POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home Catatan Perjalanan Jalan-jalan

Tas Lebaran

Dahlan Iskan by Dahlan Iskan
April 1, 2025
in Jalan-jalan
0
Tas Lebaran - 1000471053_11zon | Jalan-jalan | Potret Online


Oleh: Dahlan Iskan

Selasa 01-04-2025

(Foto bersama cucu di depan tambak yang ada di kompleks PLTU di Lombok Timur)

Baca Juga
  • Tas Lebaran - b6d966ec f1b5 497c a52d 9e95d4120ef4 | Jalan-jalan | Potret Online
    Jalan-jalan
    Mengenal Kampung Pembuat Senjata Ilegal, Darra Adam Khel
    01 Apr 2025
  • 02
    Jalan-jalan
    Kuliner Khas Aceh Terpopular dan Lezat
    11 Nov 2022

Suara takbir dari kampung sebelah itu terdengar sayup.

Ini Lombok Timur. Hujan menggutus di malam lebaran. Sudah lama. Sejak lepas tengah hari. Sejak saya merapat di dermaga Kayangan –baru tiba dari Pulau Moyo.

Baca Juga
  • 01
    Jalan-jalan
    🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH
    03 Apr 2025
  • Tas Lebaran - IMG 20250219 WA0003 | Jalan-jalan | Potret Online
    Jalan-jalan
    Ujung Gading, Bana Park, Air Terjun Sipagogo dan Bendungan Lubuk King
    19 Feb 2025

(Balik dari Pulau Moyo)

Pun sampai menjelang berbuka puasa, hujan belum berhenti. Lombok Timur sangat basah. Azan magrib terasa lebih lambat datang. Penantian saat berbuka terasa lebih lama.

Baca Juga
  • C2BA8137-6176-4960-91AB-9D2828AF285F_11zon
    Pendidikan
    Program Peduli SDIT Muhammadiyah Manggeng,
    09 Feb 2022
  • 02
    Jalan-jalan
    HABA Si PATok
    04 Apr 2025

Ikan bakar di atas panggangan itu terasa mengejek kami yang sudah lama menanti. Ejekannya terasa kejam. Ikan itu terlalu besar. Mulutnya menganga –bisa dimasuki bola tenis. Aroma bakarnya kian membuat perut melilit: ikan kerapu. Belum pernah melihat kerapu sebesar ini. Kerapu segar. Seberat 12 kg.

“Dari mana kerapu raksasa ini,” tanya saya.

“Dari situ,” jawabnya sambil menunjuk laut di sebelah tempat saya menginap ini. “Tadi mancing di sana,” tambahnya.

Hari pertama tiba di Lombok Timur kami berbuka dengan udang hasil menjala sendiri.

Keesokannya berbuka dengan sayur sepat khas Pulau Moyo. Makan sahur terakhir pun di Pulau Moyo. Lalu, di hari terakhir menjelang lebaran ini ganti menu kerapu di Lombok Timur.

Kerapu bakar. Kuluban daun pepaya. Sambal terasi campur tomat dan lemon cui. Dengan menu berbuka seperti ini rasanya puasa janganlah cepat berlalu. Nikmat yang mana lagi yang bisa dinanti.

(Menu berbuka di puasa Ramadan terakhir tahun ini: kerapu bakar)

Di malam lebaran ini takbir terasa jauh –sayup-sayup tercampur bunyi hujan di pepohonan kelapa. Sampai menjelang tengah malam pun hujan belum berhenti. Tapi idul fitri mestinya tetap jadi.

Bangun subuh hujan masih renyai-renyai. Saya ke teras. Menyalakan microfon mini. Joget olahraga pagi. Disaksikan mata ikan kerapu sisa di atas pemanggangan. Saat berbuka kemarin, 12 orang di keluarga kami ternyata tidak sanggup menghabiskan setengahnya.

Suara takbir pagi mulai terdengar. Ufuk timur mulai merona menguning. Rintik hujan total berhenti. Payung tidak jadi terpakai. Seragam baru melangkah di tanah basah: ke masjid desa sebelah.

Salat idulfitrinya ternyata sama: dua rakaat. Urutannya juga sama: kutbahnya setelah salat.

(Foto bersama dengan latar belakang PLTU di Lombok Timur.)

Yang tidak sama adalah acara sungkeman keluarga. Awalnya kami berencana sungkeman di serambi depan masjid. Ingin mengulangi yang pernah kami lakukan di halaman masjid Syekh Abdul Qadir Jaelani di Baghdad.

Kami, saat itu, jadi tontotan jamaah di Baghdad. Sungkeman cara Jawa. Lalu dihampiri cucu turunan ke-27 Syekh Abdul Qadir Jailani. Diajak makan bersama di rumah beliau di komplek masjid.

Tapi masjid di kampung ini penuh sesak. Jamaah wanitanya sama banyak dengan yang laki-laki. Halaman pun terpakai. Tidak mungkin sungkeman di situ. Pindah ke tempat kami menginap. Seadanya. Halaman basah. Tempat parkir basah. Lapangan basketnya juga basah.

Bagi cucu-cucu, yang penting bukan sungkemannya: tapi nenek mereka. Terutama isi tasnyi. Lebaran bisa di mana saja, tapi tas itu harus ada.(Dahlan Iskan)

Tags: Essay
Previous Post

Menjadi Orang Tua dan Anak Yang Baik: Meneladani Kisah Luqmanul Hakim

Next Post

Perempuan dan Hari Raya Idul Fitri “Minim Sampah”

Next Post
Tas Lebaran - 91645482 61FA 4A1F 830F E4239856E1D0 | Jalan-jalan | Potret Online

Perempuan dan Hari Raya Idul Fitri "Minim Sampah"

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah