Senin, April 20, 2026

Seluk Beluk Sanubari

Januari 2025
Oleh: Reza Fahlevi

Sampai sejauh ini kau akhirnya datang dan bertanya

Maka akan kujelaskan dengan cara sederhana;

Aku tidak bercerita lagi

Karna jiwa telah mati

Terkubur bersama impian

Impian yang dulu kuagungkan

 

Aku sudah tidak bercerita lagi

Karna asa pupus di tengah perjalanan

Semua mengempaskan cita-cita

Mengubah cahaya menjadi kegelapan

 

Aku sudah berhenti bercerita

Sebab kau yang takkan pernah sudi mendengarkannya

Kupendam semua luka

Tak kupedulikan jiwa meronta-ronta di dalam penderitaan

Kau tak melihat air mata ini

Kau tak bisa melihatnya

Kau tidak melihat bagaimana aku memendam tangisan

Kau tidak merasakan apa yang kurasakan

 

Kesakitan menghancurkan kesucian kehidupan

Membangkitkan bara merah yang berlandas dendam

Aku membenci di balik senyuman yang kau perhatikan

Aku muak di balik semua canda tawa yang kau dengar

Aku pun murka di balik bijaknya kata-kata yang kuberikan padamu

 

Telah berada di ujung harapan

Telah berada diriku di ambang kehancuran

Aku sudah memasuki tahapan kritis

Tahapan di mana aku melihat diriku di hadapan cermin bersama ribuan luka batin ini

 

Luka yang tak terlihat

Terasa lebih menyakitkan

Ia menusukku dengan kejam

Tanpa pengampunan

Tanpa belas kasih

Dan membiarkan diriku mati perlahan-lahan

 

Luka yang tak terlihat adalah penderitaan yang tak berujung

Kurasakan kebahagiaan lenyap satu per satu

Hatiku menghitam dan tak bisa merasakan apapun

Kecuali hanya keputusasaan

 

Karna luka yang tak terlihat ini

Berawal dari pengakuanmu yang mengabaikanku

Kau menganggapku ada hanya sebagai sampah

Kau menganggapku ada hanya sebagai sosok yang bisa dipermainkan

 

Semua kepedulian yang kuberikan

Kau balas dengan pengecualian

Mengecualikan kepedulianmu kepadaku

Dan terus meremehkan perasaanku yang tulus ini

 

Dan saat aku mengeluh

Kau bilang aku hanyalah seorang yang lemah

Dan saat aku bercerita

Kau bilang aku terlalu mengkek

Maka kuputuskan berhenti berbicara

Sebagimana aku memutuskan untuk pergi dari radar keberadaanmu

 

Meskipun angin membisikkan kata-kata pelipur lara

Walaupun rerumputan hijau mencoba menghibur sanubariku yang tercabik-cabik

Aku tetap tak bisa merasakan apa-apa

Hanya kehampaan yang kini merasuki jiwa

 

Aku berhenti bercerita

Karna kau tak ingin mendengarkannya

Aku berhenti bercerita

Karna ku tau aku tak perlu melakukannya

Sampai nanti denyut nadi berdetak untuk terakhir kalinya

Kau tatap takkan sudi menganggapku ada sebagai sosok yang mencintaimu setulus mungkin

 

Dan karna itu… aku berhenti mengagumimu

Meski auramu masih tetap terasa syahdu di dalam seluk beluk hati ini

Atas alasan itu pula aku tak pernah bisa membencimu

Sebagaimana kau membenciku tanpa alasan

Di kala itu

 

Tentang Penulis
Lahir di Banda Aceh pada Tanggal 9 september 1996, Reza Fahlevi sudah mulai menyukai dunia kepenulisan sejak masih duduk di bangku SMP. Tulisannya berupa cerita-cerita pendek terdapat di berbagai platform seperti KBM, Fizzo, Blogspot dan sekarang aktif menulis di Medium. Beberapa tulisan Reza dalam bentuk puisi pernah diterbitkan oleh Warta USK. Ia juga pernah memenangkan lomba menulis novel yang diadakan oleh penerbit USK Press serta juga menjadi salah satu penulis dalam dua buku antologi yang berjudul Jembatan Kenangan (Jilid II) dan Kebun Bunga Itu Telah Kering. Selain menulis, Reza turut serta menjadi salah satu tenaga pendidik di sekolah MIN 20 Aceh Besar.

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Puisi terbaru untuk dibaca

Populer

Puisi yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist