POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Imamku Kakak Angkatku

NendawatiOleh Nendawati
January 26, 2025
Imamku Kakak Angkatku
🔊

Dengarkan Artikel

 

Oleh: Nendawati

“Assalamualaikum, Maaf, Mas apa bisa saya membelikan nasi putih saja dengan harga ini?” tanyaku, sambil kutunjukkan beberapa uang logam dan menyodorkan uang recehan pecahan seribu rupiah berjumlah sepuluh keping.

Karena hanya itu uang yang tersisa di tanganku. Siang tadi aku dijambret oleh orang jahat di pusat kota. Aku merasa beruntung, setidaknya masih ada yang tersisa.

Aku Fitri, baru saja sampai di kota ini, sebenarnya tujuanku adalah saudara  angkat. Orang yang dulu pernah dirawat oleh kedua orang tuaku. Menurut mereka ia ada di kota ini, karena dulu setamat SMA meminta izin untuk merantau. Sementara usiaku dulu saat saudara angkatku pergi dari rumah, masih sekolah dasar.

Aku nekat pergi ke kota sendirilah tanpa pengetahuan orang tuaku. Aku mengantongi sebuah foto dan juga nomor kontaknya.

Untung foto itu kusimpan di saku baju sehingga luput dari jambretan orang jahat itu.

“Silakan masuk dulu kedalam, jangan berdiri di luar,” ujar lelaki yang kupanggil mas tadi. Orang itu sedang melayani beberapa pembeli lain.

Aku pun segera mengikuti tuturnya. Kupilih bangku paling pojok di warung yang lumayan besar itu. Tanpa sadar sepertinya aku tertidur di sana. Aku merasa bahwa hari ini adalah hari terburukku.

Tiba tiba aku terkejut saat ada yang datang ke tempat dudukku. “Maaf, Dik membuat kamu terbangun,” ujar laki-laki yang ternyata si empunya warung.

Dengan berat, aku membuka mata dan merasa sangat tidak enak, bisa-bisanya aku tertidur di sini.

Related Postingan

Haul Gus Dur, Pesan Moral Tajam Santun

Haul Gus Dur, Pesan Moral Tajam Santun

Oleh Redaksi
January 23, 2026
0
53

SASTRA MASYARAKAT Oleh Akaha Taufan Aminudin Tulisan dari Cakndjojo ini bukan sekadar ulasan acara, melainkan sebuah narasi apresiatif yang kaya...

Luka, Cinta, dan Politik Tubuh Perempuan

Luka, Cinta, dan Politik Tubuh Perempuan

Oleh Novita Sari Yahya
January 23, 2026
0
64

Oleh: Novita Sari Yahya Membaca Sastra Perempuan Indonesia dari 1965 hingga Pascareformasi** Pendahuluan Sastra Indonesia modern kerap menghadirkan perempuan sebagai...

Demi Anak Cucu

Demi Anak Cucu

Oleh Redaksi
January 21, 2026
0
64

Demi Anak Cucu By Asmaul HusnaInong Literasi Fajar berdiri terdiam di hadapan tumpukan gelondongan kayu. Pohon-pohon yang dulu tegak dan...

Penyeimbangan Maskulinitas Dunia Politik melalui Seni dan Sastra

Oleh Novita Sari Yahya
January 20, 2026
0
54

Oleh: Novita Sari Yahya Pendahuluan: Politik, Maskulinitas, dan Risiko Kekuasaan Sejak lama, dunia politik dipahami sebagai arena maskulinitas yang keras....

Sebuah Puisi Esai tentang Bencana Sumatra dan Luka Ekologis(12)

Ketika Gagasan Tertimbun Lumpur

Oleh Redaksi
January 8, 2026
0
61

Oleh Asmaul HusnaInong Literasi Purnama yang dahulu dirindukan telah lama menghilang, tergantikan sabit yang malu-malu bersembunyi di balik awan. Desir...

Menyadari itu dengan segera aku minta maaf, “aku baru sampai di kota ini dan naasnya, tas , dompet serta ponselku dijambret, Mas, “terangku.

Kepada lelaki itu, entah keberanian dari mana aku seperti mengalir begitu saja bercerita tentang apa yang kualami hari ini.

Aku senang dia merespon ceritaku tadi.  “Ya sudah, sekarang makanlah dulu, kamu pasti lapar, kan?” ucapnya mulai terlihat ramah dan tidak sikapnya tidak sedingin saat pertama Aku menunjukkan uang recehanku tadi.

Tidak lama laki-laki itu meletakkan nasi putih,  ayam rica-rica, soto, sambal, kerupuk dan juga segelas teh hangat. Aku merasa bingung dan berkata, “Maaf, Mas tapi aku tidak memesan ini semua.”

“Sudah, jangan khawatir. Makanlah sampai kenyang, jangan sungkan, ya!” Aku melihat seulas senyum di bibirnya.

“Deg!!” Ada getaran aneh di relung jantungku.

“Kamu bisa menghabiskannya, semua ini untukmu.” Dia kembali menyuruhku makan. Mungkin karena aku masih terlihat bingung denga napa yang ada di depanku.

“Tapi … Mas!”

“Sssst … sudah, bacalah doa lalu segera makan, oke! Jangan lupa teh hangat juga diminum ya!”

Meski agak ragu, aku mencoba mencicipi hidangan di depanku. “Sepertinya dia tulus,” batinku.

Namun, lagi-lagi aku bermonolog, “Kan, aku belum dia kenal? ah … sudahh lah yang penting perut ini harus diisi dulu.”

Kulanjutkan makan hingga selesai. Tidak lupa kuseruput teh hangat yang hampir dingin. Tubuhku kini terasa lebih kuat.

Tanpa sadar, aku terus memperhatikan lelaki itu melayani pembeli. Kasihan juga, sepertinya dia cukupa kewalahan, karena pembelinya lumayan ramai. Herannya pelanggannya itu kebanyakan cewek dan cantik-cantik semua.

“Ah kenapa aku jadi kepikiran begini, ya!”

Kualihkan pikiranku dengan mengangkat piring kotor ke belakang. Aku mencari dimana dia meletakkan piring-piring kotor, dan aku menemukannya.

Aku melihat tumpukan piring kotor yang cukup banyak. “Sepertinya aku harus membantunya. Dengan ini aku bisa sedikit membalas budi baiknya atas makanan yang diberinya.

Aku mencuci semua piring kotor, menyapu seluruh ruangan, dan dalam sekejap dapur belakang ini sudah bersih dan rapi. Piring-piring dan gelas-gelas kutata dengan cermat. Koboan pun tidak luput, kususun di tempatnya. Meja dapur kulap hingga berkilau, dan ember-ember itu kujajarkan rapi di sudut. Belanga-belanga kugantung di dinding, tersusun sejajar.

Setelah semua selesai, aku merebahkan diri di tikar yang tergelar di lantai. Lelah bercampur resah menguasai pikiranku. Malam ini, aku harus bermalam di mana? Dompetku kosong, uangku habis.

Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar mendekat.
“Oh, kamu di sini, Dik? Aku kira kamu ke mana,” ujar seorang lelaki, pemilik warung makan tadi.

“Mas kira aku kabur? Setelah makan gratis?” jawabku asal sambil tersenyum tipis.

“Terima kasih, ya, Mas, sudah mau membantu saya. Setidaknya, saya tidak kelaparan lagi. Sekali lagi, terima kasih banyak,” ucapku tulus, penuh rasa syukur pada lelaki di depanku ini.

“Sudahlah, tidak usah sungkan. Sama-sama, ya. Lagipula, ternyata diam-diam kamu sudah meringankan pekerjaanku malam ini. Terima kasih juga sudah bantu mencuci piring, menyapu lantai, membersihkan meja, dan merapikan semua perkakas di dapur. Aku benar-benar terbantu,” katanya sambil tersenyum.

“Ya, Mas, sama-sama,” jawabku singkat, tersipu.

 

“Oh ya, ngomong-ngomong kita belum kenalan. Nama saya Firman,” ujar lelaki itu sambil mengulurkan tangan.

Aku menyambutnya dengan sopan. “Nama saya Fitri, Mas,” jawabku.

“Apa? Fitri?” Ia tampak sedikit terkejut, namun aku mengabaikannya. Nama Fitri pasti banyak dimiliki orang lain, seperti juga nama Firman, yang kebetulan sama dengan nama kakak angkatku. Tapi jelas bukan dia, foto yang kubawa membuktikan tak ada kemiripan.

“Mas, terima kasih banyak, ya. Semoga warung Mas semakin laris, berkah, dan keluarga selalu dalam lindungan Allah SWT,” ucapku tulus.

“Aamiin, terima kasih, Dik. Doa yang baik untuk yang mendoakan juga,” balasnya singkat.

Entah kenapa, aku merasa berat meninggalkan warung ini. Saat lelaki itu tersenyum, aku membalasnya meski dengan sedikit rasa malu.

“Mas senang kalau Dik Fitri tersenyum,” ujarnya, membuatku semakin canggung.

Lalu, dengan hati-hati, aku membuka pembicaraan lagi. “Mas, bolehkah saya minta tolong? Maaf kalau terkesan berlebihan. Saya boleh pinjam uang untuk penginapan malam ini? Saya janji akan mengembalikannya setelah bekerja nanti.”

Firman tersenyum lembut. “Begini saja, Dik. Malam ini tidur saja di rumah saya. Jangan khawatir, di rumah ada Bik Ijah, ART kami. Bagaimana, setuju?”

Aku cepat mengangguk. “Baik, Mas. Terima kasih.”

“Kalau begitu, ayo kita pulang. Semua sudah beres di warung.”

Setelah memastikan warung tertutup rapi, kami segera berangkat. Dalam perjalanan, Firman menelepon Bik Ijah, memberitahu bahwa ada tamu yang akan menginap dan memintanya menyiapkan kamar.

Tak lama, kami tiba di rumahnya, yang ternyata dekat dari warung. Bik Ijah menyambut dengan ramah. Setelah perkenalan singkat, ia mengantarku ke kamar.

Malam itu, untuk pertama kalinya dalam seharian, aku bisa benar-benar beristirahat.

Ku lihat kamar ini sangat luas, tertata rapi, dan wangi.

“Neng, silakan istirahat, ya. Kalau ada keperluan, panggil saja Bik Ijah,” ucapnya ramah.

“Baik, Bik. Sudah diberi tempat seperti ini saja saya sudah sangat bersyukur,” jawabku tulus.

“Ya sudah, Neng. Bibik pamit dulu, ya. Selamat istirahat.”

“Terima kasih, Bik. Selamat malam.”

Begitu pintu tertutup, aku segera merebahkan tubuh yang sejak tadi rindu kasur. Alhamdulillah, ya Allah. Akhirnya Engkau kirimkan bantuan melalui Mas Firman, lirihku penuh syukur. Malam ini, aku hanya ingin tidur nyenyak dan bermimpi indah.

Namun, suara lirih dari dapur mengusik ketenanganku.

“Maaf, Ira. Selama ini Mas hanya menganggap kamu sebagai adik. Tidak lebih. Jangan pernah menaruh hati pada Mas, ya? Karena jauh sebelum ini, Mas sudah bilang, hati Mas sudah dimiliki seseorang. Jadi, mohon jangan salah paham atas sikap Mas,” suara Mas Firman terdengar jelas.

Aku mengintip dari jauh. Mata kami tanpa sengaja bertemu. Aduh, kenapa harus bertatapan begini? Jantungku jadi berdebar. Sudah, Fitri, sadar diri! Jangan berpikir yang tidak-tidak. Kamu hanya numpang, jangan lancang.

Mas Firman tersenyum, dan aku balas tersenyum meski canggung. Untuk mengalihkan suasana, aku memberanikan diri menawarkan sesuatu.

“Maaf, Mas. Ini ada nasi goreng kampung yang tadi pagi Fitri masak,” ucapku sambil menyodorkan piring.

“Baiklah. Terima kasih, Dik. Tapi kenapa repot-repot? Kan, ada Bik Ijah,” jawabnya lembut.

“Tidak apa-apa, Mas. Ini sama sekali tidak merepotkan,” sahutku singkat.

Ia mengambil piring itu dan duduk di meja makan. “Duduklah, mari kita makan bersama,” ajaknya.

“Baik, Mas.”

Kami sarapan bersama. Namun tiba-tiba Mas Firman berhenti mengunyah.

“Kenapa, Mas? Tidak enak, ya?” tanyaku khawatir.

Ia melanjutkan makan dan menghabiskan nasi goreng itu. Kemudian, dengan nada sendu, ia berkata, “Dik, ini kamu yang masak, kan? Resepnya dari siapa? Rasanya mengingatkanku pada seseorang… seorang wanita yang sangat kurindukan.”

Kata-katanya membuatku terpaku. Wanita yang dirindukannya? Apa maksudnya? Apakah dia wanita yang mengisi hatinya? Hatiku mencelos. Kenapa aku cemburu? Aduh, kenapa dengan pikiranku ini?

“Oya, Fit. Mas hari ini tidak masuk kerja, ya. Hari ini ada yang jaga warung. Mas akan menemani kamu mencari kakak angkatmu,” tawar Mas Firman.

Tapi entah kenapa aku malah tidak merasa senang. Bukankah tujuan utamaku ke kota ini memang untuk mencari kakak angkatku?
“Oh, iya… iya, Mas. Terima kasih, ya. Maaf merepotkan lagi.”

“Tidak sama sekali, Dik. Yang penting hari ini kita fokus pada misi pencarian kakakmu.”

Sedang asyik ngobrol, tiba-tiba seorang perempuan muncul dari ruang tamu tanpa sopan. Ia langsung masuk ke ruang makan tempat kami sarapan.

“Oh, jadi karena wanita ini, ya, Mas menolak cinta aku? Karena wanita ini, Mas mengabaikan aku?” serunya penuh emosi.

Perempuan itu mendekati kursi tempat aku duduk. Aku menatapnya sejenak; ia sangat cantik, seksi, dan menarik. Namun, wajahnya terlihat penuh kemarahan seperti nenek lampir yang terbakar api cemburu.

Tiba-tiba, satu tamparan keras mendarat di pipiku.
Prak!

Aku terkejut karena semua terjadi begitu cepat. Mas Firman langsung berdiri, melindungiku, dan memelukku. Ia menatap pipiku yang mulai memerah.

“Ira, apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu seperti kehilangan akal sehat? Kamu datang pagi-pagi ke rumah orang dan membuat keributan seperti ini! Sebagai tuan rumah, aku tidak bisa menerima perlakuanmu. Cepat minta maaf pada Dik Fitri!” seru Mas Firman dengan nada marah.

“Oh, wanita ini… Fitri, namanya? Aku kurang apa selama ini pada Mas?” Ira membalas dengan suara tinggi.

“Kamu salah paham, Ira. Fitri itu tamuku! Dia kecopetan, kehilangan uang dan ponsel. Dia datang ke warung malam-malam tanpa tempat tujuan. Aku hanya kasihan dan tidak tega melihat keadaannya. Itu sebabnya aku membawanya ke sini. Jangan bawa-bawa rasa cemburu yang tidak masuk akal ini,” jelas Mas Firman tegas.

“Apa? Tamumu? Kenapa aku yang mengejar cinta Mas selama ini tidak pernah diizinkan menginap di rumah Mas?” Ira membentak lagi.

“Sudah cukup, Ira! Pergi dari rumahku sekarang juga. Pintu keluar masih di tempatnya, kan? Pergi!” bentak Mas Firman dengan lantang.

“Bik Ijah!” panggilnya tiba-tiba.

Bik Ijah muncul tergesa. “Maaf, Nak Firman. Non Ira langsung nyelonong, Bibik tidak berani mencegahnya.”

“Tidak apa-apa, Bik. Sikap Ira memang seperti itu. Tolong ambilkan kain untuk mengompres pipi Dik Fitri,” titahnya.

“Baik, Nak Firman.”

Mas Firman dengan lembut memapahku ke ruang tamu dan memintaku duduk. “Dik, maafkan Mas, ya. Mas tidak bisa mencegah sikap Ira tadi.”

“Iya, Mas. Tidak apa-apa. Mungkin dia cemburu. Maksud saya, mungkin dia berpikir saya ini…” Aku terdiam, mencari kata. “…wanita di hati Mas.”

Mas Firman menatapku, alisnya naik sedikit. “Apa? Wanita di hati? Kamu nguping, ya, waktu aku ngobrol sama Ira?”

Aku tersipu malu. Namun, sebelum aku menjawab, Bik Ijah datang dengan kain basah.

“Ehem,” dehem Bik Ijah, memecah suasana canggung.

Mas Firman segera mengambil kain itu dan mengompres pipiku dengan telaten.

“Mas, maaf merepotkan terus. Terima kasih banyak, ya,” ucapku pelan.

“Tenang saja, Dik. Mas bertanggung jawab atas kejadian ini.”

Aku terdiam, tapi rasa penasaran membuatku bertanya, “Mas, dia sangat cantik. Kenapa Mas tidak menerima cintanya?”

Mas Firman berhenti mengompres pipiku. Ia menatapku lekat-lekat, membuatku kikuk. “Dik Fitri mau jawaban yang serius atau yang bohong?” tanyanya sambil tersenyum kecil.

“Yang seriuslah,” jawabku, berusaha menenangkan detak jantungku yang tiba-tiba tidak karuan.

“Awalnya, Mas tidak ada rasa apa-apa sama dia. Tapi entah kenapa, setelah pertemuan ini, Mas merasa nyaman. Gadis itu polos, baik, rajin, dan yang paling penting, dia rajin ibadah. Itu yang Mas kagumi darinya.”

Aku menatapnya penasaran. “Jadi, Mas suka sama gadis itu?”

“Iya, dan gadis itu… ada di hadapan Mas sekarang.”

Aku membeku, tidak tahu harus merasa bagaimana. Senang atau biasa saja? Tapi hatiku tidak bisa berbohong. Aku bahagia.

Mas Firman melanjutkan, “Percayalah, Dik. Mas tidak pernah mengalami ini sebelumnya. Mas tidak mudah jatuh cinta pada pandangan pertama, tapi Mas tidak bisa membohongi diri ini. Mas menyukai kamu. Apakah Mas salah?”

Aku menatapnya lekat-lekat. “Mas, jatuh cinta itu tidak salah. Bukankah setiap orang berhak mendapatkan cinta?”

📚 Artikel Terkait

Selamat Ulang Tahun ke-22 Majalah POTRET

Resah Batin Ini

Mensyukuri Nikmat Allah

Aksi Sosial Murid SD Negeri 8 Baktya Barat di Jum’at Berkah Menjelang Ramadhan

Ia tersenyum, dan senyuman itu menembus hatiku, membuat jiwaku seperti dibelai kasih. Semua terasa indah.

Sasak asmara itu tumbuh dengan cepat, tertancap di relung hati ini. Cinta tersahut, dan rindu pun bersambut.

Rencana awal, di mana Mas Firman ingin membantu mencari kakak angkatku, akhirnya tidak kami lakukan. Mas Firman malah menyuruhku tetap tinggal di rumahnya.

“Dik, maaf atas kelancangan Mas, ya. Jujur, apa yang Mas rasakan, itulah yang harus Mas utarakan. Mas ingin jujur dengan perasaan ini. Dik Fitri boleh menjawab sekarang atau nanti, Mas akan tetap menunggu,” ucapnya lembut.

Related Postingan

Haul Gus Dur, Pesan Moral Tajam Santun

Haul Gus Dur, Pesan Moral Tajam Santun

Oleh Redaksi
January 23, 2026
0
53

SASTRA MASYARAKAT Oleh Akaha Taufan Aminudin Tulisan dari Cakndjojo ini bukan sekadar ulasan acara, melainkan sebuah narasi apresiatif yang kaya...

Luka, Cinta, dan Politik Tubuh Perempuan

Luka, Cinta, dan Politik Tubuh Perempuan

Oleh Novita Sari Yahya
January 23, 2026
0
64

Oleh: Novita Sari Yahya Membaca Sastra Perempuan Indonesia dari 1965 hingga Pascareformasi** Pendahuluan Sastra Indonesia modern kerap menghadirkan perempuan sebagai...

Demi Anak Cucu

Demi Anak Cucu

Oleh Redaksi
January 21, 2026
0
64

Demi Anak Cucu By Asmaul HusnaInong Literasi Fajar berdiri terdiam di hadapan tumpukan gelondongan kayu. Pohon-pohon yang dulu tegak dan...

Penyeimbangan Maskulinitas Dunia Politik melalui Seni dan Sastra

Oleh Novita Sari Yahya
January 20, 2026
0
54

Oleh: Novita Sari Yahya Pendahuluan: Politik, Maskulinitas, dan Risiko Kekuasaan Sejak lama, dunia politik dipahami sebagai arena maskulinitas yang keras....

Sebuah Puisi Esai tentang Bencana Sumatra dan Luka Ekologis(12)

Ketika Gagasan Tertimbun Lumpur

Oleh Redaksi
January 8, 2026
0
61

Oleh Asmaul HusnaInong Literasi Purnama yang dahulu dirindukan telah lama menghilang, tergantikan sabit yang malu-malu bersembunyi di balik awan. Desir...

Mas Firman, kamu tahu cara memahami wanita. Kamu membuat siapa pun yang bersamamu merasa enggan menjauh. Ah, pantas saja Ira tergila-gila padamu. Selain pekerja keras, kamu juga tahu cara menghargai wanita, Mas. Batin ini terus berdialog tentangnya.

“Dik, kalau begitu Mas antar kamu ke kamar, ya? Istirahatlah lagi,” ujarnya lembut.

Aku hanya mengangguk pelan. Mas Firman mengantarku sampai ke pintu kamar.

“Ya sudah, istirahatlah. Kalau butuh apa-apa, panggil saja Mas atau Bik Ijah, ya,” katanya lagi.

“Oh ya, boleh Mas lihat foto kakak angkatmu, Dik?” tanyanya tiba-tiba.

“Iya, Mas, sebentar ya.” Aku segera mencari baju yang kukenakan semalam. Setelah menemukan foto itu, aku menyerahkannya kepada Mas Firman.

“Ini, Mas. Ini foto kakakku, dan di belakangnya ada nomor ponsel juga. Semoga nomornya masih aktif, karena menurut Ibu, ini satu-satunya nomor yang bisa dihubungi,” jelasku.

Tiba-tiba ponsel Mas Firman berdering sebelum aku sempat menyerahkan foto itu.

“Dik, letakkan saja fotonya di meja samping pintu ini, ya?” pintanya, sambil menunjuk meja di samping pintu kamar. Aku menuruti ucapannya, lalu ia bergegas menjawab panggilan telepon.

Aku pun kembali ke kamar dan melanjutkan istirahat.

Tok tok tok

Aku terbangun mendengar ketukan pintu. Kulihat jam di samping tempat tidur, ternyata sudah sore.

“Neng, ini Bik Ijah. Boleh Bibik masuk?” suara dari luar terdengar.

“Iya, Bik. Silakan, pintunya tidak terkunci,” jawabku.

Bik Ijah masuk ke kamar, membawa nampan berisi makanan.

“Neng, ayo makan dulu. Dari tadi siang Neng belum makan. Bibik tadi segan membangunkan karena khawatir Neng sedang pulas,” katanya lembut.

“Oh, ya, Bik. Iya, tadi saya memang tidur nyenyak sekali, hehehe,” jawabku singkat.

Saat Bik Ijah hendak pergi, aku memanggilnya.

“Bik, maaf, saya boleh tanya sesuatu?” tanyaku ragu.

“Boleh, Neng. Silakan. Neng mau tanya soal Nak Firman, kan? Neng suka, ya, sama Nak Firman?” godanya.

Aku tiba-tiba gugup.

“Bukan, Bik. Saya cuma penasaran. Memangnya selama ini tidak ada gadis yang dicintai oleh Mas Firman?” tanyaku. “Tadi pagi, saat makan nasi goreng kampung, dia bilang kalau rasanya mirip masakan wanita yang amat dia cintai, loh, Bik.”

“Oh, kalau itu, Neng, setahu Bibik, wanita yang dimaksud itu ibu angkatnya. Ibu yang penuh kasih sayang dan cinta. Nak Firman pernah cerita, dia sudah menyiapkan rumah yang lebih besar untuk ibu dan adik perempuannya,” jelas Bik Ijah.

“Apa, Bik? Jadi Mas Firman sudah mempersiapkan rumah untuk ibu dan adiknya? Wah, beruntung sekali mereka ya, Bik. Mas Firman benar-benar melindungi dan menyayangi keluarganya.”

“Neng, menurut Bibik, ada kebetulan, nggak? Neng Fitri ke sini mencari kakak angkat bernama Firman, dan Nak Firman pernah cerita kalau dia punya adik perempuan angkat bernama Fitri juga. Apalagi dulu Nak Firman sering mengirim uang untuk ibunya. Setelah ponselnya hilang, dia kehilangan kontak dengan mereka.”

Aku mendengar cerita itu dengan penuh semangat.

“Tapi, Bik, ibu saya bilang Mas Firman itu anak yang sangat berbakti. Dia sering mengirim uang belanja, tapi kami khawatir karena nomor kontaknya tidak bisa dihubungi lagi. Itulah kenapa saya nekat ke kota ini untuk mencarinya,” jelasku.

“Boleh Bibik lihat foto dan nomor kontak itu, Neng?” pinta Bik Ijah.

“Oh, iya, Bik. Ada di meja dekat pintu,” tunjukku.

Bik Ijah mengambil foto itu, memperhatikannya dengan seksama.

“Neng, wajah di foto ini tidak asing. Mirip sekali dengan Nak Firman. Bahkan tahi lalat di samping mata kanannya sama persis,” katanya terkejut.

Aku langsung mengambil foto itu dan memperhatikannya lebih saksama. Tiba-tiba hatiku berdegup kencang. Apakah mungkin Mas Firman adalah kakak angkat yang selama ini kucari?

“Neng, jika benar orang di foto ini adalah kakak angkat Neng, maka ini bukan kebetulan. Ini takdir Allah yang mempertemukan kalian dengan cara yang indah,” ujar Bik Ijah sambil tersenyum. “Dibalik musibah tas Neng dijambret, Allah SWT telah menyiapkan kejutan yang luar biasa.”

Meski begitu, hatiku belum sepenuhnya yakin bahwa lelaki di foto itu adalah kakak angkatku.

“Bi, aku tidak tahu apakah aku harus bersyukur atau justru bingung jika ini benar adanya,” tanyaku dengan ragu.

“Loh, Neng, justru ini adalah momen yang kalian tunggu, kan? Mas Firman pernah bercerita kepada Bibik bahwa ia sempat pulang ke kampung untuk mencari keluarganya. Namun, saat itu, keluarga kalian sudah pindah ke desa lain,” terang Bik Ijah.

“Apa? Jadi, Mas Firman pernah mencari keluarganya? Kalau boleh tahu, desa apa, Bi?” tanyaku penasaran.

“Kalau tidak salah, Desa Suka Ramai, Neng. Bahkan, dulu dia sempat bertemu Pak Zakaria, lurah setempat,” jawab Bik Ijah.

Ketika nama Desa Suka Ramai disebut, terutama lurah bernama Zakaria, hatiku mulai yakin bahwa lelaki di foto itu adalah Mas Firman—lelaki tampan yang pagi tadi menyatakan cinta kepadaku. Tak sadar, air mataku mengalir.

Aku menangis terisak, membuat Bik Ijah panik. Ia segera mendekat dan memelukku dengan lembut.

“Neng, kenapa menangis? Apa Bibik salah bicara?” tanyanya dengan cemas.

“Tidak, Bi, aku menangis karena bahagia. Aku yakin, Mas Firman adalah kakak angkatku yang selama ini kucari. Dulu kami memang tinggal di Desa Suka Ramai, dan lurahnya memang Pak Zakaria,” jelasku sambil terisak.

“Apa Bibik masih menyimpan nomor kontak Mas Firman yang lama?” tanyaku penuh harap.

“Sebentar, Neng, Bibik cek dulu di ponsel,” jawabnya sambil membuka ponselnya dan mencari kontak. Beberapa menit kemudian, Bibik menemukan dua nomor kontak atas nama Nak Firman.

“Ini ada dua, Neng. Satu nomor lama dan satu nomor baru,” kata Bibik sambil menunjukkan ponselnya.

Kami segera memeriksa nomor kontak lama Mas Firman dan membandingkannya dengan nomor yang tertera di foto yang kubawa. Ternyata, kedua nomor itu sama. Sayangnya, nomor itu memang sudah tidak aktif.

Kenyataan itu membuatku semakin yakin bahwa Mas Firman adalah kakak angkatku. Aku menangis bahagia karena akhirnya menemukan sosok yang selama ini kurindukan. Bik Ijah ikut terharu dan memelukku kembali.

“Ya Allah, Neng, ini takdir. Kalian akhirnya dipertemukan,” ucapnya penuh haru.

“Iya, Bi. Aku akhirnya menemukan kakakku,” jawabku sambil menghapus air mata.

“Kami kehilangan jejak Kak Firman sejak ayah meninggal, dan nomor kontaknya tidak bisa dihubungi lagi. Ibu kemudian memutuskan untuk pindah ke rumah orang tuanya di desa lain. Kami tinggal di sana untuk berkebun dan menghabiskan masa tua,” ceritaku pada Bibik.

“Owalah, pantas saja Nak Firman tidak bisa menemukan kalian. Dia sempat bercerita bahwa dia sudah berusaha bertanya ke warga sekitar, tetapi tidak ada yang tahu kalian pindah ke mana,” kata Bibik dengan nada sedih.

“Iya, Bi. Ibu sebenarnya sangat merindukan Kak Firman. Tapi, kami tidak tahu bagaimana cara menghubunginya lagi,” jawabku.

Setelah beberapa saat hening, aku bertanya, “Bi, sekarang Kak Firman di mana?”

“Sepertinya sejak tadi pagi, setelah mengantar Neng ke kamar, dia buru-buru pergi ke salah satu restoran cabangnya di kota. Biasanya, dia pulang malam,” jawab Bibik.

“Apa Bibik mau meneleponnya sekarang? Bukankah ini saat yang kalian tunggu?” tawar Bibik.

“Jangan, Bi. Kita tunggu saja Kak Firman pulang,” pintaku dengan lembut.

Bibik mengangguk, dan aku kembali merenung dalam kebahagiaan yang kini terasa nyata.

***

“Mas, kamu ternyata kakakku yang selama ini kami cari,” bisikku dalam hati.

Tepat pukul delapan malam, suara deru mobil terdengar di garasi rumah. Meskipun hatiku berdebar, aku berusaha tetap tenang. Saat pintu depan dibuka oleh Bik Ijah, aku mendengar suara lelaki menyapa dengan salam.

Bik Ijah menjawab salam itu, dan terdengar percakapan mereka. Aku kembali menutup pintu kamarku, berusaha menenangkan diri.

“Bik, bagaimana keadaan Dik Fitri hari ini? Tadi pagi saya buru-buru karena ada urusan penting di restoran cabang di kota,” tanya Mas Firman.

“Alhamdulillah, Neng Fitri sehat, Nak. Kami tadi ngobrol banyak tentang kakak angkatnya. Ternyata selama ini mereka sangat merindukan kakaknya. Setelah ayah mereka meninggal, kakaknya merantau, dan di saat itu komunikasi terputus. Ibunya Neng Fitri sering sakit-sakitan sejak kehilangan kontak dengan Nak Firman. Ponsel satu-satunya milik ibunya hilang, sehingga mereka benar-benar kehilangan jejak,” jelas Bik Ijah.

Firman mendengarkan dengan saksama. “Jadi, masalahnya adalah putus komunikasi, ya, Bik? Maaf, apakah Bibik lancang kalau saya tanya, Bibik masih menyimpan foto keluarga saya?” tanyanya penasaran.

“Tunggu sebentar, Nak. Kalau tidak salah, saya masih punya,” jawab Bik Ijah sambil memeriksa dompetnya. Akhirnya, ia menunjukkan foto lama yang sudah mulai buram.

“Ini fotonya.”

“Oh, ini foto ibumu ya, Nak? Masih kelihatan muda. Dan ini ayahmu, tampan sekali. Yang kecil ini pasti adik perempuanmu, kan? Namanya Fitri juga, ya? Tapi, kok foto ini mirip dengan yang dimiliki Neng Fitri?” kata Bik Ijah, membuat Firman terkejut.

“Maksud Bibik, foto saya ini sama persis dengan foto yang dimiliki Neng Fitri?” tanya Firman penuh penasaran.

“Sepertinya iya, Nak,” jawab Bik Ijah.

Firman termenung, memegang foto itu erat-erat. “Bik, saya tadi pagi meletakkan foto ini di meja dekat kamar Neng Fitri. Saya tidak sempat membereskannya karena terburu-buru,” jelasnya.

“Nak Firman, Bibik sudah menganggap kamu seperti anak sendiri. Melihat kamu bahagia, Bibik juga ikut bahagia. Apalagi jika kamu bisa bertemu keluargamu lagi,” ujar Bik Ijah sambil tersenyum.

Firman mengangguk dan berkata, “Bik, saya ingin menemui Neng Fitri.”

“Silakan, Nak. Bibik yakin, Neng Fitri itu adikmu,” jawab Bik Ijah.

Firman pun berjalan menuju kamarku dan mengetuk pintu. “Assalamualaikum, Dik Fitri. Ini Mas, boleh masuk?” tanyanya lembut.

Aku segera bangkit dan membuka pintu. Melihatnya memegang foto, aku langsung memeluknya erat. Air mataku mengalir deras, dan aku menangis dalam dekapannya. Firman membimbingku duduk.

“Dik, jangan menangis. Kita bicarakan pelan-pelan, ya,” katanya menenangkan.

Aku mengambil foto yang kusimpan dan menyerahkannya kepadanya. Firman memandang foto itu dengan cermat, lalu membandingkannya dengan foto keluarganya. Wajahnya tiba-tiba berubah.

“Dik Fitri, jadi kamu benar-benar adikku?” tanyanya dengan suara bergetar. Bulir air mata jatuh di pipinya. “Dik, kamu sudah sebesar ini. Kamu makin cantik. Bagaimana kabar Ibu selama ini?”

Aku tidak bisa berkata apa-apa. Aku hanya memeluknya lagi, dan kali ini ia membalas pelukan itu dengan lebih erat. Ia bahkan mencium dahiku dengan lembut.

Kami larut dalam kebahagiaan, menikmati pertemuan yang tidak pernah kami duga sebelumnya. Firman terus memelukku, seakan tak ingin kehilangan lagi.

“Dik, jangan begini. Tidak enak dilihat Bik Ijah, ya? Lepaskan dulu pelukannya,” pinta Mas Firman lembut.

“Ada apa? Apa yang terjadi? Kita cerita pelan-pelan, ya,” lanjutnya.

Aku mengambil sebuah foto dan menyerahkannya padanya. Foto itu adalah potret seorang lelaki yang terlihat gemukan dan masih remaja. Mas Firman memandangi foto itu dengan saksama. Ia lalu membandingkannya dengan foto keluarga yang ia miliki. Wajahnya tiba-tiba memucat, dan kakinya tampak gemetar.

“Dik Fitri, jadi kamu benar-benar adikku?” tanyanya dengan suara bergetar. Bulir air mata jatuh dari sudut matanya. “Dik, kamu adik kecil Kakak waktu itu? Sekarang kamu sudah sebesar ini. Kamu makin cantik. Bagaimana kabar Ibu selama ini?” tanyanya penuh haru.

Aku tak mampu berkata apa-apa, hanya kembali memeluknya. Kali ini, Mas Firman memelukku lebih erat dan mencium dahiku. Kami larut dalam suasana penuh emosi, sampai tiba-tiba suara pintu berderit memecah keheningan.

Bik Ijah masuk ke kamar. “Maaf, Neng Fitri, Nak Firman. Bibik hanya ingin memastikan, apakah kalian sudah saling tahu kalau kalian ini saudara?” tanyanya sambil tersenyum.

Aku segera memeluk Bik Ijah, dan ia pun memeluk Mas Firman. “Nak, kalian akhirnya dipertemukan. Bibik bahagia sekali. Sekarang semuanya sudah jelas. Meskipun kalian saudara angkat, Bibik berharap kalian saling menyayangi dan selalu bersama,” nasihatnya lembut.

Tiba-tiba, Mas Firman bertanya, “Bik, bagaimana dengan perasaan saya? Saya sudah mencintai Dik Fitri jauh sebelum tahu rahasia ini.”

Bik Ijah tersenyum tenang. “Nak, saat kamu diangkat menjadi cucu oleh kakek Neng Fitri, umurmu berapa?” tanyanya.

“Saya sudah kelas lima SD, Bik. Dik Fitri masih kecil seperti di foto ini,” jawab Mas Firman, menunjukkan foto keluarga mereka.

“Kalau begitu, kalian tidak sedarah dan tidak menyusui dari ibu yang sama. Jadi, hukumnya sah kalau kalian ingin menikah,” jelas Bik Ijah.

Wajah Mas Firman terlihat lega. “Jadi, saya bisa mencintai adik angkat saya, Bik?” tanyanya lagi untuk memastikan.

“Iya, Nak. Tidak ada masalah selama kalian tidak sedarah atau saudara sepersusuan,” jawab Bik Ijah meyakinkan.

Mas Firman tersenyum bahagia, sedangkan aku masih diliputi kebingungan. Setelah berbincang panjang lebar, Bik Ijah menyarankan kami segera mengabari Ibu tentang kabar bahagia ini.

“Dik, meskipun ponselmu hilang, kamu masih ingat nomor Ibu, kan?” tanya Mas Firman.

“Masih, Mas,” jawabku singkat.

“Berapa nomornya? Biar Mas telepon sekarang,” ujar Mas Firman dengan semangat.

Aku menyebutkan nomor tersebut, dan Mas Firman segera menghubungi Ibu. Kabar bahagia ini menjadi awal cerita baru bagi kami.

Aku memberikan nomor Ibu, dan Mas Firman tampak antusias ingin melakukan panggilan video dengannya. Setelah tiga kali mencoba, akhirnya panggilan itu diangkat. Wajah Ibu muncul di layar ponsel Mas Firman.

“Mas, biar Fitri bicara dulu, ya. Ibu pasti khawatir karena nomor Fitri tidak bisa dihubungi selama dua hari ini,” pintaku.

“Iya, Dik. Silakan,” jawabnya.

Aku segera menghadapkan wajahku ke layar. Begitu wajahku muncul, Ibu langsung berbicara dengan nada khawatir dan sedih.
“Alhamdulillah, akhirnya kamu menghubungi Ibu, Sayang. Kenapa ponselmu tidak aktif? Kamu di mana sebenarnya?” tanya Ibu bertubi-tubi.

Aku menjelaskan perlahan mulai dari niatku mencari kakak angkat, tidak memberi tahu Ibu, hingga kejadian aku dijambret dan ditolong oleh seseorang yang memberiku tempat menginap. Aku juga menceritakan bahwa aku telah menemukan kakak angkat yang selama ini dirindukan Ibu. Suara Ibu terdengar penuh emosi dan tangis selama pembicaraan kami.

Setelah panjang lebar, aku menyerahkan ponsel kepada Mas Firman. “Mas, ini Ibu. Ibu sangat merindukanmu. Bicaralah dengannya,” ujarku.

Mas Firman mengambil ponsel dan mulai berbicara dengan Ibu. Kulihat ia menangis tersedu-sedu. Mereka berbicara lama, saling melepas kerinduan. Di ujung pembicaraan, Mas Firman bahkan mengungkapkan bahwa ia mencintaiku. Aku memilih diam, membiarkan mereka melanjutkan percakapan hingga akhirnya aku tertidur di samping Mas Firman.

Dua minggu berlalu sejak aku tinggal di rumah Mas Firman. Akhirnya, kami berpamitan kepada Bik Ijah dan melanjutkan perjalanan pulang ke desa untuk bertemu Ibu. Dalam perjalanan, kami banyak berbincang melepas rindu.

Namun, ban mobil tiba-tiba kempis. Kami pun menepi untuk mengganti ban. Setelah selesai, Mas Firman bertanya, “Dik, perjalanan kita lanjut sekarang, atau kita istirahat dulu di kafe itu?” tanyanya sambil menunjuk sebuah kafe tak jauh dari tempat kami berhenti.

Aku mengangguk. “Ya, Mas. Istirahat dulu saja.”

Kami masuk ke kafe dan memesan makanan. Saat menunggu, Mas Firman berkata, “Dik, Mas rindu nasi goreng kampung buatanmu. Nanti masak lagi, ya?” pintanya.

Aku tersenyum. “Mas kangen buatan Fitri atau buatan Ibu, nih?” candaku.

“Keduanya,” jawabnya sambil tersenyum. Ia lalu menggenggam tanganku erat. Aku membiarkannya.

“Dik, Mas mencintaimu. Menikahlah dengan Mas, ya? Mas janji akan setia. Kita tidak ada ikatan darah atau sesusuan, jadi kita bisa bersama. Mas juga sudah mempersiapkan segalanya—rumah untuk kita bertiga, bahkan warung tempat kita bertemu itu sengaja Mas buat untuk Ibu,” ucapnya penuh keyakinan.

Aku menatap matanya yang memancarkan kejujuran. “Mas benar-benar sudah mempersiapkan semua ini?” tanyaku, meski sebenarnya aku sudah tahu dari cerita Bik Ijah.

“Iya, Dik. Mas yakin kita akan dipertemukan, meski tidak menyangka dengan cara seperti ini,” jawabnya.

Pesanan kami tiba, dan kami makan bersama sebelum melanjutkan perjalanan. Setelah beberapa jam, kami akhirnya tiba di rumah. Dari kejauhan, terlihat Ibu menunggu di depan pintu. Kami turun dari mobil dan segera menghampirinya. Ibu memeluk Mas Firman dengan erat, seolah tak ingin melepaskannya.

“Mas Firman, meski Ibu tidak melahirkanmu, Ibu sangat menyayangimu,” ucapnya sambil menahan tangis.

Melihat mereka, hatiku penuh haru. Aku bersyukur akhirnya keluarga kami dipersatukan. Ibu bahkan sudah menyiapkan nasi goreng kampung kesukaan Mas Firman. Kami berbincang hangat dan melepas rindu.

Di sela obrolan, Mas Firman berkata, “Ibu, Firman ingin meminta doa restu. Firman mencintai Dik Fitri dan ingin menikahinya.”

Ibu terdiam sesaat, lalu tersenyum. “Ibu restui, Nak. Yang penting kalian bahagia dan saling menjaga. Ibu tahu Firman akan menjadi suami yang baik untuk Fitri.”

Air mata kebahagiaan mengalir di antara kami. Perjalanan hidup ini ternyata penuh kejutan, tetapi semuanya berujung pada kebahagiaan yang tak terhingga.Bottom of Form

Mas firman tertidur dalam pangkuan ibu. Aku membiarkan kedua ibu dan anak itu saling menumpahkan rindunya.

“Mas firman kamu lelaki yang tulus, bertanggung jawab dan kamu berani menunjukkan kesungguhan terhadap perasaanmu. Dan aku, Mas. Aku juga merasakan ketulusan itu, perhatian, dan kasih sayang yang Mas tunjukkan. Aku tak akan menahan perasaanku lagi, Mas. Aku akan menerima Mas sebagai imamku, ayah dari anak-anak kita kelak.”

“Mas, aku takut… takut jika ada wanita lain yang ingin merebutmu. Aku akan menerima cinta dan lamaranmu. Semoga Allah SWT meridai hubungan kita ini. Jangan pernah berubah, ya, Mas? Jangan pernah berubah untuk semua rasa yang telah kita bangun bersama,” ucapku sambil tersenyum manis.

Mas Firman menatapku dengan dalam, tatapan yang tak mampu kutolak. Ia memegang erat tanganku dan berkata, “Sayang, percayalah pada Mas. Saat ini, hanya kamu pemilik hati Mas. Kamu serius, kan, menerima lamaran dan cinta Mas?” tanyanya, memastikan lagi.

Aku mengangguk dengan penuh keyakinan.

“Sayang, aku mencintaimu,” katanya lembut.

Untuk pertama kalinya, ia memanggilku “Sayang.” Biasanya, ia memanggilku “Dik Fitri.” Hatiku berdegup kencang.

“Kamu mengangguk, Dik Fitri, Sayangku. Kamu benar-benar mengangguk, kan? Itu artinya kamu menerima Mas, ya?”

Aku tersenyum dan mengangguk lagi.

“Terima kasih, Sayang. Aku janji akan terus membahagiakanmu dan Ibu. Kita akan merawat beliau bersama-sama, ya?” ujarnya.

“Iya, Mas. Insyaallah, semoga Allah memudahkan niat baik kita ini,” jawabku tulus.

Cinta itu memang sulit ditebak kapan datangnya. Namun, ketika sudah menemukan pemilik yang tepat, cinta itu harus dijaga. Ketulusan cinta adalah pilar kehidupan untuk masa depan.

***

Akhirnya, hari yang kutunggu tiba. Pernikahan sederhana ini berlangsung dengan penuh kebahagiaan. Ibu tampak sangat bahagia karena melihat kami bisa bersatu kembali. Dua insan yang sebelumnya hanya terhubung sebagai saudara angkat kini dipersatukan dalam mahligai cinta. Rindu yang selama ini terpendam akhirnya terbayar.

Hari-hariku kini dipenuhi kebahagiaan.

“Aku mencintaimu, Mas Firman. Aku mencintaimu,” ucapku penuh cinta.

“Aku juga mencintaimu, istriku Sayang. Perpisahan ini tertebus oleh ketulusan hatimu dan hatiku. I love you, my honey. Jangan pernah berubah, ya. Tetaplah menjadi bidadariku,” jawab Mas Firman sambil memelukku dan mengecup dahiku.

Setelah tiga minggu di desa, akhirnya aku dan Ibu diboyong ke rumah Mas Firman. Kami bertemu kembali dengan Bik Ijah, yang kini sudah kami anggap sebagai keluarga sendiri. Ibu terlihat bahagia memiliki teman di rumah, yaitu Bik Ijah.

“Terima kasih, ya, Rabbi, atas nikmat ini. Aku bisa bersama orang-orang yang kucintai dan mencintaiku,” bisikku dalam hati.

Mas Firman menghadiahkan sebuah warung makan untuk Ibu. Meskipun ada pegawai yang dikelola oleh Mas Firman, Ibu sangat bersyukur atas perhatian yang diberikan. Di sisi lain, Mas Firman terus mengembangkan bisnis kulinernya di kota.

“Sayang, kamu di sini? Mas kira kamu ke mana. Mas takut kamu pergi,” goda suamiku.

“Sayang, malam ini indah sekali, ya? Lihatlah rembulan itu,” katanya sambil menunjuk bulan yang terang.

Kami sedang duduk di teras atas rumah, menikmati udara segar malam hari. Ia mendekapku erat sambil memandangiku dengan penuh cinta.

“Kamu, si kecil yang dulu cengeng, kini telah menjadi istri yang paling kucintai,” katanya sambil tersenyum jahil.

Aku mencubit pipinya dengan manja. Ia membalasnya dengan sebuah kecupan.

Kini, asmara yang kupeluk adalah cinta bersama kakak angkatku. []

TAMAT.

 

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share4SendShareScanShare
Nendawati

Nendawati

Nendawati, lahir di Jakarta 5 Agustus 1985. Ibu rumah tangga juga Persit. Mulai menyukai dunia literasi saat pandemi. Ingin melakukan sesatu yang bermanfaat meskipun sebiji zarrah menulis , demi sebuah peradaban berjihad memerangi porno literasi. Menulis menandai kita ada. Maka, ada yang harus kita wariskan untuk generasi penerus  lewat tulisan, karya yang positif. Berfikir positif agar bisa mengarahkan tindakan tujuan yang bermanfaat untuk sesama.

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Seluk Beluk Sanubari

Seluk Beluk Sanubari

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00