POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Suara dan Gerakan Kaum Perempuan Indonesia Yang Patut dan Harus Diperhitungkan

Jacob EresteOleh Jacob Ereste
December 16, 2024
Suara dan Gerakan Kaum Perempuan Indonesia Yang Patut dan Harus Diperhitungkan
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Jacob Ereste

Perempuan perkasa suku bangsa Nusantara yang kemudian bersatu menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia ,sungguh banyak yang dapat disebutkan, jauh sebelum Indonesia merdeka mereka telah berjuang di medan laga. Setidaknya, Keumalahayati yang berasal dari Kesultanan Aceh, anak dari Laksamana Mahmud Syah.  Kakeknya Laksamana Muhammad Said Syah, putra dari Sultan Salahuddin Syah yang berkuasa pada tahun 1530-1539. Keturunan langsung Sultan Ali Mughayat Syah yang berkuasa di Kesultanan Aceh pada 1513-1530 pendiri Kerajaan Aceh Darussalam, jelas membuktikan darah keturunan Keumalahayati yang heroik itu. Sebagai Pelaksanaan Perempuan Pertama tak hanya di Nusantara ketika itu, tapi juga di dunia.

Laksamana Keumalahayati lahir pada 1 Januari 1550 dan meninggal pada 30 Juni 1615 di Aceh Besar saat bertarung untuk melindungi Teluk Krueng Raya dari Serangan bangsa Portugis yang dipimpin Laksamana Martin Alfonso De Castro. Kemunculan Laksamana Keumalahayati bermula dari pertempuran di Teluk Haru, ketika armada laut Kesultanan Aceh mengalami kekalahan bertarung dengan pasukan Portugis.

Suaminya — Laksamana Zainal Abidin — tewas dalam pertempuran itu dan Keumalahayati tampil untuk mengambil alih pimpinan dan melengkapi pasukan lautnya dengan Inong Balee. Usulannya pun langsung diterima dan dikabulkan oleh Sultan Aceh.

Pasukan Inong Balee,  para janda yang menjadi pasukan berani mati ini, langsung berada di bawah komando dia sebagai Laksamana Kesultanan Aceh.

Pasukan Belanda yang berhasil dihasut dan diprovokasi oleh Portugis sengaja datang ke Aceh dari Selat Malaka. Hingga terjadi pertempuran di laut, hingga pasukan Inong Balee berhasil merangsek masuk ke Armada yang dipimpin oleh Cornelis de Houtman yang tewas langsung dengan rencong Keumalahayati bersama pasukan Inong Balee yang dia pimpin dengan trengginas dan perkasa itu.

Bahkan, Keumalahayati ikut terlibat dalam perundingan untuk melepaskan tawanan dari pihak Belanda bersama Sultan Aceh untuk melepas Kapten Kapal Frederick yang mereka tawan.

Latar belakang pendidikan Keumalahayati pun tidak kaleng-kaleng. Dia menempuh pendidikan Akademi Militer Ma’ahad Baitul Maqdis. Sehingga dia sungguh mumpuni untuk menggantikan suaminya Laksamana Zainal Abidin yang gugur di medan laga pertempuran melawan Portugis. Sebelum menjabat Laksamana, Keumalahayati menegang jabatan Kepala Barisan Pengawal Istana, Panglima Rahasia dan Panglima Protokol Pemerintahan Sultan Saidil Mukammil Alaudin Riayat Syah IV.

📚 Artikel Terkait

UNDANGAN KE HELSINKI

Potato Janda Ngamuk Jadi Incaran pada Pameran Gelar Karya P5 Siswa SMAN 1 Bireuen

Guratan Pena, Harapan Bangsa

Merayu Tuhan di Bawah Gerimis

Keumalahayati memiliki 2.000 orang pasukan Inong Balee (janda-janda pahlawan yang sahid) karena berperang melawan Belanda pada tahun 1599 dan berhasil membunuh Cornelis de Houtman di geladak kapal yang dikomando Cornelis de Houtman. Hingga tokoh perempuan Aceh pemberani ini lebih dikenal dengan nama Laksamana Malahayati. Benteng Inong Balee sendiri berdiri di atas bukit kecil di sepanjang Teluk Krueng yang menghadap ke Samudra India. Benteng ini dibangun pada tahun 1599 oleh Keumalahayati untuk menampung Tentara Inong Balee yang dia pimpin, sekaligus akomodasi bagi janda pejuang yang terbunuh di medan perang serta fasilitas pelatihan militer bagi perempuan Aceh.

Waktu pertama benteng Inong Balee dibangun, anggotanya hanya sekitar 1.000 orang janda yang kehilangan suami saat bertempur melawan Portugis di Laut Haru. Hingga kemudian berkembang menjadi 2.000 orang termasuk perempuan-perempuan muda yang ingin ikut berjuang untuk Aceh. Gelar Pahlawan Nasional sebagai penghargaan tertinggi di Indonesia diterima Laksamana Keumalahayati atas sikapnya yang heroik yang nyata hingga patut dikenang serta diteladani bagi segenap warga bangsa dan untuk negara Indonesia.

Semasa anak-anak dia mendapat pendidikan khusus dari Istana. Keberanian dan ketangkasannya di laut, ia warisi dari sang ayah dan kakeknya dari keluarga Kesultanan Aceh. Semasa bertugas pasukannya menjadi pelindung utama pelabuhan perdagangan besar di Aceh. Selain bergelar Pahlawan Perintis Kemerdekaan Indonesia pada tahun 2017, hari kelahiran Keumalahayati dijadikan hari perayaan dunia internasional dalam Pengakuan UNESCO tahun 2023 di Perancis. Sebelum itu — tahun 2017 — dia dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional dengan Keppres No. 115 /TK/Tahun 2017.

Tentu saja perempuan perkasa dari Nusantara yang lain pun tidak kalah membanggakan. Seperti Nyi. Ageng Serang yang bernama asli Raden Ajeng Kustiyah Wulaningsih Retno Edhi, anaknya Pangeran Natapraja, penguasa Serang bagian dari Kerajaan Mataram. Nyi. Ageng Serang pun menggantikan kedudukan ayahnya hingga terkenal sebagai pembantu Pangeran Diponegoro menghadapi penjajah Belanda di Jawa Tengah dan sekitarnya. Perang Diponegoro terjadi selam lima tahu dari 1825 hingga 1830 dengan penangkapan di Mangkubumi, Tegal Rejo. Sementara perlawanan rakyat Aceh juga terus berkobar hingga tewasnya Ibrahim Lamnga di Gle Tarum pada 29 Juni 1878 hingga membuat Tjoet Nyak Dhien berang mengambil alih perlawanan terhadap penjajah Belanda. Hingga akhirnya tertangkap , tanpa pernah mau menyatakan menyerah  sampai Belanda harus membuangnya ke Sumedang, Jawa Barat hingga wafat pada 6 November 1908 dalam usia 60 tahun.

Namun kemudian ada juga perlawanan dari rakyat Aceh yang digalang oleh Tjoet Nyak Meutia yang melanjutkan perjuangan suaminya, Teuku Muhammad atau Teuku Tjik Tunong yang tertangkap Belanda dan dihukum mati di tepi Pantai Lhokseumawe. Sesuai wasiatnya kepada sahabatnya Pang Nangroe agar menikahi istrinya Tjoet Meutia dan merawat anaknya Teuku Raja Sabi.

Dalam pertempuran berikutnya Pang Nangroe tewas dalam peperangan pada 26 September 1910. Dan Tjoet Meutia pun bersama pasukannya bentrok juga dengan Belanda di Alue Kurieng hingga gugur. Atas jasanya Tjoet Meutia, pemerintah Indonesia mengabadikan foto wajahnya pada uang kertas rupiah pecahan Rp. 1.000 pada 19 Desember 2016.

Dari catatan dan kesaksian sejarah perempuan Indonesia yang mewarisi ketangguhan dan kegigihan para leluhur suku bangsa nusantara, jelas patut dan pantas untuk dibanggakan sebagai kaum pergerakan yang tangguh dan ulet untuk tetap mempertahankan serta martabat kemuliaannya sebagai manusia. Seperti yang jelas dan tegas termaktub dalam konstitusi bangsa dan negara Indonesia, yaitu UUD 1945. Karena itu, perubahan yang dilakukan lewat amandemen yang kebablasan itu, perlu dikembalikan atau direvisi ulang agar tidak terus membuat kesengsaraan bagi rakyat Indonesia. Dan suara lantang kaum perempuan Indonesia mendesak pihak pemerintah bersama Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dapat segera melakukan perbaikan seperlunya terhadap UUD 1945 seperti yang telah riuh diungkapkan dan disampaikan dalam berbagai kesempatan sampai hari ini serta gaungnya masih terus diteriakkan.

Setidaknya, suara dan gerakan kaum perempuan Indonesia patut dan harus diperhitungkan. Sebab potensi serta ketangguhan kaum perempuan Indonesia cukup mewarisi keunggulan bibit dan bobot dari para leluhur yang pernah berjaya di masa lalu yang pasti dapat dan mampu untuk diulang pada masa kini. Agaknya, nukilan sejarah perjuangan kaum pergerakan perempuan Indonesia yang telah melegenda ini bisa dijadikan bahan permenungan pada peringatan hari Ibu, 22 Desember 2024 untuk mempersiapkan diri masuk dalam era Indonesia Emas, 2045 yang sudah semakin mendekat.

Banten, 16 Desember 2024

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Jacob Ereste

Jacob Ereste

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Praktik Buruk  dan Merugikan Oleh Para Pengemis

Mencermati Sistem Jaminan Sosial di Indonesia

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00