Artikel · Potret Online

Al-Quran With Love: Sebuah Social Experiment tentang Memudahkan Diri Membaca Al-Qur’an

Sejauh ini dari praktik tiga hari pertama itu reward yang saya dapatkan untuk diri saya sendiri adalah produktivitas dan need of achievement (N-Ach) itu. Oh ya, saya termasuk golongan yang percaya bahwa N-Ach ala Maslow itu bisa diterapkan dalam bentuk mini misalnya seperti capaian harian.
Penulis  Afridal Darmi
Maret 3, 2025
7 menit baca 300
Al-Quran With Love: Sebuah Social Experiment tentang Memudahkan Diri Membaca Al-Qur’an - 0F10940A AA51 4547 82EF B5333B0BC438 | Artikel | Potret Online
Foto / IlustrasiAl-Quran With Love: Sebuah Social Experiment tentang Memudahkan Diri Membaca Al-Qur’an

Itu berarti hari pertama puasa belum lagi habis, masih dhuhur, namun saya telah melewati target satu juz. Al-Baqarah 170 itu ada di perempat pertama juz kedua. Subhanallah, ini yang saya maksudkan feeling of the achievement-nya. Sambil bertenang-tenang menjadi pemenang, sambil bersantuy-santuy mencapai sesuatuy… 

Social Experiment: Membaca Al-Qur’an Pada Lost Time

Pada hari kedua sambil terus menerapkan 15 menit itu, saya mencoba sebuah social experiment. Pertanyaannya adalah: berapa banyak waktu yang terbuang (lost time) dan apa yang bisa kita lakukan dengan waktu itu. Dan why not baca Quran saja?

So, hari kedua ini untuk lost time adalah “waktu menunggu”. Kebetulan hari itu ibu dari anak-anak saya meminta diantarkan berbelanja. Kalau biasanya saya ikut masuk Warung bersamanya atau duduk menunggu, hanya planga- plongo. Tapi hari ini kegiatan menunggu itu saya hitung dengan stop watch hape dan saya isi dengan baca Quran. Bahkan saya sengaja bawa mushaf Qurannya bukan hanya membaca dari Quran digital di hape. 

Mengapa? Yaaa…you know, cuma biar nggak ada yang bilang “itu tak mungkin”. 

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Afridal Darmi, SH, LLM. Seorang advokat profesional dan penulis amatir. Pernah menjejakkan kaki di berbagai sudut Bumi di negeri-negeri yang jauh di empat benua dalam menjalankan misinya sebagai Human Right Defender. Tapi selalu mendapati dirinya merindu Aceh, tempat perahu hatinya tertambat dan membuang sauh, tempat ketiga anak dan istrinya bermukim. Menyukai kopi dan bacaan. Segelas seduhan kopi Aceh dan sebuah buku, serta pojok yang tenang untuk membaca, hanya itu yang diperlukan untuk membuatnya bahagia. Afridal Darmi berkediaman di Aceh Besar. Alamat email: afridaldarmi@gmail.com
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...