• Latest
Mengenang 20 Tahun Tsunami Aceh

Mengenang 20 Tahun Tsunami Aceh

Desember 19, 2024
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Mengenang 20 Tahun Tsunami Aceh

Sebuah Refleksi dari Saksi Mata

Redaksiby Redaksi
Desember 19, 2024
Reading Time: 2 mins read
Mengenang 20 Tahun Tsunami Aceh
585
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

 

Oleh Hamdan Budiman

Jurnalis Berdomisili di Banda Aceh

 

Saat peringatan 20 tahun tsunami Aceh, peristiwa yang hingga kini masih membekas dalam memori, suasana hati saya terasa berbeda.

Dulu, setiap kali mengenang tragedi itu, rasa sedih yang mendalam menyelimuti jiwa. Namun, seiring dengan berlalunya waktu, mungkin trauma itu sedikit demi sedikit tergerus.

Momen-momen yang tertanam dalam benak, seperti mayat-mayat anak kecil yang tersangkut di pagar dekat kampus UIN Ar-Raniry dan ribuan jenazah yang terkapar di lapangan kampus Unsyiah, kembali menghantui ingatan saya.

Hari itu, 26 Desember 2004, adalah hari yang mengguncang dunia, terlebih bagi masyarakat Aceh. Tsunami yang melanda mengubah segalanya dalam sekelebat.

Saat tragedi itu terjadi, banyak yang tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Masjid Raya Baiturrahman, yang biasanya dipenuhi dengan suara azan, kini menjadi saksi bisu bagi mayat-mayat yang terbujur kaku.

Di tengah kegelisahan itu, terlihat juga mereka yang sekarat, tergeletak tanpa ada bantuan. Semua orang mengalami musibah, dan kami tidak tahu pasti bahwa peristiwa ini dinamakan tsunami, sesuai dengan istilah yang dipakai di Jepang.

Saya masih ingat bagaimana dalam keadaan panik, saya sempat berbincang dengan sahabat karib saya, yang kini telah tiada.

Dalam keadaan itu, saya berusaha menjelaskan kepadanya bahwa apa yang kami alami adalah hal yang disebut tsunami.

Ketika air laut mulai surut setelah gempa, saya merasakan bahwa nama tersebut sebenarnya sah dan tepat.

Kami melakukan evakuasi di Rumah Sakit Zainal Abidin, yang hancur parah tengah merawat ribuan pasien, termasuk Ibu saya yang tengah dirawat berhasil kami evakuasi di tengah genangan air yang mencapai dada orang dewasa, pagi minggu itu.

Di pagi, siang, maupun malam, segala upaya kami lakukan untuk mencari sanak saudara, melintasi jalan-jalan yang dipenuhi lumpur, pepohonan yang tumbang, serta reruntuhan bangunan.

Baca Juga

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026

Jalan Banda Aceh-Tapaktuan, Peukan Bada, Banda Aceh-Kreung Raya, dan Banda Aceh-Medan adalah beberapa rute yang kami telusuri demi menemukan keluarga kami. Sampai ke Lambaro Kapee, tempat di mana mayat-mayat dikumpulkan sebelum dikebumikan secara massal di Siron, kami tidak pernah menemukan kepastian.

Hingga kini, kubur mereka yang menjadi korban tsunami tersebut masih menjadi misteri bagi saya. Kami tidak mengetahui di mana mereka dikebumikan.

Refleksi ini tidak sekadar tentang kehilangan, tetapi juga tentang harapan. Saya berharap semua jiwa yang telah pergi akibat bencana itu mendapatkan tempat yang layak di sisi-Nya.

ADVERTISEMENT

Semoga setiap kenangan pahit ini dapat menjadi pengingat akan kekuatan dan ketahanan masyarakat Aceh. Amiin!

Peringatan ini bukan sekadar mengenang tragedi, tetapi juga merayakan keberanian dan harapan baru bagi mereka yang masih bertahan.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 360x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 318x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 270x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 263x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 200x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Pidato Kebudayaan Fadlizon:  Negara Memajukan Kebudayaan Indonesia di Tengah Peradaban Dunia

Pidato Kebudayaan Fadlizon: Negara Memajukan Kebudayaan Indonesia di Tengah Peradaban Dunia

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com