Oleh Muhammad Maskur
Nggak ada yang lebih menyakitkan daripada mencintai seseorang, tapi di saat yang sama, kamu sadar kalau posisimu cuma jadi tempat mampir sementara. Jadi pelampiasan pas dia lagi sepi, atau sekadar sisa-sisa dari masa lalu yang belum benar-benar selesai.
Kalila tahu betul rasanya.
Malam ini, kafe tempat mereka biasa duduk terasa jauh lebih dingin. Di depan Kalila, secangkir cappuccino miliknya sudah kehilangan uap hangatnya. Persis kayak tatapan mata cowok di hadapannya sekarang, Arkan.
Arkan dari tadi sibuk menatap layar HP. Ibu jarinya bergerak gelisah, mengetik sesuatu dengan cepat, sebelum akhirnya menghela napas berat dan menaruh HP-nya tengkurap di atas meja. Kebiasaan yang selalu dia lakukan setiap kali ada notifikasi masuk dari dia.
“Dia nge-chat kamu lagi?” tanya Kalila pelan. Suaranya nyaris tenggelam di antara bisingnya lagu yang diputar di kafe.
Arkan menatap Kalila, agak kaget, lalu memaksakan senyum tipis yang sama sekali nggak sampai ke matanya. “Bukan siapa-siapa, Kal. Cuma urusan kerjaan kok.”
Kalila cuma tersenyum seadanya. Dia nggak sebodoh itu. Dia tahu persis, satu-satunya orang yang bisa bikin Arkan yang biasanya tenang berubah jadi segelisah ini cuma Maura, cewek dari masa lalu Arkan yang sudah pergi dua tahun lalu, tapi hatinya nggak pernah benar-benar ikut pergi dari dada Arkan.
“Arkan,” panggil Kalila lagi. Kali ini dia memberanikan diri menatap langsung ke dalam manik mata hitam Arkan, cowok yang sudah setahun ini jadi pacarnya. “Kamu tahu nggak bedanya aku sama Maura?”
Arkan mengerutkan dahinya, kelihatan nggak nyaman. “Kenapa tiba-tiba bahas Maura sih, Kal? Kita kan lagi jalan berdua. Jangan ngerusak suasana, please.”
Ngerusak suasana. Kalila cuma bisa tertawa miris di dalam hati.
“Maura dapetin kamu di masa-masa terbaikmu, Kan,” ucap Kalila, nggak peduli dengan protes Arkan. Suaranya mulai bergetar, tapi dia tahan sekuat tenaga. “Dia dapet seluruh waktu kamu, perhatian kamu, dan semua cinta yang lagi menggebu-gebu di hati kamu. Sementara aku?” Kalila berhenti sebentar, karena dadanya terasa sesak dan perih.
“Sedangkan Aku, cuma dapet sisanya.”
“Kalila, cukup,” potong Arkan, nadanya mulai meninggi karena emosi.
“Sisa waktu kamu kalau lagi senggang, sisa perhatian kamu kalau kamu lagi nggak sibuk mikirin dia, dan sisa cinta yang sudah berantakan di hati kamu karena dihancurin sama dia. Aku cuma dapet sisa-sisanya, Arkan!
Dan bodohnya, selama setahun ini aku terima-terima aja sambil berharap suatu hari nanti aku bisa dapet yang utuh.”
Arkan kaku seketika dan tidak bisa lagi berkata-kata. Dia pengen membantah, tapi kata-kata Kalila telak menghantam egonya. Semua yang dibilang Kalila adalah kenyataan yang selama ini sengaja dia sembunyikan di balik kalimat “aku sayang kamu”.
Hubungan mereka sebenarnya dimulai dari ketidaksengajaan. Kalila adalah orang yang selalu ada saat Arkan berada di titik terendahnya setelah ditinggal menikah oleh Maura. Kalila yang menemani malam-malam sepi Arkan, mendengarkan curhatan hatinya saat mabuk, dan pelan-pelan mencoba menyembuhkan luka di hatinya Arkan.
Dulu, Kalila mengira modal tulus dan setia saja sudah cukup buat bikin seseorang berpaling. Dia pikir, dengan memberikan seluruh dunianya buat Arkan, Arkan bakal melupakan masa lalunya. Tapi ternyata dia salah. Dalam urusan perasaan, ketulusan orang baru sering kali kalah sama orang lama.
Lima bulan lalu, Maura bercerai dan balik lagi ke kota ini. Sejak hari itu, dunia Kalila perlahan-lahan runtuh.
Setiap kali mereka jalan berdua, pikiran Arkan selalu melayang entah ke mana. Arkan sering tiba-tiba membatalkan janji dengan alasan “ada urusan mendadak”. Belakangan ini Kalila baru tahu dari temannya Arkan, kalau Arkan pergi membantu Maura untuk pindah ke rumah barunya.
Bahkan pas Arkan memeluknya, Kalila bisa merasakan kalau pelukan itu terasa kosong. Arkan kayak cuma memelukbadannya, tapi pikirannya lagi mendekap orang lain.
“Aku pulang sendiri aja ya,” kata Kalila memecah keheningan. Dia mengambil tasnya lalu pergi meninggalkan Arkan.
“Kal, jangan kekanak-kanakan deh. Aku antar yah,” Arkan ikut berdiri dan mau memegang pergelangan tangan Kalila.
Tapi belum sempat tangan Arkan menyentuhnya, HP di atasmeja kembali bergetar. Layarnya menyala, menampilkan satu nama yang sangat Kalila hafal, Maura. Di bawah nama itu, ada sebaris pesan singkat: “Arkan, anak aku demam tinggi. Aku panik banget di rumah sakit, bisa ke sini sebentar?”
Gerakan tangan Arkan langsung terhenti di udara. Matanya tertuju penuh ke layar itu. Kalila bisa melihat dengan jelas rasa cemas yang luar biasa kilat melintas di mata Arkan. Tatapan panik yang nggak pernah Arkan berikan ke Kalila, bahkan saat Kalila sempat dirawat di rumah sakit karena tifus bulan lalu.
Kalila tersenyum tipis, setetes air mata akhirnya jatuh ke pipinya. “Pergi aja, Kan. Dia lebih butuh kamu.”
Kalila, aku…. Arkan kelihatan bimbang, tapi matanya nggak bisa bohong kalau dia pengen banget langsung lari ke sana.
“Pergi, Arkan. Jangan bikin aku kelihatan lebih menyedihkan lagi dengan nahan kamu di sini,” bisik Kalila, suaranya nyaris habis.
Arkan menatap Kalila dengan rasa bersalah. “Maaf ya, Kal. Cuma sebentar kok. Habis ini aku langsung balik ke kosan, ya? Kita omongin ini baik-baik.”
Setelah mengucapkan kalimat penenang yang terdengar kayak omong kosong itu, Arkan menggambil HP dan kunci motornya, lalu berlari keluar dari kafe tanpa menoleh lagi. Dia pergi mengejar masa lalunya, meninggalkan Kalila sendirian bersama secangkir kopi yang sudah mendingin.
Malam itu, Kalila nggak langsung balik ke kosan. Dia jalan kaki sendirian di bawah rintik gerimis yang mulai membasahi jalanan. Air hujan menyamarkan air matanya yang terus mengalir deras. Dadanya terasa sesak, sampai buat napas pun rasanya perih.
Dia baru sampai di kosan jam dua belas malam. Kamarnya sepi dan dingin. Kalila duduk di lantai, menyandarkan kepalanya ke pinggiran kasur. Dia menyalakan HP, membuka ruang obrolannya dengan Arkan.
Pesan terakhir dari Arkan adalah seminggu yang lalu, itu pun cuma balasan singkat: “Y” atau “Oke”. Nggak ada lagi ucapan selamat pagi, nggak ada lagi pertanyaan “kamu udah makan belum?”. Semuanya sudah hilang.
Kalila memejamkan mata. Memori setahun ini berputar lagi di kepalanya. Dia ingat betul betapa bahagianya dia pas Arkan pertama kali nembak dia, bilang kalau dia pengen buka lembaran baru sama Kalila. Waktu itu, Kalila merasa jadi cewek paling beruntung di dunia.
Tapi sekarang dia sadar, Arkan nggak pernah benar-benar membuka lembaran baru. Arkan cuma melipat halaman lamanya sebentar, dan begitu halaman lama itu terbuka lagi, Kalila langsung tersisih begitu saja.
Dia capek jadi pilihan kedua. Dia capek harus mengerti, memaafkan, dan menerima sisa-sisa dari hidupnya Arkan.
Jam menunjukkan pukul dua pagi pas HP Kalila bergetar. Ada satu pesan masuk dari Arkan.
“Kal, aku minta maaf karna nggak bisa slepcall kamu malam ini. Maura syok dan nggak ada yang nemenin dia di rumah sakit. Aku harus nungguin dia di sini sampai besok pagi. Kamu langsung tidur ya, jangan nungguin aku.”
Kalila menatap pesan itu dengan pandangan kosong. Nggak ada lagi air mata yang keluar. Air matanya sudah habis, digantikan rasa mati rasa yang teramat dingin.
Kalila menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan, mencoba melepaskan beban berat yang selama ini bikin dadanya sesak. Jarinya bergerak di atas layar, mengetik balasan yang harusnya sudah dia kirim dari dulu.
“Nggak apa-apa, Arkan. Jangan pulang ke aku lagi ya. Kamu nggak perlu repot-repot ngebagi sisa waktu atau sisa perhatian kamu buat aku lagi. Aku lepasin kamu sepenuhnya buat Maura. Dari awal, hati kamu emang punya dia, kan?
Makasih buat setahun ini, dan maaf aku gagal jadi pengganti dia. Kita selesai.”
Setelah mengirim pesan itu, Kalila langsung memblokir nomor Arkan, memutuskan semua akses media sosialnya, dan mematikan HP-nya.
Setahun kemudian.
Sebuah toko buku di pusat kota terasa ramai sore itu. Kalila berdiri di depan rak fiksi, jemarinya meraba jajaran novel dengan sampul-sampul yang lucu. Penampilannya jauh lebih segar sekarang.
Rambutnya dipotong pendek sebahu, dan senyuman di wajahnya nggak lagi kelihatan tertekan.
Dia sudah berhasil menyembuhkan dirinya sendiri. Butuh waktu buat Kalila menata kembali hatinya yang hancur, tapi dia bisa. Dia belajar kalau mencintai diri sendiri jauh lebih penting daripada mengemis cinta yang setengah-setengah dari orang lain.
“Kalila?”
Sebuah suara yang sangat dia kenal terdengar dari arah belakang. Tubuh Kalila sempat kaku sedetik, sebelum akhirnya dia berbalik dengan tenang.
Di sana, berdiri Arkan. Cowok itu kelihatan agak kurusan. Jaket denim yang dipakainya kelihatan agak kusam. Matanya menatap Kalila dengan tatapan rindu dan kaget yang luarbiasa.
“Arkan. Hai,” sapa Kalila. Tenang, santai, sampai-sampai Arkan bengong.
“Kamu… apa kabar, Kal? Kamu ganti nomor ya? Aku cari kamu ke kosan yang lama katanya kamu udah pindah…” kata Arkan terbata-bata. Langkah kakinya maju selangkah, pengen mendekat.
“Aku baik, Kan.” Jawab Kalila dengan senyum tulus. “Iya, aku udah pindah kosan yang agak deketan sama kantor baru aku.”
Arkan menatap wajah Kalila dalam-dalam, mencari tahu apakah masih ada sisa rasa sakit atau amarah di mata cewekitu. Tapi dia nggak menemukan apa-apa selain kedamaian. Hal itu justru bikin hati Arkan rasanya amblas.
“Kal… soal malam itu… aku mau minta maaf. Aku tahu aku salah sama kamu. Aku”
“Arkan, udah ya,” potong Kalila lembut sambil menggelengkan kepalanya pelan. “Itu udah setahun yang lalu. Nggak ada yang perlu dimaafkan lagi. Semuanya udah lewat.”
“Tapi aku nyesel, Kalila!” suara Arkan agak serak, menahan sesak di dada. “Setelah kamu pergi, aku baru sadar kalau aku butuh kamu. Maura… hubungan aku sama Maura ternyata nggak bisa dipaksain lagi. Kita udah terlalu banyak berubah. Aku salah karena nggak pernah melihat kamu yang selalu ada buat aku.
Tolong kasih aku kesempatan lagi, Kal. Aku janji bakal perbaikin semuanya.”
Kalila menatap Arkan dengan rasa iba. Bukan iba karena masih cinta, tapi iba melihat cowok yang baru menyadari berharganya seseorang pas orang itu sudah pergi.
“Arkan, kamu tahu kenapa hubungan kamu sama Maura gagal lagi?” tanya Kalila pelan.
Arkan diam, menatap Kalila dengan mata berkaca-kaca.
“Karena dari awal, kamu cuma penasaran sama masa lalu kamu yang belum selesai. Dan sekarang, pas kamu ngerasa kesepian lagi, kamu datang ke aku dan minta aku balik samakamu.” Kalila menarik napas panjang. “Aku bukan barang yang bisa kamu taruh di pojokan, kamu cuekin pas ada mainan baru yang datang, terus kamu ambil lagi pas mainan baru itu rusak, Arkan.”
“Kal, aku sayang sama kamu sekarang, beneran…” ucap Arkan lirih, air matanya mulai menetes.
Kalila menggeleng pelan, senyumnya sama sekali nggak pudar. “Mungkin kamu emang sayang, Kan. Tapi maaf, aku udah nggak mau lagi jadi orang yang cuma dapet sisa-sisa di hidup kamu. Aku berhak dapet seseorang yang bisa ngasih hatinya secara utuh buat aku, bukan sisa dari masa lalunya.”
Kalila melangkah maju, menepuk pundak Arkan pelan sebagai tanda perpisahan yang baik. “Bahagia ya, Arkan. Cari orang yang bener-bener bisa kamu cintai tanpa ada bayang-bayang orang lain di dalamnya. Aku duluan yah.”
Kalila berjalan melewati Arkan, melangkah keluar dari toko buku itu dengan santai. Di luar, langit sore berwarna jingga keunguan, bagus banget. Kalila menghirup udara segar sedalam-dalamnya.
Dia tahu dia sudah menang. Dia sudah lepas dari rasa sakityang dulu hampir bikin dia gila. Sekarang, dia siap menyambut hidup barunya, hidup di mana dia jadi peran utama yang utuh, bukan lagi sekadar pelengkap di cerita orang lain.
Diskusi