POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home Catatan Perjalanan Jalan-jalan

Surat-Surat yang Tersangkut di Langit Gaza

Gunawan Trihantoro by Gunawan Trihantoro
April 3, 2025
in Jalan-jalan
0
Surat-Surat yang Tersangkut di Langit Gaza - 70b70767 a774 48fc 8cd8 546d3af991ea | Jalan-jalan | Potret Online

Oleh Gunawan Trihantoro

Israel mengumumkan perluasan besar operasi militer di Gaza pada Rabu, (2/4/2025) dengan mengatakan bahwa sebagian besar wilayah kantong itu akan direbut dan ditambahkan ke zona keamanannya, disertai dengan evakuasi penduduk dalam skala besar. [1]

Baca Juga
  • 01
    Jalan-jalan
    Kuliner Khas Aceh Terpopular dan Lezat
    11 Nov 2022
  • Surat-Surat yang Tersangkut di Langit Gaza - Suwar Suwir.jpg | Jalan-jalan | Potret Online
    Jalan-jalan
    Mencicipi Jajanan Jadul “Suwar -Suwir” Hingga Makan Malam di Warung “Bu Ony”
    08 Apr 2025


Di sini, bahkan debu pun menangis dalam tiga bahasa:
“bahasa peluru, bahasa reruntuhan, dan bahasa doa yang tercekat.”

-000-

Baca Juga
  • Surat-Surat yang Tersangkut di Langit Gaza - 6bd961ef b6d1 4a12 960a 407b71d6fbe7 | Jalan-jalan | Potret Online
    Jalan-jalan
    Malam Seribu Bulan
    29 Mar 2025
  • 02
    Jalan-jalan
    HABA Si PATok
    04 Apr 2025

Di selatan Gaza, pagi mulai dengan daftar baru:
3.200 nama yang dihapus dari registri kelahiran,
46 sumur yang dikubur bersama ingatan tentang hujan,
1 kubah masjid tersisa,
arsiteknya adalah rudal bernama Iron Dome. *)

Seorang anak menulis di tembok yang terkelupas:
“Apa artinya ‘evakuasi’?
Apakah itu permainan dimana kami selalu kalah
sebelum ayah sempat mengikat sepatunya?”

Baca Juga
  • 01
    Jalan-jalan
    Lomba Menulis
    12 Jan 2017
  • Surat-Surat yang Tersangkut di Langit Gaza - IMG 20250223 WA0016 | Jalan-jalan | Potret Online
    Cerpen
    Kisruh Nurani
    23 Feb 2025

Ibunya membisik angka-angka ke telinga angin:
“200 koridor ‘aman’ yang berujung kuburan massal,
7 truk bantuan yang tiba dengan bendera setengah tiang,
1 jam, 1 menit, 1 detik,
berapa lama lagi kami boleh bernapas?”

-000-

Ahmad (9 tahun), mengais kaleng di reruntuhan sekolah:
“Kakak janji kan, ini cuma latihan darurat?
Besok kita masih bisa main petak umpet di kelas 3B?”

Fatima (guru matematika, tangan kirinya terbungkus perban):
“Lihat, Nak, angka terakhir yang kuajarkan:
5.000 + 3.000 = 8.000 mayat.
Tapi kurikulum baru mereka bilang:
‘sejarah dimulai dari nol setiap kali roket mendarat’.”

Marwan (petani yang kehilahan kebun zaitun):
“Kuberi mereka seluruh hasil panen tahun 1948,
bahkan akar pohon keluarga yang terpendam.
Tapi kenapa mereka masih haus?”

-000-

Jam dinding rumah Sa’id berhenti pada pukul 3:15
tepat ketika kamar tidur menjelma museum:
1 tempat tidur bocah dengan bercak coklat karat,
3 buku cerita yang halamannya jadi kertas pembungkus luka,
1 cermin retak yang masih menyimpan bayangan istri
sebelum pecahan peluru kurdistan mencuri matanya. **)

Tentara di pos pemeriksaan berkata:
“Kami hanya menjalankan perintah surga.”
Lalu langit pun menjawab dengan dialek Gaza:
“Surga mana yang meminta anak-anak
jadi tiket masuk?”

-000-

Para pengungsi menitipkan alamat pada burung dara:
“Tolong sampaikan pada dunia,
rumah kami bukan koordinat GPS untuk latihan tembak.
Nenek kami masih menyimpan kunci
dari pintu yang sudah jadi mitologi.”

Di kamp penampungan, seorang bidan melahirkan harapan
di antara genangan darah dan daftar nama yang terputus:
“Kusebut dia ‘Amal’,
meski aku tahu, di sini
setiap bayi lahir dengan serpihan peluru
tertanam di daging nasibnya.”

-000-

“Nina bobo, ya bobo…
jika sirene menderu, jangan cari ibu
dia sedang bernegosiasi dengan malaikat maut
di posko pengungsian yang jadi altar penguburan…”

Lagu itu berakhir dengan dentuman.
Malam di Gaza selalu tamat sebelum subuh,
para ayah menulis wasiat di punggung anaknya
dengan jari yang gemetar
dan abu.


Rumah Kayu Cepu, 3 April 2025

CATATAN:
[1] Puisi esai ini dibuat dan diispirasi dari kasus Israel Perluas Operasi Militer di Gaza, Usir Paksa Warga Palestina https://news.okezone.com/amp/2025/04/03/18/3128040/israel-perluas-operasi-militer-di-gaza-usir-paksa-warga-palestina

• *) Iron Dome: Sistem pertahanan udara Israel yang kontroversial, sering dianggap sebagai simbol ketimpangan teknologi perang dalam konflik Gaza.
• **) Kurdistan: Merujuk pada jenis peluru yang digunakan militer Israel, sering menyebabkan luka bakar parah.
• Data korban dan situasi darurat mengacu pada laporan di artikel Okezone: Israel Perluas Operasi Militer di Gaza, Usir Paksa Warga Palestina

Tags: #Puisi
Previous Post

Secangkir Kopi di Hari Lebaran

Next Post

🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

Next Post

🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah