ibu
Rumah yang dulu hiruk pikuk dengan lalu lalang buah hatinya di dapur dengan pertanyaan berkali-kali
“makan apa hari ini”
“masak apa ibu hari ini”
“ ada cemilan apa hari ini”
Kini tidak ada lagi
Pertanyaan yang dulu membuat kepala seorang ibu berdenyut-denyut ketika hidangan harus selalu siap di meja sementara gaji bulanan dari bapak mereka sudah habis

Baca Juga
  • Kisah Sepotong Kain Selendang Batik - IMG 20250610 WA0001 | Essay | Potret Online
    Artikel
    Membangun Kesadaran Biopori Buatan dan Biopori Alami
    10 Jun 2025
  • Kisah Sepotong Kain Selendang Batik - IMG 20250806 WA0002 | Essay | Potret Online
    Essay
    Yang Berhasil Dijalani, Tak Pernah ia Rencanakan
    10 Agu 2025

Kini bocah-bocah mungil itu sudah mandiri
Rumah ibu kembali sunyi dan hening seperti saat kain batik masih terlipat rapi di meja kamar besama lipatan popok dan botol minyak telon
Selendang batik itu kini menyaksikan ibu dengan langkah perlahan menuju teras menyapa mentari pagi
Ke dapur menghangatkan makanan, membuat kopi dan ke kamar mandi berkali-kali
Sesekali kini, perempuan itu duduk diam lama, meski matanya menatap layar kaca televisi
Seledang itu tahu, dalam diam hatinya pasti sedang gundah memedam rindu
Rindu hp nya berbunyi, dan mendengar suara di seberang sana
“Assalamualaikum bu, ibu sehat ?”
“ waalaikum salam, bagaimana keadaanmu nak, sehat kan?”

Kain selendang batik itu memang sudah waktunya usang karena memang tugasnya sudah selesai
Tetapi ibu masih ada
Kain batik hanya saksi bahwa seorang ibu tidak pernah purna tugas sebelum ALLAH memanggil
Meski tak pernah di minta, ibu tak pernah berhenti mendoakan anak-anaknya
Doa yang membuat urusan dunia dan akherat buah hatinya di beri kemudahan oleh ALLAH
Doa seorang ibu mampu membuat hal mustahil menjadi kenyataan
doa yang membuat ALLAH bersedia membuat keajaiban dan mengabulkan keberuntungan untuk buah hatinya
Doa ibu seperti doa rasulullah untuk umatnya, langsung menembus langit
Selendang batik mengirimkan pesan pada anak-anak yang masih memiliki ibu
Luangkan waktu untuk menyapa jangan menunggu waktu luang, karena waktu tak akan bisa terulang

Endah wr
Revisi, Bandung 30 Mei 2020-

14-Oktober 2025
Catatan di antara kopi dan jajanan pasar

Previous Post

Gitu Aja Kok Ribut: Kepemimpinan dari Pesantren dan Surau

Next Post

Di Jalan Pulang

Next Post
Kisah Sepotong Kain Selendang Batik - ee438e74 f736 4756 8ffe 13d438513ec5 | Essay | Potret Online

Di Jalan Pulang

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah