Ini Pasti Salah Survei, Masa’ Tingkat Kepuasan Publik pada Prabowo Turun?

Oleh Rosadi Jamani
Ini Pasti Salah Survei, Masa’ Tingkat Kepuasan Publik pada Prabowo Turun?
Tiap kali survei keluar, angka kepuasan pemerintah biasanya naik, naik lagi, lalu naik terus seperti balon gas yang disuntik semangat oleh malaikat statistik. Kalau turun pun, turunnya malu-malu. Setengah poin. Satu poin. Itu pun biasanya langsung dibahas para analis selama tiga bulan penuh seolah menemukan prasasti baru Kerajaan Majapahit.
Tapi kali ini lain. Tampaknya ada yang salah. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Indopol Survei & Consulting merilis angka kepuasan publik terhadap Presiden Prabowo Subianto sebesar 59,75 persen. Sekilas memang masih tinggi. Masih mayoritas. Masih jauh dari kategori “lampu merah berkedip-kedip sambil mengeluarkan asap.”
Namun masalahnya bukan di situ. Masalahnya, sebelumnya Litbang Kompas pada Januari 2025 mencatat angka kepuasan mencapai 80,9 persen. Turun lebih dari 20 poin! Dua puluh poin, daeng!
Itu bukan turun. Itu namanya terjun payung tanpa payung. Itu bukan koreksi. Itu salto statistik sambil membawa galon isi ulang. Maka wajar bila saya langsung curiga. Ini pasti salah survei. Atau minimal salah kalkulator. Atau mungkin petugas input data sedang mengantuk habis begadang nonton bola.
Atau jangan-jangan ada konspirasi internasional yang melibatkan kartel pembuat grafik Excel, perkumpulan rahasia penggemar diagram lingkaran, dan sindikat eksportir tinta printer. Sebab dalam hukum alam politik Indonesia modern, hasil survei pemerintah biasanya bergerak seperti harga tanah di pusat kota. Arahnya ke atas terus sampai para ahli fisika menyerah.
Direktur Eksekutif Indopol, Ratno Sulistiyanto menyebut, ini bukan fluktuasi normal. Menurutnya, terjadi perubahan persepsi publik yang cukup tajam setelah 17 bulan pemerintahan berjalan.
Nah, di sinilah teori konspirasi saya mulai bekerja. Jangan-jangan rakyat Indonesia mendadak terkena virus kritis. Pian bayangkan. Sebanyak 40,25 persen responden mengaku tidak puas.
Empat puluh persen!
Biasanya angka segitu hanya muncul kalau Indonesia kalah adu penalti atau harga cabai naik sampai setara harga logam mulia.
Lalu muncul data yang lebih bikin kepala cenat-cenut. Tingkat kepercayaan publik terhadap pemerintah pusat hanya 49,02 persen. Penilaian positif terhadap pemerintah sebesar 51,06 persen, sementara yang negatif mencapai 48,95 persen.
Selisihnya cuma sekitar dua poin. Dua poin, pace! Tipis sekali. Tipis seperti janji diet setelah melihat promo bakso urat jumbo.
Ekonomi disebut menjadi penyebab utama. Sebanyak 34,14 persen responden yang tidak puas menyoroti harga kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng, dan bahan bakar. Sebanyak 37,48 persen mengaku kondisi ekonomi rumah tangga mereka lebih buruk dibanding tahun sebelumnya.
Sementara 15,76 persen mengeluhkan lapangan kerja yang masih terbatas. Lalu datang pula pasukan rupiah. Sebanyak 74,96 persen responden mengetahui pelemahan rupiah terhadap dolar AS. Dari jumlah itu, 48,86 persen mengaku merasakan dampaknya langsung.
Rupiah sekarang nasibnya seperti karakter utama sinetron azab. Setiap episode ada saja cobaan baru.
Belum lagi isu militerisme, kebebasan sipil, dan pemberantasan korupsi yang dianggap belum optimal. Kelompok sarjana tercatat memiliki tingkat ketidakpuasan 40,7 persen. Gen Z dan milenial juga makin kritis.
Yang lebih bikin merinding para politisi adalah Jakarta. Di ibu kota, tingkat kepuasan hanya 42,5 persen. Bahkan 35 persen responden mengaku sangat tidak puas.
Kalau begini, saya semakin yakin. Ada dua kemungkinan. Pertama, memang terjadi penurunan persepsi publik akibat faktor ekonomi, pekerjaan, rupiah, dan berbagai persoalan yang dirasakan masyarakat.
Kedua, ini adalah operasi rahasia Persatuan Dukun Survei Sedunia yang sedang menguji ketahanan mental para buzzer dan analis politik. Karena terus terang saja, kita sudah terlalu lama dimanjakan oleh grafik yang selalu menanjak. Begitu ada grafik turun, otak kita langsung menolak kenyataan.
“Ini pasti salah survei!” Padahal bisa jadi surveinya benar.
Yang salah mungkin harapan kita yang selama ini mengira angka kepuasan itu kebal hukum gravitasi. Di alam semesta politik, ternyata yang naik bisa turun. Yang turun bisa naik. Yang paling cepat berubah kadang bukan kebijakan, melainkan suasana hati rakyat setelah melihat harga beras di pasar. Satu-satunya yang selalu turun adalah kelapa.
Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar











