Artikel · Potret Online

“Dulu Bohong Ketahuan, Kini Bohong Jadi Tren: Mengapa Perasaan Kita Lebih Berkuasa Dari pada Fakta?”

Penulis Yani Andoko
Juni 10, 2026
5 menit baca 32
IMG_1525
Foto / Ilustrasi“Dulu Bohong Ketahuan, Kini Bohong Jadi Tren: Mengapa Perasaan Kita Lebih Berkuasa Dari pada Fakta?”


“Dulu Bohong Ketahuan, Kini Bohong Jadi Tren: Mengapa Perasaan Kita Lebih Berkuasa Dari pada Fakta?”

Oleh Yani Andoko 

Ketika Anda sedang scroll media sosial. Tiba-tiba melihat sebuah unggahan yang membuat darah mendidih. Ada pihak tertentu yang dinilai keterlaluan. Tanpa berpikir panjang, Anda pun share ke grup keluarga sambil menambahkan komentar “Ini sudah kelewatan!”.

Tapi, bagaimana jika informasi itu ternyata palsu? Hoaks? Apakah Anda akan malu? Atau justru cuek, karena yang penting perasaan Anda sudah tersalurkan?

Selamat datang di era post-truth. Sebuah zaman di mana fakta objektif hanya jadi tamu tak diundang, sementara emosi dan keyakinan pribadi duduk manis di kursi tamu utama. Dan di era inilah hoaks  kebohongan yang dirancang menyerupai kebenaran menemukan masa keemasannya.

Lantas, apa sebenarnya hubungan keduanya? Apakah hoaks anak kandung post-truth, atau justru sebaliknya?

Analitis Santai Dengan Cerita

Mari mulai dengan cerita sederhana. Tahun 2019, sebuah hoaks tentang “truk berisi surat suara tercoblos” sempat membuat panas suasana Pilpres Indonesia. Padahal, Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Bawaslu sudah berkali-kali menyatakan itu fiktif. Tapi faktanya? 

Banyak yang tetap percaya. Mengapa? Bukan karena bukti, tapi karena rasa. Rasa kecewa, rasa curiga, rasa ingin membela “kubu sendiri”.

Di sinilah letak hubungan hoaks dan post-truth: post-truth adalah lahan, hoaks adalah bibit. Bibit hoaks akan mati jika ditanam di tanah masyarakat yang kritis dan menghargai fakta. Namun di tanah post-truth  yang subur karena pupuk emosi dan konfirmasi bias hoaks tumbuh menjadi pohon raksasa dengan akar yang sulit dicabut.

Hubungan Pertama: Post-truth Membuat Hoaks Laku Keras

Bayangkan jika setiap orang sebelum share bertanya, “Apakah ini benar? Siapa sumbernya?” Maka hoaks akan mati sebelum sempat viral. Tapi post-truth mengubah aturan main. Prinsipnya: “Saya tidak peduli apakah itu fakta. Yang penting, itu kedengarannya benar menurut perasaan saya.”

Psikolog menyebut ini confirmation bias  kecenderungan kita mencari dan percaya informasi yang sesuai dengan keyakinan kita. Jadi, jika Anda sudah tidak suka dengan seorang politisi, hoaks yang menjelekannya akan sangat Anda percaya. Bukan karena logika, tapi karena itu memuaskan emosi Anda.

Hubungan Kedua: Hoaks Memperparah Post-truth

Ini seperti lingkaran setan. Setiap kali hoaks viral dan dipercaya, masyarakat perlahan belajar bahwa “fakta itu tidak penting”. Lihat contoh hoaks vaksin COVID-19. Ada klaim bahwa vaksin mengandung mikrochip untuk mengendalikan pikiran. Meski para ilmuwan sudah membantah, hoaks itu terus beredar. Akibatnya? Banyak orang memilih tidak vaksin, bukan karena data medis, tapi karena takut yang tidak beralasan. Dan ketika mereka selamat meski tak divaksin (karena faktor lain), mereka semakin yakin: “Lihat, fakta dari ahli itu bohong!”

Dengan kata lain: hoaks adalah katalisator yang mempercepat matinya budaya verifikasi. Semakin sering kita terpapar hoaks, semakin biasa kita hidup dalam kabut kebohongan. Dan lambat laun, post-truth bukan lagi kondisi darurat, melainkan kenormalan baru.

Data dan fakta (ironisnya, kita pakai fakta untuk melawan post-truth)

Penelitian dari MIT tahun 2018 menemukan bahwa hoaks di Twitter menyebar 70 persen lebih cepat daripada berita benar. Dan yang lebih mencengangkan: hoaks yang menimbulkan rasa takut atau jijik  dua emosi primitif paling cepat viralnya. Ini bukti nyata bahwa otak kita memang punya “celah keamanan” yang dieksploitasi hoaks di era post-truth.

Di Indonesia, Kementerian Komunikasi dan Informatika mencatat sepanjang 2020 ada lebih dari 1.700 hoaks terkait COVID-19. Yang menarik? Mayoritas dipercaya bukan karena logis, tapi karena sesuai dengan keresahan publik saat itu.

Akibat yang mengerikan: matinya percakapan sehat

Coba bayangkan Anda berdebat dengan teman yang percaya hoaks. Anda tunjukkan data, berikan tautan resmi, bahkan foto bukti. Tapi dia menjawab: “Iya sih menurutmu begitu. Tapi menurut perasaanku, lain.” Atau lebih ekstrem: “Itu kan hoaks dari pemerintah!”

Di sinilah post-truth paling berbahaya. Ia membunuh diskusi berbasis fakta dan menggantinya dengan “perang perasaan”. Akhirnya, kita tidak lagi mencari kebenaran, tapi mencari pembenaran. 

Kesimpulan Yang Berkesan

Hubungan hoaks dan post-truth seperti hubungan api dan angin. Post-truth adalah angin kencang yang membuat api hoaks menjalar ke mana-mana. Dan api hoaks itu sendiri, saat membakar, menghasilkan arus panas yang memperkuat angin post-truth. Keduanya saling menghidupi, dan semuanya hangus terbakar  yang terbakar adalah akal sehat kita, yang hangus adalah kemampuan kita membedakan mana yang nyata dan mana yang palsu.

Tapi ada kabar baik: api bisa dipadamkan. Angin bisa dijinakkan. Caranya tidak rumit, tapi butuh keberanian. Sebelum share, tanyakan: “Apakah ini fakta atau perasaanku saja?” Sebelum marah, tanyakan: “Apakah saya ingin benar, atau ingin tahu kebenaran?”

Kita mungkin tak bisa menghentikan era post-truth. Tapi kita bisa memilih untuk tidak menjadi bagian dari lingkar setan itu. Karena pada akhirnya, hoaks dan post-truth hanya kuat jika kita – secara kolektif – memutuskan untuk memercayainya.

Jadi, lain kali Anda membaca klaim yang membuat emosi memuncak, berhenti sejenak. Tarik napas. Ingat: jika terdengar terlalu sempurna untuk membenci seseorang, atau terlalu mengerikan untuk menjadi kenyataan, mungkin memang begitu adanya: bukan fakta, hanya perasaan yang dikemas menjadi hoaks.

Pilihan ada di tangan Anda. Terus menyebarkan kebencian atau memulai menyebarkan verifikasi.

                       Batu, 21 April 2026

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Yani Andoko
Berdomisili di Batu, Jawa Timur
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...