• Latest
Simeulue - 8254ecbd d017 4826 9bc6 7c4be943331f | Catatan Perjalanan | Potret Online

Simeulue

April 26, 2025
file_00000000e608720b92fed92bd3c55b54

Bahaya Rekayasa Narasi Sesat yang Menimbulkan Permusuhan

April 19, 2026
file_000000007ff0720bbf683bd905ac60ed

Surat Untuk Anak Muda (2)

April 19, 2026
54306927-8436-4237-801f-5fda46d9c8c8

Dari Aceh ke Panggung Dunia: Muslim Amin, Ilmuwan Global Alumni USK

April 19, 2026
3a73ee9a-87d0-4bf2-aa52-0c77db8a9144

Pengaruh Self-Efficacy Terhadap Prestasi Akademik: Tinjauan Psikologi dan Bukti Empiris

April 19, 2026
IMG_0839

Demokrasi Di Ujung Tanduk?

April 19, 2026
d6285489-5291-4630-bb73-f4e571585b61

‎Ghost in the Cell: Bukan Sekadar Horor Fiksi, Melainkan Realitas Pahit Ketidakadilan Sistem

April 19, 2026
fd4ef5b5-307b-48e6-adff-f924e420a87b

Mengkritik Dan Mengajak Merenung Melalui Puisi Esai

April 19, 2026
ad86b955-a8e6-412e-b371-a15c846736db

Sedih Sekali, Ibu Guru Diacungi Jari Tengah oleh Siswanya Sendiri

April 19, 2026
Minggu, April 19, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Simeulue

Redaksi by Redaksi
April 26, 2025
in Catatan Perjalanan, Cerita Perjalanan, Jalan-jalan, Perjalanan, Simeulue
Reading Time: 4 mins read
0
Simeulue - 8254ecbd d017 4826 9bc6 7c4be943331f | Catatan Perjalanan | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh Muhammad Subhan

TIBA-TIBA ingatan saya terbang jauh ke Simeulue. Sebuah pulau di Aceh yang dikelilingi laut dengan pantai-pantai indah.

Kenangan saya kembali ke 15 tahun lampau.

Pagi itu masih muda. Jumat, 16 April 2010. Jam menunjukkan pukul 7.45. Langit bersih. Bandara Lasikin di Pulau Simeulue tampak lengang.

Pesawat kecil Susi Air baru saja mendarat. Saya turun dengan debar. Ini kali pertama saya menginjakkan kaki di pulau itu. Pulau yang selama ini hanya hadir dalam mimpi dan cerita.

Udara laut menyeruak begitu pintu pesawat terbuka. Hangat dan tenang. Seperti menyambut seorang perantau yang pulang setelah lama pergi.

Saya datang ke Simeulue atas undangan sebuah media lokal. Tujuannya memberikan pelatihan jurnalistik untuk meningkatkan kapasitas wartawan dan staf media di sana. Tentu, saya senang mendapat undangan itu.

Dari udara, Simeulue terlihat memesona. Biru lautnya, hijau daratannya, bagai lukisan alam.

Saya teringat Bali, tempat yang pernah beberapa kali saya singgahi. Tapi Simeulue berbeda. Lebih sunyi, lebih murni. Seperti permata yang belum diasah.

Pulau ini baru tumbuh sebagai kabupaten definitif, namun potensinya besar. Pantai berbatu karang seperti di Babang. Pasir putih di Teupah Selatan. Laut yang kaya. Budaya lokal yang majemuk.

Simeulue juga kaya akan sejarah. Banyak perantau dari Minangkabau yang kini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat. Mereka membawa serta budaya dan tradisi yang kental.

Salah satunya adalah ulama yang sangat dihormati di Simeulue, Teungku Di Ujung. Nama aslinya Khalilullah, seorang ulama Minangkabau yang beragama Islam dan dikenal sebagai sosok yang berjasa dalam menyebarkan ajaran Islam di Pulau Simeulue, khususnya pada masa Kesultanan Aceh. Jejak perjuangannya tetap dikenang hingga kini.

Semua itu bisa jadi magnet wisata. Suatu saat nanti, siapa tahu, Simeulue akan menjadi “Bali-nya Sumatera.”

Namun, lebih dari keindahan, ada tekad dan cinta yang membuat saya datang.

Di kantor media yang mengundang, saya diminta berbagi kiat menulis, terutama dalam jurnalistik. Memberi pembekalan kepada wartawan muda di sana. Mereka penuh semangat. Penuh potensi.

Simeulue bukan nama asing bagi saya. Sejak 2009, saya diminta menjadi editor jarak jauh untuk media di Simeulue. Media itulah yang mengundang saya. Dari Padang Panjang, saya memantau tulisan-tulisan wartawan mereka. Beberapa nama bahkan sudah saya hafal karena produktif.

Dua hari itu saya menyampaikan empat materi: menulis berita, teknik wawancara, penulisan feature, dan foto jurnalistik.

Itu sedikit keahlian yang saya kuasai karena sebelumnya bertahun-tahun bekerja di sebuah media mingguan dan harian di Kota Padang.

Kepada wartawan-wartawan muda di sana, saya tekankan pentingnya membaca. Bukan hanya membaca berita yang ditulis sendiri, tapi juga membaca berita wartawan di media lain. Serta membaca buku pengayaan.

Dalam menulis berita, rumus 5W + 1H adalah dasar. Siapa. Apa. Di mana. Kapan. Mengapa. Bagaimana. Tanpa ini, berita kering dan tak bernyawa.

Teknik wawancara juga tak kalah penting. Wartawan harus siap. Fisik. Mental. Daftar pertanyaan. Alat tulis. Perekam. Disiplin waktu. Jangan biarkan narasumber menunggu. Wartawan harus datang lebih awal.

Menulis feature adalah seni. Ini bukan berita keras. Ini cerita. Bernyawa. Penuh rasa. Feature menghibur dan memberi informasi. Bahasa yang digunakan lebih luwes dan indah. Banyak media besar menjadikan feature sebagai kekuatan.

Foto jurnalistik juga kami bahas. Foto yang bagus bisa bicara lebih dari seribu kata. Bukan sekadar jepret, tapi bagaimana menangkap momen, emosi, dan cerita. Saya tunjukkan beberapa foto pemenang Pulitzer.

Waktu dua hari terasa terlalu cepat. Para wartawan muda itu tampak belum puas. Tapi inilah awal. Pondasi. Kelak mereka akan membangunnya lebih tinggi—dan, setelah bertahun-tahun berlalu, dari jauh saya melihat mereka sudah menjadi wartawan hebat.

Usai pelatihan, kami rehat di Pantai Babang. Pantai ini indah, tenang. Riak dan debur ombaknya begitu puitis. Pantai Babang salah satu ikon wisata di Pulau Simeulue.

Keesokan harinya, kami beranjak ke Teupah Selatan. Daerah ini dulunya pusat tsunami 26 Desember 2004. Luka masih terasa. Tapi kehidupan terus berjalan. Orang-orangnya tangguh. Penuh harapan.

Saya meninggalkan Simeulue dengan hati yang penuh. Penuh syukur. Penuh kenangan. Juga tekad.

Di pulau yang sunyi ini, saya menemukan harapan yang tumbuh. Dalam berita-berita sederhana. Dalam senyum wartawan muda. Dalam lenguh ombak yang tak lelah memeluk pantai.

Simeulue tak lagi sekadar nama. Ia kini hidup dalam ingatan saya. Sebagai pulau yang sabar. Pulau yang berjuang. Pulau yang menulis masa depannya sendiri.

Dan, suatu hari nanti, saya ingin datang lagi. []

Baca juga di https://majalahelipsis.id/simeulue/

Share234SendTweet146Share
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Next Post
Simeulue - efe0eca3 a805 4e62 b1bb fd7d5ca0b0e5 1 | Catatan Perjalanan | Potret Online

Dari Kelas Biasa ke Kelas Luar Biasa

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com