Puisi-Puisi Kenangan Tsunami
RINAI HUJAN Delia Rawanita Rinai hujan pagi ini adalah penyejuk duka mengenang syuhada sembilan belas tahun yang lalu...
Rubrik Puisi adalah ruang bagi kata-kata yang diramu menjadi cahaya, luka, harapan, dan rahasia. Di sini, setiap bait bukan sekadar rangkaian kalimat, tetapi jejak perasaan yang ditulis dengan ketajaman imaji dan kejujuran batin. Rubrik ini membuka pintu bagi suara-suara yang ingin berbicara lewat lirih metafora, menantang keheningan, dan merayakan sisi paling manusia dari pengalaman: cinta, kehilangan, waktu, dan kerinduan. Setiap puisi menjadi undangan untuk berhenti sejenak, lalu merasakan.
RINAI HUJAN Delia Rawanita Rinai hujan pagi ini adalah penyejuk duka mengenang syuhada sembilan belas tahun yang lalu...
Oleh Tabrani Yunis Badut itu garang bergoyang di panggung Dengan suara mendengung-dengung Beretorika ke hulu ke hilir tak...
Oleh Zab Bransah Ini cerita kita dulu Lonceng kelas berbunyi Kita masih bergandeng tangan di pintu gerbang sekolah...
Oleh : Arif Mustaqim – Pembangunan genting Janji janji dan pencitraan membalut nyeri Para petinggi yang awalnya bersumpah...
* Zab Bransah. ( Langsa Aceh) Kutulis lagi makna petang ini Kucatat lagi kisah ini Maka puisiku...
TEROMPAH IBU Delia Rawanita Bu Maafkan bila baru hari ini aku menyampaikannya Padahal aku berjanji untuk menyimpan dalam...
Oleh Zulkifli Abdy Di ketinggian tiga puluh ribu kaki Aku bersaksi atas keagungan Mu Semburat mentari menyapa pagi...
Oleh Tabrani Yunis Cermin malam Menatap wajah-wajah buram Nan berselimut kelam Dalam debu jerabu hitam Wajah-wajah pualam tampak...
SECANGKIR KOPI Tatkala terjaga di malam sunyi secangkir kopi itu telah basi Yang tersisa hanya ilusi tentang sebuah...