• Latest
Tas Lebaran - 1000471053_11zon | Jalan-jalan | Potret Online

Tas Lebaran

April 1, 2025
file_00000000e608720b92fed92bd3c55b54

Bahaya Rekayasa Narasi Sesat yang Menimbulkan Permusuhan

April 19, 2026
file_000000007ff0720bbf683bd905ac60ed

Surat Untuk Anak Muda (2)

April 19, 2026
54306927-8436-4237-801f-5fda46d9c8c8

Dari Aceh ke Panggung Dunia: Muslim Amin, Ilmuwan Global Alumni USK

April 19, 2026
3a73ee9a-87d0-4bf2-aa52-0c77db8a9144

Pengaruh Self-Efficacy Terhadap Prestasi Akademik: Tinjauan Psikologi dan Bukti Empiris

April 19, 2026
IMG_0839

Demokrasi Di Ujung Tanduk?

April 19, 2026
d6285489-5291-4630-bb73-f4e571585b61

‎Ghost in the Cell: Bukan Sekadar Horor Fiksi, Melainkan Realitas Pahit Ketidakadilan Sistem

April 19, 2026
fd4ef5b5-307b-48e6-adff-f924e420a87b

Mengkritik Dan Mengajak Merenung Melalui Puisi Esai

April 19, 2026
ad86b955-a8e6-412e-b371-a15c846736db

Sedih Sekali, Ibu Guru Diacungi Jari Tengah oleh Siswanya Sendiri

April 19, 2026
Minggu, April 19, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Tas Lebaran

Dahlan Iskan by Dahlan Iskan
April 1, 2025
in Jalan-jalan
Reading Time: 3 mins read
0
Tas Lebaran - 1000471053_11zon | Jalan-jalan | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS


Oleh: Dahlan Iskan

Selasa 01-04-2025

(Foto bersama cucu di depan tambak yang ada di kompleks PLTU di Lombok Timur)

Suara takbir dari kampung sebelah itu terdengar sayup.

Ini Lombok Timur. Hujan menggutus di malam lebaran. Sudah lama. Sejak lepas tengah hari. Sejak saya merapat di dermaga Kayangan –baru tiba dari Pulau Moyo.

(Balik dari Pulau Moyo)

Pun sampai menjelang berbuka puasa, hujan belum berhenti. Lombok Timur sangat basah. Azan magrib terasa lebih lambat datang. Penantian saat berbuka terasa lebih lama.

Ikan bakar di atas panggangan itu terasa mengejek kami yang sudah lama menanti. Ejekannya terasa kejam. Ikan itu terlalu besar. Mulutnya menganga –bisa dimasuki bola tenis. Aroma bakarnya kian membuat perut melilit: ikan kerapu. Belum pernah melihat kerapu sebesar ini. Kerapu segar. Seberat 12 kg.

“Dari mana kerapu raksasa ini,” tanya saya.

“Dari situ,” jawabnya sambil menunjuk laut di sebelah tempat saya menginap ini. “Tadi mancing di sana,” tambahnya.

Hari pertama tiba di Lombok Timur kami berbuka dengan udang hasil menjala sendiri.

Keesokannya berbuka dengan sayur sepat khas Pulau Moyo. Makan sahur terakhir pun di Pulau Moyo. Lalu, di hari terakhir menjelang lebaran ini ganti menu kerapu di Lombok Timur.

Kerapu bakar. Kuluban daun pepaya. Sambal terasi campur tomat dan lemon cui. Dengan menu berbuka seperti ini rasanya puasa janganlah cepat berlalu. Nikmat yang mana lagi yang bisa dinanti.

(Menu berbuka di puasa Ramadan terakhir tahun ini: kerapu bakar)

Di malam lebaran ini takbir terasa jauh –sayup-sayup tercampur bunyi hujan di pepohonan kelapa. Sampai menjelang tengah malam pun hujan belum berhenti. Tapi idul fitri mestinya tetap jadi.

Bangun subuh hujan masih renyai-renyai. Saya ke teras. Menyalakan microfon mini. Joget olahraga pagi. Disaksikan mata ikan kerapu sisa di atas pemanggangan. Saat berbuka kemarin, 12 orang di keluarga kami ternyata tidak sanggup menghabiskan setengahnya.

Suara takbir pagi mulai terdengar. Ufuk timur mulai merona menguning. Rintik hujan total berhenti. Payung tidak jadi terpakai. Seragam baru melangkah di tanah basah: ke masjid desa sebelah.

Salat idulfitrinya ternyata sama: dua rakaat. Urutannya juga sama: kutbahnya setelah salat.

(Foto bersama dengan latar belakang PLTU di Lombok Timur.)

Yang tidak sama adalah acara sungkeman keluarga. Awalnya kami berencana sungkeman di serambi depan masjid. Ingin mengulangi yang pernah kami lakukan di halaman masjid Syekh Abdul Qadir Jaelani di Baghdad.

Kami, saat itu, jadi tontotan jamaah di Baghdad. Sungkeman cara Jawa. Lalu dihampiri cucu turunan ke-27 Syekh Abdul Qadir Jailani. Diajak makan bersama di rumah beliau di komplek masjid.

Tapi masjid di kampung ini penuh sesak. Jamaah wanitanya sama banyak dengan yang laki-laki. Halaman pun terpakai. Tidak mungkin sungkeman di situ. Pindah ke tempat kami menginap. Seadanya. Halaman basah. Tempat parkir basah. Lapangan basketnya juga basah.

Bagi cucu-cucu, yang penting bukan sungkemannya: tapi nenek mereka. Terutama isi tasnyi. Lebaran bisa di mana saja, tapi tas itu harus ada.(Dahlan Iskan)

Tags: Essay
Share234SendTweet146Share
Dahlan Iskan

Dahlan Iskan

Next Post
Tas Lebaran - 91645482 61FA 4A1F 830F E4239856E1D0 | Jalan-jalan | Potret Online

Perempuan dan Hari Raya Idul Fitri "Minim Sampah"

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com