Senin, April 20, 2026

Puncak Kesesatan

Maret 2025
Oleh: Reza Fahlevi

Dia berada di batas kehampaan
Melihat dan merasakan yang tak ada

Bertutur kata seolah-olah dialah yang terbaik
Mengabaikan nasehat seakan-akan kebenaran hanya miliknya

Dan dia berjalan angkuh
tanpa menyadari
Bahwa tanah tempatnya melangkah adalah milik Tuhan

Dia bernapas namun lupa diri
Tak sadar bahwa udara yang ia hirup itu
Semuanya ada atas kasih sayang dan kehendak Tuhan

Lantas
Ketika sesuatu berjalan tidak sesuai keinginan
Dia berani mencaci alam
Dia bahkan tak peduli sama sekali

Kehancuran di dalam batinnya
Bagaikan sebuah bencana gempa bumi halus
Gesekannya yang lambat mampu memisahkan sebuah pulau
Dan dia sama sekali tidak merasakannya
Bahwa hatinya telah menjadi kepingan yang Tak bermakna

Cahaya kalbu meredup
Semua harapan lenyap
Lalu
Dia mencoba mengakali semua itu
Dengan menjadi sosok lain
Hingga tersesatlah dirinya di tengah hamparan gurun pasir
Sebab
Dia hanya berjalan di tempat yang sama
Berulang kali

Sebab kebengisan di hatinya
Memupuskan mimpi masa depan
Dia hidup hanya untuk mencaci maki
Caci maki yang timbul dari gejolak amarah
Amarah yang tak terkontrol

Namun
Mereka tidak melihatnya
Karna sosok munafik selalu berhasil menyembunyikan bayangan aslinya
Dia berkata — dia bertindak — dia membatin — semua hanya ujaran kebencian

Sepertinya
Telapak kakinya telah berada di puncak kesesatan
Kesesatan yang mengurung jiwa dari meraih kasih sayang Tuhan
Dia mengabaikan segala kewajiban
Dan mulai berlabuh melakukan apapun yang seharusnya ia hindari

Lupa bahwa kematian itu nyata
Lupa bahwa ia sangatlah dekat dengan kematian
Lupa bahwa nyawanya bisa merana sewaktu-waktu
Dia tetap berpegang teguh pada kebencian
Semua didasarkan atas luka batin yang ia rasakan selama bertahun-tahun
Menjadikan itu sebagai alasan yang tidak logis

Dia lupa bahwa akan ada kehidupan setelah kehidupan
Dia lupa bahwa ada tanggung jawab yang mesti ia pertanggung jawabkan
Hidup dan terus hidup
Sambil mengumbar kebencian dari belakang

Tapi, kau tau bahwa Tuhan Maha Penyayang
Selalu ada pintu bagi manusia pendosa
Selalu ada kesempatan bagi dirinya yang lupa diri
Mungkin tidak hari ini
Mungkin belum tiba waktunya
Namun, jika dia tak kunjung sadar
Waktu akan berlalu pergi tanpa pernah kembali

Lalu, bagaimana?
Hanya doa sebagai pertolongan terakhir
Dan di bawah langit yang suci ini
Titipkanlah sahabatmu sebuah surat cinta
Titipkanlah kepada Tuhan meski hanya berdengung dari batin sunyimu
Kau pasti tak rela melihatnya merana
Kau pasti tak rela melihatnya terus berjalan dalam kesesatan

Sebelum waktunya habis
Sebelum semuanya terlambat
Kesesatan
Selalu ada cara untuk melunakkannya
Selalu ada cara untuk kembali kepada Tuhan

Tentang Penulis
Lahir di Banda Aceh pada Tanggal 9 september 1996, Reza Fahlevi sudah mulai menyukai dunia kepenulisan sejak masih duduk di bangku SMP. Tulisannya berupa cerita-cerita pendek terdapat di berbagai platform seperti KBM, Fizzo, Blogspot dan sekarang aktif menulis di Medium. Beberapa tulisan Reza dalam bentuk puisi pernah diterbitkan oleh Warta USK. Ia juga pernah memenangkan lomba menulis novel yang diadakan oleh penerbit USK Press serta juga menjadi salah satu penulis dalam dua buku antologi yang berjudul Jembatan Kenangan (Jilid II) dan Kebun Bunga Itu Telah Kering. Selain menulis, Reza turut serta menjadi salah satu tenaga pendidik di sekolah MIN 20 Aceh Besar.

Diskusi

Upload foto profil kecil (opsional)
Preview avatar
Memuat komentar...

Terbaru

Puisi terbaru untuk dibaca

Populer

Puisi yang banyak dibaca

Populer Mingguan

Berdasarkan jumlah pembaca 7 hari terakhir

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Add New Playlist