Rubrik Puisi adalah ruang bagi kata-kata yang diramu menjadi cahaya, luka, harapan, dan rahasia. Di sini, setiap bait bukan sekadar rangkaian kalimat, tetapi jejak perasaan yang ditulis dengan ketajaman imaji dan kejujuran batin.
Rubrik ini membuka pintu bagi suara-suara yang ingin berbicara lewat lirih metafora, menantang keheningan, dan merayakan sisi paling manusia dari pengalaman: cinta, kehilangan, waktu, dan kerinduan. Setiap puisi menjadi undangan untuk berhenti sejenak, lalu merasakan.
Oleh Reza Fahlevi Setelah kau pergi jauhSemua yang tertinggal hanyalah kenanganDan aku terpurukAku terbenamKarena kenangan bersamamu menghadirkan sejuta senyumanSenyuman yang...
Puisi/lagu Ramadan 26: JIKA DATANG MUSIBAH jika datang musibah itu ujian dari Allah sejauh mana darjah tabah ...
Mustiar Ar : ACEH Di garis wajahmuKubaca pesanYang luruh di jiwa. Liuk tubuhmu, yang lembutAdalah misteri, yang tak teruraiSenyummu, yang...
puisi Marlin Dinamikanto namaku el_Sayemperempuan asli Gunungkiduldulunya sering dipanggil Iyemkembang desa Gua Pindul dusun Gelaran Satu tempat lahirkuberjuang hidup menepis...
Oleh Sindi HazirahKembali Dekap aku dengan hangatmu lagiCeritakan hal-hal lucu setiap hariTertawa, menangis, bersama dirimu aku merasa disayangiKembaliKatakan pada dunia...
Lihatlah di wajahnya Tatap sebaik mungkin Tatap sampai kau menyadari satu hal Satu hal tentang… Hilangnya cahaya dari wajahnya Meskipun...
Honorarium Jiwa Nukilan: M. Perindu Seni Sekeping hati suci Hargai sekalung budi Mentafsir fikir muhasabah diri Mendidik erti makna syukur...
Oleh Heri Haliling Mau heran tapi ini Negeri Sine Qua Non. Dari yang kupahami, kurang kreatif apalagi negeriku ini. Sejak dalam...
Oleh Zainatul Shuhaida Abdull Rahman Pensyarah Kanan, University Teknologi MARA Shah Alam, Selangor, Malaysia ...
968 T dan Mencemburui Neraka Aku melihat mereka dengan 968 T,mereka tertawa,sementara aku mengunyah kehampaan Aku berpuasa, aku bersujud,tapi cemburu ini lebih digdayaLebih panas dari dahaga.Lebih pekat dari malam-malamku yang hampa doa. Mereka mencuri, tapi tak dihukum.Mereka menipu, tapi tetap sucimereka menukar dosa dengan sedekah,Sementara aku menahan diri,perutku melilit, kerongkonganku kering,dan hatiku membusuk dalam dengki karena aku hanya menghitung receh di kantong lusuhmenakar iman yang semakin hambar. Tuhan, katakan padaku,Apakah surga hanya untuk mereka yang bisa membelinya,dengan uang yang didapat semudah air liur? Tuhan, mengapa mereka tetap tersenyum?tertawa di meja-meja megah,sementara aku menunggu magribdengan perut yang mengutuk langit? Malam ini aku sujud lebih lama,bukan untuk meminta ampun,tapi untuk bertanya,apakah aku boleh mencemburui neraka? Montasik, 5 Ramadhan 1446 Puasa Tanpa Cahaya Terhuyung dalam lapar dan haus, Bersama matahari dan palu pemecah batu Aku tahankan lapar ini, tapi aku kenyang oleh iri,hausku bukan air, tapi dendam yang tak terpuaskan.menghanguskan setiap ibadah,menjadikannya abu tanpa cahaya. Aku duduk merunduk di sajadah lusuh,tapi hatiku penuh letusan keluh,Tuhanku tetap terasa jauh,lidahku hanya mengulang,tanpa jiwa yang berserah. Orang-orang bersujud, menangis dalam syukur,aku bersujud, menangis dalam kehampaan.Malam-malamku penuh doa,tapi tak lebih gema kosong,memantul di dinding langit yang tak jua terbuka. Aku berpuasa, aku shalat, aku membaca firman-Nya,tapi di dalam dadaku,amarah masih menggeram, dengki masih berakar,tak bisa menyelamatkan hati yang menolak tunduk....
© 2026 potretonline.com






