Tuan Pukul Empat

Oleh: Syarifudin Brutu
Di kota ini, kesedihan tidak datang dengan isak tangis; ia datang dengan etiket yang sangat sopan.
Namanya adalah Tuan Pukul Empat. Ia selalu duduk di kursi kayu yang sama, di sudut kedai kopi yang hanya menjual kopi hitam sehitam arang dan rasa sepi yang diseduh tiga kali. Tuan Pukul Empat tidak sedang menunggu seseorang. Ia menunggu gilirannya untuk menjadi tidak ada.
Di seberang mejanya, duduk seorang pria dengan setelan jas rapi, namun kancingnya lepas satu—sebuah metafora kecil yang tak disadari pemiliknya bahwa hidupnya sedang tidak seimbang. Pria itu sibuk menatap layar ponsel, menggeser-geser foto wajah-wajah yang sudah mati, namun masih terlihat “hidup” di media sosial.
”Kau tahu,” ujar Tuan Pukul Empat, suaranya seperti gesekan kertas tua, “hari ini aku melihat seseorang tertawa begitu keras sampai giginya hampir copot, hanya karena ia melihat video seekor kucing memakai topi pesta. Tapi lima menit kemudian, ia melewati seorang gelandangan yang sekarat di trotoar, dan ia bahkan tidak menoleh. Kucing itu lebih berharga daripada napas manusia, bukan?”
Pria itu tidak menatapnya. Ia hanya bergumam, “Itu tren, Pak. Kucing itu lucu. Gelandangan itu… yah, dia tidak estetik.”
Tuan Pukul Empat tersenyum. Senyumnya tipis, lebih mirip retakan di porselen murah. “Tentu. Estetika. Kita telah sampai pada titik di mana rasa sakit harus memiliki filter agar layak untuk dikasihani.”
Kedai itu tiba-tiba menjadi sangat sunyi. Jam dinding berhenti berdetak, bukan karena rusak, tapi karena ia lelah mengukur waktu yang dihabiskan orang-orang untuk berpura-pura sibuk. Di luar, langit berwarna jingga busuk. Tidak ada matahari terbenam yang indah di sini; yang ada hanyalah matahari yang menyerah karena bosan melihat kelakuan manusia.
”Kau ingat,” lanjut Tuan Pukul Empat, kali ini matanya menatap tajam ke arah pria itu, “saat kita kecil dan menangis karena lutut berdarah? Kita menginginkan pelukan. Sekarang, saat hati kita hancur berkeping-keping hingga menjadi debu di dalam dada, kita justru memposting kutipan motivasi yang kita sendiri tidak percaya, hanya agar orang-orang menekan tombol like. Bukankah itu sebuah pertunjukan sirkus yang sangat megah di atas kuburan kita sendiri?”
Pria itu terdiam. Jempolnya berhenti bergerak. Ada sesuatu yang aneh—pintu kedai terkunci dari luar, tapi ia tidak ingat kapan ia masuk. Lampu-lampu mulai berkedip, bukan karena korsleting, tapi karena mereka sedang sekarat.
”Kenapa kau bicara begitu?” tanya pria itu, suaranya gemetar. “Kau membuatku takut.”
”Takut?” Tuan Pukul Empat tertawa, suara yang terdengar seperti tawa dari cermin yang retak. “Jangan takut. Ketakutan adalah emosi bagi mereka yang masih memiliki sesuatu untuk kehilangan. Sedangkan kita? Kita hanyalah sekumpulan memori yang dipaksa berjalan dengan sepatu yang terlalu sempit.”
Tuan Pukul Empat berdiri. Tubuhnya perlahan-lahan menjadi transparan, seperti kabut yang tersapu angin. Ia meletakkan selembar uang kuno yang sudah tidak berlaku di atas meja.
”Ini untuk kopimu. Dan untuk hidupmu yang sedang kau bayar dengan harga yang terlalu mahal tapi tidak kau nikmati sama sekali.”
”Tunggu!” teriak pria itu. “Siapa kau sebenarnya?”
Tuan Pukul Empat menoleh tepat sebelum ia menghilang sepenuhnya. “Aku adalah sisa dari semua pesan yang kau tulis tapi tidak pernah kau kirimkan. Aku adalah janji yang kau buat saat mabuk dan kau lupakan saat sadar. Aku adalah kebenaran yang terlalu menyakitkan untuk kau akui di depan cermin.”
Kemudian, ia lenyap.
Pria itu sendirian. Ia menatap kopi hitamnya yang kini telah menjadi genangan air dingin. Ia ingin berteriak, tapi tenggorokannya tercekat oleh tumpukan kata-kata yang tidak sempat ia ucapkan kepada orang-orang yang telah lama ia kecewakan. Ia ingin menangis, tapi ia lupa bagaimana caranya menghasilkan air mata yang tulus tanpa merekamnya sebagai konten.
Ia melihat ke sekeliling. Kedai itu bukan lagi kedai. Itu adalah ruang tunggu yang luas, tak berujung, dipenuhi oleh jutaan orang yang duduk dengan posisi yang sama, menatap layar yang gelap, menunggu giliran untuk menjadi tidak ada.
Di sudut ruangan, sebuah pengeras suara berbisik dengan nada paling lembut dan paling mematikan:
“Terima kasih telah menghabiskan waktu Anda. Jangan lupa untuk tetap terlihat bahagia, meskipun jiwa Anda telah lama membusuk di sudut lemari.”
Pria itu menunduk. Ia meraba kancing bajunya yang lepas. Ia mencoba menjahitnya dengan jari-jarinya yang gemetar, namun benangnya tidak pernah tersambung. Ia hanya terus menusuk-nusuk kain yang sama, berulang kali, dalam sebuah tarian yang sia-sia, di bawah lampu yang perlahan-lahan meredup, menyisakan kegelapan yang terasa jauh lebih hangat daripada harapan.
Dan di luar sana, dunia terus berputar, tidak peduli apakah ada manusia yang benar-benar hidup atau hanya sekadar sedang menunggu untuk mati.











