Artikel · Potret Online

Profesor, Jurnal, dan Koran: Catatan atas Tulisan Saiful Bahri

Juni 7, 2026
3 menit baca 6
865cbd3b-ae31-4ae6-849f-e2640f272ff1
Foto / IlustrasiProfesor, Jurnal, dan Koran: Catatan atas Tulisan Saiful Bahri
Disunting Oleh

Apresiasi terhadap Gagasan yang Diangkat

Oleh Prof Dr. Burhanuddin Yasin

Tulisan Saiful Bahri yang dimuat di potretonline.com pada 6 Juni 2026 mengangkat topik yang menarik, yaitu mengapa profesor masih jarang menulis di koran atau media massa. 

Dengan bahasa yang ringan dan mudah dipahami, penulis mengingatkan bahwa ilmu pengetahuan seharusnya tidak hanya berada di kampus, tetapi juga sampai kepada masyarakat luas melalui media yang mudah diakses.

Ada beberapa hal yang patut diapresiasi dari tulisan tersebut. Pertama, penulis mengingatkan bahwa akademisi tidak hanya bertugas mengajar dan meneliti, tetapi juga memiliki tanggungjawab untuk berbagi ilmu kepada masyarakat. Kedua, pendekatan moral dan keagamaan yang digunakan membuat pesan yang disampaikan terasa dekat dengan pembaca. 

Ketiga, tulisan tersebut mengajak kita menyadari bahwa ilmu pengetahuan akan lebih bermakna jika manfaatnya dapat dirasakan oleh masyarakat.

Jurnal dan Koran Tidak Perlu Dipertentangkan

Akan tetapi, jurnal ilmiah dan koran sebenarnya tidak perlu dipertentangkan. Keduanya memiliki fungsi yang berbeda tetapi sama-sama penting. Jurnal ilmiah menjadi tempat publikasi hasil penelitian yang telah melalui proses penilaian yang ketat, sedangkan koran dan media massa berfungsi menyampaikan gagasan dan hasil penelitian kepada masyarakat dengan bahasa yang lebih sederhana. 

Karena itu, keduanya justru saling melengkapi.

Pandangan bahwa jurnal ilmiah hanya dibaca oleh sedikit orang juga perlu dilihat secara lebih utuh. Banyak penelitian yang diterbitkan dalam jurnal menjadi dasar penyusunan kebijakan pemerintah, perbaikan pendidikan, pengembangan teknologi, dan penyelesaian berbagai persoalan sosial. Walaupun manfaatnya tidak selalu terlihat secara langsung, dampaknya sering kali sangat besar.

Memahami Realitas Tugas Profesor

Di sisi lain, kita juga perlu memahami bahwa profesor memiliki banyak tanggung jawab, mulai dari meneliti, mengajar, membimbing mahasiswa, hingga menjalankan berbagai tugas akademik lainnya. 

Karena itu, tidak banyaknya profesor yang menulis di koran bukan hanya soal kemauan pribadi, tetapi juga berkaitan dengan beban kerja dan sistem akademik yang ada.

Meski demikian, pesan utama yang ingin disampaikan Saiful Bahri tetap penting. Masyarakat membutuhkan lebih banyak suara akademisi di ruang publik agar berbagai persoalan dapat dijelaskan secara jernih dan berdasarkan pengetahuan.

Dari Kritik Menuju Aksi Bersama

Meskipun demikian, saya juga berpikir bahwa kita sudah cukup sering mengkritik para profesor karena dianggap kurang aktif menulis di media massa. Kritik seperti ini sudah berkali-kali disampaikan dan kemungkinan besar juga telah didengar oleh mereka. 

Karena itu, mungkin sudah saatnya kita mengalihkan perhatian dari perdebatan menuju tindakan yang lebih nyata.

Daripada terus mempertanyakan mengapa profesor belum banyak menulis, akan lebih baik jika kita semua mulai ikut menulis dan berbagi pengetahuan sesuai kemampuan masing-masing. 

Kita dapat menulis tentang hasil penelitian, pengalaman, maupun solusi yang bisa membantu pemerintah dan masyarakat.

Ilmu yang Membawa Manfaat

Dalam pandangan Islam, ilmu memperoleh makna yang lebih luas daripada sekadar menambah pengetahuan pribadi. Ilmu merupakan anugerah sekaligus amanah yang perlu dimanfaatkan untuk kebaikan bersama. 

Sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-Mujadilah ayat 11, Allah Swt. memuliakan orang-orang yang beriman dan berilmu. Karena itu, salah satu cara mensyukuri ilmu adalah dengan membagikannya sehingga dapat memberi manfaat nyata bagi orang lain dan lingkungan sekitar.

Hal ini juga sejalan dengan sebuah hadis riwayat Muslim, di mana Rasulullah Saw. bersabda: “Allah akan senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya.” (HR. Muslim). 

Hadis ini menegaskan bahwa semakin seseorang membantu dan memberi manfaat kepada orang lain, maka semakin besar pula pertolongan Allah kepadanya.

Pada akhirnya, yang dibutuhkan bukan sekadar kritik terhadap profesor, melainkan gerakan bersama untuk memperbanyak tulisan yang bermanfaat bagi masyarakat. Yang terpenting bukan siapa yang menulis dan siapa yang tidak menulis, melainkan bagaimana ilmu pengetahuan dapat hadir dan memberi manfaat nyata bagi kehidupan masyarakat.

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...