• Latest

Bukan Kami Yang Menginginkannya

Februari 20, 2018
7a99e876-6eef-41d6-9907-7169c5920d83

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
85645e8f-e49d-463f-8fa4-730280ce2b71

Pentingnya Sastra dalam Sistem Pendidikan Rusia sebagai Landasan Pembentukan Karakter dan Pola Pikir

Maret 31, 2026
Bukan Kami Yang Menginginkannya - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | Cerpen | Potret Online

Dari Geopolitik ke Dapur Rakyat: Krisis Global dan Rapuhnya Ekonomi Indonesia

Maret 31, 2026
ba05a86a-c490-46bf-9ae8-c75ef1da62eb

Nasrallah dan Jugendliteratur

Maret 31, 2026
cd371ba6-715d-447b-b94a-30123cf2d952

Pendidikan Hadapi Ancaman Nyata

Maret 31, 2026
Ilustrasi Ngopi Bersama Ali Shariati dan Nietsche

Aceh Meniru Jakarta

Maret 31, 2026
Bukan Kami Yang Menginginkannya - 09ff0262 2fb8 4c93 9f84 06e6009c9293 | Cerpen | Potret Online

Menanti Dinas Pendidikan Provinsi Aceh Bersinergi Membangun Literasi Anak Negeri

Maret 31, 2026
Ilustrasi ketidakadilan hukum terhadap rakyat kecil

Hukum yang “Sakit” Hati : Rakyat Kecil Hanya Bisa Mengeluh

Maret 31, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Bukan Kami Yang Menginginkannya

Redaksi by Redaksi
Februari 20, 2018
in Cerpen
Reading Time: 5 mins read
0
586
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook
ADVERTISEMENT


Oleh Raufa Rachma
Email : raufarachma@gmail.com
            Salam buat yang sedang baca tulisan tak bernilai ini, yang tak pantas diterbitkan di sebuah majalah, tetapi pantas diterbitkan di setiap memori para pembaca yang setia dan penasaran  dengan cerita ini. Sebelumnya, supaya lebih akrab, kita berkenalan dulu. Namaku Mich Yung. Aku lahir dan hidup dalam keluarga berekonomi rendah. Tak punya kakak, abang, ataupun adik. Bahkan aku saja tak tahu siapa sepupuku. Kisah ini mungkin biasa saja bagi para pembaca, tetapi sangat kejam bagiku. Dunia seakan tak adil. “Mich Yung” laki laki yang tak beruntung, itu sih menurutku.
            Sejak kecil aku tinggal bersama keluarga yang nasibnya kurang beruntung. Diperlakukan seperti anak sendiri oleh seorang perempuan yang belum beranjak remaja. Kuperkenalkan dulu mengenai keluarga ini. Keluarga ini terdiri dari dua anak laki laki yaitu Tan dan Stephen, dua anak perempuan yaitu Min dan Hayaki, seorang ayah bernama Lee, dan seorang ibu bernama Emma. Pada saat itu aku masuk dalam anggota keluarga ini saat aku berumur 3 bulan. Hubungan orang tuaku dengan keluarga ini sangat dekat. Tetapi sifat orang tuaku dengan keluarga ini sangat jauh, sejauh matahari dengan planet Uranus. Hal yang ingin kutanyakan pada diriku ialah “Mengapa aku tak seberuntung kalian? Jika aku tak pernah beruntung, mengapa aku dilahirkan?”. Katanya’ manusia itu tak pernah bersyukur atas apa yang sudah ia dapatkan dan ia juga tidak sadar’, mungkin ada benarnya. Kata keluarga ini aku selalu diberikan makanan yang sehat, dirawat, dikasihani, dimanja dan banyak lagi. Tapi bukan itu yang kumaksud, aku ingin orang tuaku yang melakukan hal hal seperti ‘dimanja’ kepadaku.
            Baiklah, akan kukisahkan tentang orang tuaku dulu. Orang tuaku tidak kaya, tetapi bekerja. Aku tidak pernah tahu apa pekerjaan mereka dan Keluarga Lee juga tidak tahu. Ada yang mengatakan seorang sales dan lain lain. Sales memang nampak buruk di kalangan setiap orang, tapi itulah pekerjaan orang tuaku. Mengapa aku tidak menyebutkan nama orang tuaku? Karena aku malu dan tak sanggup mendengarnya. Bisa dibilang aku ini anak broken home. Tak jelas mengapa orang tuaku ingin bercerai, tetapi aku sekarang mengerti mengapa mereka bercerai. Orang tuaku nikah muda.  Jadi, keduanya masih ingin hidup seperti layaknya anak muda, seperti sering keluar malam dan hangout. Lalu mereka bertengkar tak jelas mengenai siapa yang mengurus aku saat bayi, jika keduanya pergi bersenang senang. Mereka tak menitipku karena biayanya terlalu mahal. Setelah mereka bercerai, aku pernah mendengar mereka berpacaran dengan orang lain lagi, baik mamaku dan juga papaku. Itu merupakan hal yang sangat kejam dan keji bagiku.  Aku akhirnya tinggal dan besar di dalam keluarganya Pak Lee. Ketika aku kecil, seorang bidadari yang kusebut tadilah yang sering merawatku yaitu ‘Min’. Aku sering bermain main dengan Tan dan Stephen tapi tidak dengan Hayaki. Bagiku Hayaki layaknya seorang monster. ‘Jangan ganggu aku karena aku takkan mengganggumu’ ya seperti itulah Hayaki. Hayaki dan Min memang saudara, tetapi sifatnya bagaikan air dan batu gunung. Aku tidak tahu kapan aku bisa merasakan kebersamaan bersama keluarga sendiri.
            Bulan berlalu, tahun berlalu. Saat ini aku duduk di bangku kelas 3 SMP. Setiap orang membicarakan orang tuanya ataupun keluarganya. Terkadang mereka membicarakan pekerjaan orang tua mereka. Sementara aku, apa yang akan kubicarakan mengenai orang tuaku. Lebih baik aku menjauh dari mereka karena aku sangat takut jika ditanyakan tentang keluarga. Tapi pada suatu hari, suasana di dalam kelas begitu ramai dan saat itu aku berkumpul dengan teman temanku. Tiba Tiba seorang temanku bertanya kepadaku, “Mich, mengapa orangtuamu tak pernah mengantar atau menjemputmu?”. “Mereka sibuk” jawabku bohong. “Apa pekerjaan mereka ?”tanyanya lagi. “Mereka bekerja di daerah lain, di suatu perusahaan ternama” jawabku dengan sombong. “Wah, hebat sekali orang tuamu”pujinya. Apakah mereka tidak tahu perasaanku jika mereka bertanya seperti itu padaku? Aku sudah seperti selebriti yang diwawancarai oleh banyak wartawan dengan pertanyaan yang menusuk sekaligus menjebakku.
           
            Setiap detik, menit, bahkan saat aku menghembuskan nafasku, aku selalu berdoa agar aku bisa berkumpul dengan keluargaku. Tak masalah jika keluargaku berekonomi rendah, asalkan kami dapat bersatu kembali. Setahun kemudian, ayahku menikah lagi dan yang membuatku ingin meneteskan air mata ialah saat aku tahu sosok yang dinikahkan ayahku ialah bibinya teman sekelasku sewaktu SMP. Di acara itu tentu aku bertemu dengan teman sekelasku. Aku mencoba menghindar, namun akhirnya temanku menegurku. “Hei Mich aku ingin bertanya, yang menikah dengan bibiku bukankah ayahmu? Lalu bagaimana dengan ibumu? Dan katamu ayahmu itu bekerja di perusahaan ternama, tapi.. nyatanya tidak! Sepertinya keluargamu sangat berantakan.” celoteh temanku.  Aku menundukkan kepala saat mulutnya menjelek jelekkan diriku.
            Aku tahu, banyak orang seperti diriku, malahan lebih dari itu. Tapi, mengapa orang menggosipi anak anak seperti kami yang hidupnya tak beruntung. Apakah tidak ada topik lain? Apakah mereka tak punya hati? Bukan kami yang menginginkan tak ada sosok ibu dan ayah yang menemani hidup kami. Bukan kami yang menginginkan hidup dalam keadaan berkecukupan. Bukan! Bukan! Tuhan menciptakan kita secara adil. Mungkin sekarang aku hanya bisa menatap atas kebahagiaan orang, tapi 20 tahun lagi merekalah yang menatap atas kebahagiaanku. Hidupku bukan untuk digosipi tapi untuk dipelajari.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 367x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 330x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 322x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 279x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 214x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Baca Juga

7a99e876-6eef-41d6-9907-7169c5920d83

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026
Kenangan yang terlupakan di cermin

Kehilangan Cinta Secara Karena Egois

Maret 27, 2026
SummarizeShare234Tweet147
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Baca Juga

7a99e876-6eef-41d6-9907-7169c5920d83
#Cerpen

Di Ujung Magrib

Maret 31, 2026
85645e8f-e49d-463f-8fa4-730280ce2b71
Artikel

Pentingnya Sastra dalam Sistem Pendidikan Rusia sebagai Landasan Pembentukan Karakter dan Pola Pikir

Maret 31, 2026
Bukan Kami Yang Menginginkannya - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | Cerpen | Potret Online
Artikel

Dari Geopolitik ke Dapur Rakyat: Krisis Global dan Rapuhnya Ekonomi Indonesia

Maret 31, 2026
ba05a86a-c490-46bf-9ae8-c75ef1da62eb
Artikel

Nasrallah dan Jugendliteratur

Maret 31, 2026
Next Post

EMPAT SIFAT YANG HARUS DIMILIKI UMAT ISLAM

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Privacy Policy (Kebijakan Privasi)
  • Terms of Service (Syarat dan Ketentuan)
  • Penulis
  • Al-Qur’an

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com