Artikel · Potret Online

Duka untuk Rakyat Kecil, 8 Tewas Dibunuh Saat Mendulang Emas

Penulis  Rosadi Jamani
Mei 21, 2026
3 menit baca 28
c20e1777-a193-4eba-a06f-94b2b8474f7e
Foto / IlustrasiDuka untuk Rakyat Kecil, 8 Tewas Dibunuh Saat Mendulang Emas
Disunting Oleh

Oleh Rosadi Jamani 

Mereka hanya pekerta tambang emas rakyat. Semata-mata bertahan untuk menyambung hidup. Namun, nasib mereka sangat tragis. Dibantai tanpa belas kasihan. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

Delapan orang itu mungkin tidak pernah menonton film dokumenter berjudul “Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita.” Mereka mungkin tidak tahu belakangan negeri ini sedang ribut soal pemutaran film yang dibubarkan di kampus-kampus, dirazia di sana-sini, didatangi aparat seperti sedang menyembunyikan senjata perang. 

Tapi ironinya begitu kejam. Ketika sebuah film tentang luka Papua diperlakukan seperti ancaman negara, di waktu yang hampir bersamaan, tanah Papua benar-benar kembali dipenuhi darah manusia. 

Rabu, 20 Mei 2026, hutan Korowai di Kabupaten Yahukimo berubah menjadi kuburan sunyi bagi delapan pendulang emas. Mereka datang bukan membawa manifesto politik. Mereka tidak sedang berpidato soal kemerdekaan. Mereka cuma orang kecil yang mencoba bertahan hidup di negeri  yang sekadar makan pun kadang harus bertaruh nyawa.

Mungkin pagi itu mereka masih tertawa sambil menjerang kopi hitam di tengah dingin pedalaman. Mungkin ada yang sempat memandangi foto anaknya sebelum berangkat menyusuri sungai. Mungkin ada yang diam-diam berharap hasil dulang hari itu cukup untuk membayar sekolah atau membeli beras. 

Harapan-harapan kecil yang sederhana. Harapan yang di Jakarta kalah penting dibanding perebutan kursi komisaris.

Lalu peluru datang.

Koops TNI Habema melaporkan delapan penambang emas itu tewas setelah diserang kelompok TPNPB-OPM Kodap XVI Yahukimo pimpinan Mayor Kopitua Heluka bersama pasukan Batalyon Yamue di bawah komando Mayor Dejang Heluka. Mereka dituduh sebagai aparat keamanan Indonesia yang menyamar sebagai pendulang emas ilegal. Tuduhan yang terdengar seperti kutukan. Di Papua, seseorang bisa kehilangan nyawa hanya karena dicurigai menjadi sesuatu yang belum tentu benar.

Kepala Penerangan Koops TNI Habema, Letkol Infanteri M. Wirya Arthadiguna menegaskan, seluruh korban adalah warga sipil biasa. Bukan TNI. Bukan Polri. Hanya rakyat kecil yang mencari emas di tengah hutan. Kini prajurit dan helikopter dikerahkan untuk evakuasi. Negara akhirnya hadir, tetapi seperti biasa, datang setelah tubuh-tubuh manusia sudah terbujur kaku.

Yang membuat dada makin sesak, Jubir TPNPB-OPM, Sebby Sambom, justru menyebut operasi itu sebagai “pembersihan hama wereng dari Indonesia.” Kalimat yang membuat manusia terdengar lebih rendah dari hama sawah. Delapan nyawa lenyap, dan dunia mendengarnya hanya seperti angka statistik yang lewat di ticker berita.

Sementara itu, Indonesia sibuk dengan kegaduhan lain. Film “Pesta Babi” karya Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale diributkan di mana-mana. Nobarnya dibubarkan. Diskusinya dianggap berbahaya. Ada kampus yang ketakutan. Ada aparat yang mendadak lebih sigap mengawasi layar proyektor dibanding menjaga nyawa warga di pedalaman Papua. Pemerintah bilang tak ada larangan resmi, tetapi pembubaran tetap terjadi di berbagai daerah.

Negeri ini memang kadang terasa absurd sekaligus menyedihkan. Film tentang penderitaan Papua diperlakukan seperti ancaman. Sementara penderitaan Papua yang asli justru terus berlangsung tanpa akhir. Seolah yang lebih menakutkan bukan darah yang tumpah di Yahukimo, melainkan orang-orang yang mulai berani membicarakannya.

Malam ini, entah di sudut mana, ada ibu yang menangis karena anaknya tak pulang. Ada istri masih menunggu suara langkah suaminya di depan pintu. Ada anak kecil belum mengerti kenapa ayahnya pergi mencari nafkah lalu kembali tinggal nama.

Papua kembali menangis. Seperti tragedi-tragedi sebelumnya, publik mungkin akan marah beberapa hari, lalu lupa. Berita akan tenggelam oleh gosip artis dan drama ijazah. Tapi bagi keluarga korban, waktu tidak akan pernah benar-benar bergerak lagi. Karena sejak peluru itu menghentikan delapan nyawa di Korowai, ada delapan rumah yang kehilangan masa depan sekaligus.

Rosadi Jamani

Ketua Satupena Kalbar

#camanewak

#jurnalismeyangmenyapa

#JYM

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Ketua Satupena Kalbar
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...