Rubrik Puisi adalah ruang bagi kata-kata yang diramu menjadi cahaya, luka, harapan, dan rahasia. Di sini, setiap bait bukan sekadar rangkaian kalimat, tetapi jejak perasaan yang ditulis dengan ketajaman imaji dan kejujuran batin.
Rubrik ini membuka pintu bagi suara-suara yang ingin berbicara lewat lirih metafora, menantang keheningan, dan merayakan sisi paling manusia dari pengalaman: cinta, kehilangan, waktu, dan kerinduan. Setiap puisi menjadi undangan untuk berhenti sejenak, lalu merasakan.
Oleh Reza Fahlevi Mengejar harapanBersama lantunan doaAku terempas ke dasar jurangHampir putus asaKarna salah dalam menanamkan persepsi hati Membisikkan sajak-sajakSebagai...
Buka Puasa Pertama Buka puasa pertamaBersama pelengkap tulang rusukCinta yang membentuk khusyuk Tangan yang begitu cekatanMenyajikan hidangan sepuncak nikmatSepuncak khidmat...
Oleh : Reza Fahlevi Dia hanya diamMembisu Sunyi bersama tatapan penuh harapanBerpikir bahwa masa lalu bisa diubahDan itu membuatnya tertegunBahkan...
Oleh : Ririe Aiko (Berdasarkan kisah nyata Supandi, seorang guru honorer di Sukabumi yang hanya digaji Rp192.000 per bulan, namun...
Kenapa kita harus bertemu? Aku seperti terjebak di dalam ruang lingkup keberadaanmu Tapi lucunya aku malah menyukainya Dan ingin terus...
Kapan negeri ini pernah terang?Kapan garuda ini dapat terbang?Semakin hari semakin gelapRakyatnya hanya bisa meratapNegeriku dihancurkan tikus-tikus biadapLaut dijadikan hak...
Kita harus taat aturan Kita harus taat hukum Kita harus taat atasan Kita harus taat lalu lintas Kita harus taat...
Oleh Tabrani Yunis Katamu Negeri ini tanah surga Hasil bumi melimpah ruah Negeri makmur dan kaya raya Menyimpan emas,nikel dan rempah...
Oleh : Ririe Aiko Di negeri yang kaya raya,Rakyatnya milih kabur entah kemana.Bukan karena tidak cinta,Tapi karena sadar,Cinta tanah air,Nggak...
Puisi Anto Narasoma cucuku,sudah nenek pintal karakter kehidupan yang mewarnai lukisan kau dan aku begitu luas kanvas inisetelah benang-benang putih...
© 2026 potretonline.com