POTRET Online POTRET
  • Home
  • Artikel
  • Potret Budaya ⌄
    • Puisi
    • Cerpen
    • Esai
  • Pendidikan
  • Video
  • Esai
  • Opini
  • Aceh
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Cerpen
  • Perempuan
  • Podcast
  • ✍ Kirim Tulisan
Home Catatan Perjalanan Jalan-jalan

Puisi – Puisi Muslimin Lamongan

Redaksi by Redaksi
April 1, 2025
in Jalan-jalan
0
Puisi – Puisi Muslimin Lamongan - 4f627a03 a45d 4a59 ba06 6f915580a763 | Jalan-jalan | Potret Online

.

[24/1 17.15] lmus8972:

Baca Juga
  • Puisi – Puisi Muslimin Lamongan - 063e5185 6511 44b2 ab94 11f0fbcac2e2 | Jalan-jalan | Potret Online
    Jalan-jalan
    Aspirasi Emak-emak Indonesia Untuk Memperingati Hari Anti Islamophobia ke-3 pada 15 Maret 2025
    16 Jan 2025
  • 02
    Jalan-jalan
    Tas Nano Motif Aceh
    09 Okt 2017

KUPU-KUPU

derap waktumu habis hanya mengejar kupu-kupu

Baca Juga
  • 01
    Jalan-jalan
    Puisi Alami
    12 Nov 2024
  • C2BA8137-6176-4960-91AB-9D2828AF285F_11zon
    Pendidikan
    Program Peduli SDIT Muhammadiyah Manggeng,
    09 Feb 2022

mari menanami taman bunga-bunga merekah

biar deras hujan membasah matamu

Baca Juga
  • Puisi – Puisi Muslimin Lamongan - IMG 20250219 WA0003 | Jalan-jalan | Potret Online
    Jalan-Jalan
    Ujung Gading, Bana Park, Air Terjun Sipagogo dan Bendungan Lubuk King
    19 Feb 2025
  • Puisi – Puisi Muslimin Lamongan - 9c4c192b 476b 4fb7 a693 a3a3f83b9655 | Jalan-jalan | Potret Online
    Aceh
    Durian Raja Pendekar dari Lamuri
    07 Jan 2025

mengembung bening hening rinduku

padamu kupu-kupu datang merubung 

senja ini tawamu mendengung gurindam salam

menapis semua gumam sendu

lihatlah kupu-kupu penakluk dendam

memeram ulatnya meredam makar

hingga berbenah menghias pesona tanpa gahar

warna-warni cantik menebar jemput hati lebam

berganti senyum tawa menyunting harapan

bahwa hidup itu indah tegar menawan

Lamongan, 24 Januari 2025

[26/1 19.47] lmus8972:

TERBUANG

bahkan rintik gerimis pun aku berteduh di rindang ceri

tak sanggup menadah deras hujan,

apalagi menggenggam kecamuk badai 

takaran kita berbeda, aku salut kagum padamu, sayang

terabas hujan menggantang awan

terik mentari menggelar senyuman

penjinak siang penggawang malam

menyusut air mata diserahkan ke rembulan

penelantar ditinggalkan tanpa pesan dan kasih sayang

anak-anak yang beku di bawah jembatan dan emperan

dilempar ke jurang nista dianggap kutukan

matamu elang menyergap suram zaman

dihempas gelombang takdir tak bertuan

di lampu merah biaran mengiba pura-pura

di trotoar membata hati para pejalan

hanya Tuhan yang peduli

hanya Tuhan membersamai sejati

Lamongan, 26 Januari 2025

[26/1 21.40] lmus8972:

JIKA SUDAH MASANYA

jika sudah masanya, hujan turun tanpa dipaksa

jika sudah masanya, deras rinai bergantian menyuburkan

jika sudah masanya, tetumbuhan meranum hijau bersuntingan

jika sudah masanya, doa-doa jadi kasunyatan

mengalir bening tirta telaga

kembang padma bermekaran 

mengaca diri pagi  membinar wajah keriangan

ternyata kepedihan bisa jadi tuntunan kehidupan

ternyata tangisan bisa jadi tumpuan kelaraan

dan kita bertahap tapi pasti

melewati tikungan menurun mendaki

curam jurang menghela kendali

licin jalan meredam ambisi ilusi

jika sudah masanya, segalanya indah bisa terjadi

Lamongan, 27 Januari 2025

[26/1 23.31] lmus8972:

DULU DAN KINI

dulu,

hari-hari kenangan mengupas bawang merah

terasa pedih di mata semerbak harum gorengan

nasi jagung hangat pagi menjelang

ikan pindang lombok tomat osengan

berangkat ke sawah mengayun langkah pematang

mengharap panen harga tak dipermainkan

kini,

sawahku tak ada dangau sekarang

bercengkerama burung manyar bersahutan

sekendi air ubi rebusan hilang ditelan zaman

aku tergesa kuli bangunan di kota

sawahku sekadar hiburan penat badan

hijaunya tak lagi meminat angan kedamaian

perumahan mengapling menyesak harapan

ganti rugi hilang melayang sebulan

mobil motor gawai biaya menjulang

generasi jadi pegawai suap mencekik gajian

buruh pabrik menjanjikan ketenangan dalam kelelahan

sawahku mungkin hilang pondasi apartemen ditancapkan

Lamongan, 28 Januari 2025

[27/1 20.26] lmus8972:

SECANGKIR KOPI 2

secangkir kopi tak sempat menyampaikan rindu hati jiwanya

pada gerimis dan angin tenggara senja ini

hingga dingin melucuti hangat kepulnya

tak mengapa karena cinta bukan kedua bola matanya

tak menyesal karena hakikinya tak ada perpisahan

jarak dan waktu semakin mengerat penjalinan

gamang mengambang membulat lingkaran rumpunan

marga berhimpun meruntuhkan persengketaan

secangkir kopi adalah bahasa keakraban 

tak ada kasta meski harga berbeda, ia tetap hitam

meluruh racun-racun strata pengaburan

penikmatnya tersenyum tanda akrab kemanusiaan 

saling berbagi silam harapan ke depan

saling menertawai mengharu bijak dalam canda

tak mengadili saling wawas diri

Lamongan, 28 Januari 2025

[28/1 17.19] lmus8972:

KOSONG SAHARA

hidup menelantar diri tak bertuan, kosong sahara

berteriak kehausan menuding sangka keliaran

membiarkan hujan tak bertanam walau sebatang angan

melara diri hingga renta pembiaran

remuk redam seluruh tubuh pesakitan

begitulah, jika puja dipersonakan gayuhan

tepuk tangan penyaksi melambung layang

layang-layang putus tersangkut duri dadap

atau robek rebutan bocah menertawakan

kakinya hampir lumpuh matanya makin sayu

ingin sekali berhuma di tengah hutan

mencumbui bening air mengalir

mengirama kicau burung bersahutan

meresapi hijau tetumbuhan bugar

maka dia menulis rencana lakuan,

namun sekadar sketsa buram hitam,

entah

Lamongan, 29 Januari 2025

[28/1 19.29] lmus8972:

SERIBU CEMARA DI JALAN VETERAN, 1985-1988

kamu tulis surat cinta harum bersampul ungu

kubaca berulang antara yakin dan mimpi

tapi aku tak berani membalas, sepedaku mini lawas

uang sakuku ngepas hanya beli teh hangat

dan goreng pisang sebiji setiap hari

kadang beli majalah tempo bekas, jadi makan angin lepas

kubaca tempo berlagak intelek berkelas

jurusan sosial berangan politikus atau analis ekonomi mikro

berharap teman sering traktir tanpa sindir

suatu hari sepatuku bolong dikerat tikus

tubuhku kecil suka basket tak bisa voli

temanku pegang bola, aku hanya berlari

tanpa kendali, sepatuku

kutambal kertas karbon hitam menutup

beruntung guru olahragaku sangat peduli

memberi sepatu, beliau sekarang di surgaNya

kulacaki seribu cemara di jalan veteran

kini hilang berganti riuh kuliner variasi

seribu cemara itu pucukku mimpi 

bila hati galau lupa uang saku tertinggal di laci

mendongak ke atas, lancip cemara menembus

langit khayali, bahwa kala itu tiba

segala riang pasti terjadi

Lamongan, 28 Januari 2025

[29/1 03.58] lmus8972:

GONG XI FA CAI

rimbun bambu, panda, pendekar rajawali, Gus Dur,

merasuki hangat kopiku pagi ini

bakpao hangat manis senyum menghias hari-hari

usai subuh berbaju koko udara membugari

perjalanan mencari kitab suci akan kutempuh laju

walau terjal mendaki menapak falsafi

menembus tembok sekat manusiawi

silang budaya meredam dendam saling peduli

hidup tak sekadar memburu angpao ragawi

jurus dewa mabuk meretas angkara duniawi

bershaolin menempa diri melantang matahari

memurnamai rembulan merengkuh mimpi

mobilitas lesat mendamai tradisi

berziarah moyang sebab silam adalah luhur

menata harkat keluarga merestui

selamat tahun baru, saudaraku

meniti hari bertabur doa-doa suci 

kreasi tanpa henti beradab dimensi

Lamongan, 29 Januari 2025

[29/1 18.28] lmus8972:

MERINAI HUJAN SENJA

merinai hujan senja jingga, alir merendah mencari muara

membiru bening pendar mentari megah semesta ini

samudera hati memilah bijaksana

begitulah hendaknya, setiap prahara dihadapi legawa

bukan jumawa merasa diri busung segalanya

yakinlah bakal petaka tangga menimpa

bukankah air pelarut doa-doa mustajabah

bukankah air memantas diri sesuai wadahnya

tak pernah paksa menyesaki interaksia

air hanya butuh tepat kelola

jangan susut memaksa bandang akhirnya

merinai hujan kanakmu telanjang dada

bergelut hitam lumpur canda tawa

begitulah harusnya, menempa setiap selisih

melapang terima solusi dengan gembira

maghrib tiba, Tuhan teduhnya

Lamongan, 30 Januari 2025

[30/1 10.12] lmus8972:

HUJAN ALGORITMA

hujan pagi ini algoritma

rangkai madah anggrek bulan

kusunting dirimu janji suci

cincin melingkar bulat tekadan

sadari samudera bukan permainan

bahteraku kayu namun kukuh

navigasi terarah dermaga harapan

geometri kasihmu simetris

kadang aljabar minusku mengacak buritan

namun garis lurusmu sudut beraturan

membangun prisma keutuhan

rumus sederhana: berbagi mengganda keberkahan

ekuilibrium bukan angka-angka penambahan

dalam pengurangan tersembunyi hikmah

selalu ada himpunan ganjil kegundahan

kita perhitungan, Tuhan menggenapkan

takdirNya tak terhingga keapikan

Lamongan, 30 Januari 2025

Penulis Puisi, Muslimin Lamongan, adalah guru bahasa Indonesia di SMP Islam Tikung dan SMP tashwirul Afkar Sarirejo Lamongan Jatim

Tags: #Puisi
Previous Post

Puisi-Puisi Safri Naldi

Next Post

Menyinggahi  Kaki Gunung Raung di Kabupaten Banyuwangi di Hari Nan Fitri

Next Post
Puisi – Puisi Muslimin Lamongan - cc8c6539 f5a9 4429 aff4 4eede4ff287d | Jalan-jalan | Potret Online

Menyinggahi  Kaki Gunung Raung di Kabupaten Banyuwangi di Hari Nan Fitri

POTRET Online POTRETOnline
Kontributor Tentang Kami Redaksi 1000 Sepeda

© 2026 POTRET Online. Seluruh hak cipta dilindungi.

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah