Al-Quran With Love: Sebuah Social Experiment tentang Memudahkan Diri Membaca Al-Qur’an

Jadi saya mulai dengan membuang unsur chore-nya itu. Sudah tiga hari ini saya mencoba pendekatan baru. Bagaimana membuat kegiatan ini menjadi ringan, namun membawa reward yang membahagiakan dan membawa rasa produktivitas dan achievement (pencapaian). Alih-alih menetapkan target, saya mengubahnya menjadi kegiatan ringan 10-15 menit tanpa ada target berapa banyak yang bisa dibaca dalam waktu itu.
Biarkan mengalir saja. Dan sudahtiga hari ini saya menikmati rasa pencapaian (achievement) yang tidak saya duga sebelumnya. Ini cerita pengalaman saya tiga hari ini. Mari eksperimen dan having funmembaca Quran.
Saya mulai sebelum isya hari Jumat malam dengan membaca15 menit saja. Iya, hanya 15 menit saja. Membacanya pun dengan santai, nggak cepat-cepat. Santuy, dengan sebisa mungkin menerapkan panjang pendek dan tajwidnya. Murattal, kata ahlinya. Murattal saya nggak pakai irama yang indah-indah dan kadang canggih-canggih itu. Saya pakai irama saya sendiri, natural. Sambil menunggu azan isya dan waktu tarawih malam pertama.
Oh ya, kami di Montasik sudah mulai Ramadhan saat tenggelam matahari senja Jumat dan mulai berpuasa hari Sabtu. Lalu usai tarawih/witir 15 menit. Setelah subuh sambil menunggu syuruq 15 menit. Sebelum dhuhur 15 menit dan setelah dhuhur 15 menit. Dan, unbelievable… pada titik ini saya tutup quran pada Al-Baqarah 170.




















