Esai · Potret Online

Lebih dari Sekadar Teater, Mahasiswa President University Hadirkan Diplomasi Budaya Lewat French Theater

Penulis Bella Zakiyah Arrafi
Juni 6, 2026
8 menit baca 33
IMG_1475
Foto / Ilustrasi(foto by : Instagram @president_university)
Disunting Oleh

Oleh Bella Zakiyah Arrafi

Mahasiswi Jurusan Hubungan Internasional President University ) Jakarta

Seni Pertunjukan yang Menjadi Ruang Pertemuan Budaya

Riuh tepuk tangan memenuhi Charles Himawan Auditorium President University saat lampu panggung mulai meredup. Ratusan pasang mata langsung tertuju ke atas panggung ketika para pemeran mulai membawakan drama klasik The Three Musketeers karya Alexandre Dumas. 

Suasana auditorium malam itu terasa penuh energi, hangat, sekaligus menegangkan sejak adegan pertama dimulai. French Theater 2026 sukses digelar sebagai hasil kolaborasi antara French Club President University dan mahasiswa Hubungan Internasional President University angkatan 2023 yang mengambil kelas bahasa Prancis. 

Acara ini menjadi puncak dari ujian akhir semester lima kelas bahasa Prancis dengan melibatkan sekitar 121 mahasiswa yang turut berpartisipasi baik di depan maupun di balik layar.

Namun lebih dari sekadar pertunjukan seni, French Theater tahun ini juga menunjukkan bagaimana seni pertunjukan dapat menjadi media diplomasi budaya di lingkungan kampus. 

Melalui perpaduan bahasa Inggris dan Prancis, kostum bernuansa kerajaan Prancis, hingga pengangkatan karya sastra klasik Prancis. Acara ini berhasil menghadirkan nuansa budaya yang dapat dinikmati dan dipahami oleh penonton dari berbagai latar belakang.

Dalam dunia Hubungan Internasional, diplomasi tidak selalu dilakukan melalui pertemuan resmi antarnegara atau forum politik internasional. Diplomasi juga dapat hadir melalui budaya, seni, bahasa, dan interaksi masyarakat. Hal tersebut dikenal sebagai cultural diplomacy atau diplomasi budaya.

French Theater menjadi salah satu contoh bagaimana mahasiswa dapat mempraktikkan diplomasi budaya secara nonformal melalui seni pertunjukan. Dengan menghadirkan karya sastra Prancis kepada publik kampus dan masyarakat umum, mahasiswa tidak hanya menampilkan hiburan, tetapi juga membangun ketertarikan dan pemahaman terhadap budaya asing.

Sinopsis The Three Musketeers yang Penuh Intrik dan Persahabatan

The Three Musketeers merupakan karya sastra klasik dari penulis Prancis Alexandre Dumas yang mengangkat kisah petualangan, persahabatan, serta intrik politik di lingkungan kerajaan Prancis. 

Cerita ini berfokus pada perjalanan d’Artagnan, seorang pemuda ambisius yang datang ke Paris dengan impian menjadi seorang Musketeer kerajaan.

Dalam perjalanannya, ia bertemu Athos, Porthos, dan Aramis yang kemudian menjadi sahabat sekaligus rekan perjuangannya. 

Keempat tokoh tersebut harus menghadapi berbagai konflik politik dan konspirasi yang mengancam kehormatan kerajaan Prancis. Konflik utama dalam cerita muncul ketika Cardinal Richelieu berusaha menjatuhkan Queen Anne melalui berbagai rencana manipulatif demi memperkuat pengaruh politiknya. 

Di tengah ketegangan tersebut, para Musketeers berusaha melindungi sang Ratu sekaligus menjaga kehormatan kerajaan.

Cerita The Three Musketeers tidak hanya menghadirkan ketegangan dan aksi duel, tetapi juga membawa pesan tentang loyalitas, keberanian, persatuan, dan pengorbanan. Nilai-nilai tersebut tercermin melalui semboyan legendaris mereka, “One for all, and all for one.”

Melalui cerita yang penuh aksi sekaligus emosional ini, French Theater berhasil membawa penonton masuk ke dalam nuansa kerajaan Prancis yang dramatis dan penuh konflik.

Mengenalkan Budaya Prancis Melalui Seni Pertunjukan

IMG_1474
(foto by : bella zakiyah arrrafi) 

Drama The Three Musketeers yang diangkat dalam French Theater tahun ini merupakan karya sastra klasik dari penulis Prancis Alexandre Dumas. Meskipun merupakan karya fiksi, cerita tersebut tetap membawa nuansa budaya Prancis melalui latar kerajaan, karakter, gaya berpakaian, hingga atmosfer politik yang menjadi bagian dari cerita.

Dalam pertunjukan ini, penonton diajak masuk ke suasana Prancis abad ke-17 yang dipenuhi intrik politik, pengkhianatan, persahabatan, serta perjuangan mempertahankan kehormatan kerajaan. 

Cerita berpusat pada perjalanan d’Artagnan yang bercita-cita menjadi seorang Musketeer kerajaan Prancis dan kemudian bertemu Athos, Porthos, serta Aramis.

Bersama-sama, mereka terlibat dalam misi melindungi Queen Anne dari konspirasi Cardinal Richelieu yang berambisi memperkuat kekuasaan politiknya. Di balik konflik tersebut, cerita juga menghadirkan pesan tentang loyalitas, keberanian, dan persatuan melalui semboyan terkenal mereka, “One for all, and all for one.”

Penggunaan dialog campuran bahasa Inggris dan Prancis menjadi salah satu hal yang membuat pertunjukan terasa lebih dekat dengan penonton. Pendekatan bilingual tersebut membuat cerita lebih mudah dipahami tanpa menghilangkan identitas budaya Prancis yang ingin ditampilkan.

Alih-alih menjadikan bahasa sebagai batas, pendekatan ini justru menjadi jembatan komunikasi lintas budaya. Penonton tetap dapat menikmati nuansa budaya Prancis sekaligus memahami alur cerita dengan lebih nyaman.

Dalam konteks diplomasi budaya, pendekatan tersebut menunjukkan bahwa budaya asing dapat diperkenalkan secara inklusif dan adaptif kepada masyarakat luas. Seni pertunjukan menjadi media yang efektif untuk mempertemukan budaya tanpa menciptakan jarak dengan audiens.

Totalitas Mahasiswa dalam Menghidupkan Cerita

French Theater tahun ini diperankan oleh deretan talent mahasiswa yang berhasil membawakan karakter dalam The Three Musketeers dengan penuh totalitas. 

Alfendo Rahmadani sebagai d’Artagnan tampil kuat sebagai sosok muda yang berani dan penuh ambisi untuk menjadi seorang Musketeer kerajaan Prancis.

Daffa Utomo sebagai Athos berhasil membawakan karakter yang bijaksana dan tenang, sementara Aji Winata Zulkarnain sebagai Porthos tampil percaya diri dan humoris. Jayson Fill Thamori sebagai Aramis juga berhasil menghadirkan karakter yang cerdas dan elegan di atas panggung.

Pemeran lain yang turut mencuri perhatian adalah Elsa Safira sebagai Queen Anne yang tampil anggun dan emosional, Ardell Davin Teza sebagai King Louis XIII, serta Jaqson Naharia sebagai Cardinal Richelieu yang berhasil membawakan karakter antagonis penuh ambisi dan manipulatif.

Selain itu, Belinda Aurellia Kirana tampil sebagai Constance Bonacieux, Syihabudin Millah Wadin sebagai Duke of Buckingham, Jemima Mkaburi Vulu sebagai Milady de Winter, Fernando Bagus Sianturi sebagai Tréville, serta Mochamad Naufal Alpharizqy sebagai Officer.

Tidak hanya para pemeran utama, narrator, townspeople, dan seluruh talent lainnya juga turut berkontribusi dalam menghidupkan suasana kerajaan Prancis sepanjang pertunjukan berlangsung.

Salah satu adegan yang paling menarik perhatian penonton adalah duel para Musketeers yang menampilkan koreografi pertarungan secara terstruktur dan dramatis. Selain itu, tarian antara Milady de Winter dan Duke of Buckingham juga menjadi salah satu momen artistik yang memperkuat nuansa elegan dalam pertunjukan.

Klimaks cerita terjadi ketika Queen Anne akhirnya memasuki ballroom kerajaan dengan mengenakan kalung berlian yang sebelumnya diduga hilang akibat konspirasi Cardinal Richelieu. Seluruh auditorium terdiam ketika Raja Louis mulai menghitung jumlah berlian yang dikenakan sang Ratu.

Ketegangan berubah menjadi sorakan dan tepuk tangan saat diketahui bahwa sang Ratu tidak kehilangan satu berlian pun. Ekspresi kecewa Cardinal yang perlahan menyadari kekalahannya membuat penonton semakin menikmati jalannya cerita.

Diplomasi Budaya yang Hadir di Tengah Mahasiswa

IMG_1472
(foto by : bella zakiyah arrafi) 

Kehadiran French Theater tidak hanya menjadi ruang kreativitas mahasiswa, tetapi juga memperlihatkan bagaimana budaya dapat menjadi alat untuk membangun hubungan antarmasyarakat.

Dalam dunia internasional, hubungan antarnegara tidak hanya dibangun melalui pemerintah atau diplomat resmi. Hubungan tersebut juga berkembang melalui interaksi masyarakat, pertukaran budaya, pendidikan, hingga seni. Konsep ini dikenal sebagai people-to-people diplomacy.

Melalui French Theater, mahasiswa secara tidak langsung menghadirkan bentuk diplomasi antarmasyarakat dengan memperkenalkan karya sastra dan nuansa budaya Prancis kepada penonton lokal. Penonton tidak hanya menikmati pertunjukan, tetapi juga memperoleh pengalaman budaya yang berbeda dari keseharian mereka.

Salah satu momen yang menarik perhatian adalah kehadiran tiga perwakilan dari komunitas Nongki Francophone, yaitu Aggi Sukmawandhani, Kartini Rose atau Madame Cathy, dan Siti Bekti Ambariyah. Kehadiran komunitas tersebut menunjukkan adanya keterhubungan antara mahasiswa dan komunitas pecinta budaya Prancis di luar kampus.

Tidak sedikit penonton yang mengaku terkesan dengan kualitas pertunjukan yang ditampilkan mahasiswa Hubungan Internasional malam itu. Beberapa penonton bahkan menyebut bahwa French Theater tahun ini terasa lebih immersive dan emosional dibanding ekspektasi mereka sebelumnya.

“Capek latihan selama berminggu-minggu rasanya langsung kebayar pas lihat auditorium penuh dan penonton ikut menikmati setiap adegannya,” ujar salah satu pemeran setelah acara selesai.

Selain kualitas akting para talent, panitia juga mendapatkan banyak apresiasi atas tata lighting, visual, dan sound system yang dinilai mampu membangun suasana pertunjukan secara maksimal. Kostum para pemain yang terinspirasi dari era kerajaan Prancis juga berhasil memperkuat nuansa klasik sepanjang acara berlangsung.

Di balik penampilan yang memukau di atas panggung, para talent ternyata telah menjalani latihan intensif selama berminggu-minggu sambil tetap menjalankan aktivitas perkuliahan dan tugas akademik mereka.

Mahasiswa HI dan Praktik Diplomasi di Kehidupan Nyata

French Theater juga menunjukkan bahwa mahasiswa Hubungan Internasional tidak hanya belajar teori diplomasi di dalam kelas. Melalui kegiatan seni dan budaya, mahasiswa dapat mempraktikkan bentuk diplomasi yang lebih dekat dengan masyarakat.

Kegiatan seperti French Theater memperlihatkan bahwa diplomasi dapat dilakukan melalui pendekatan yang lebih humanis dan kreatif. Seni pertunjukan mampu menjadi media komunikasi lintas budaya yang efektif karena menghadirkan emosi, cerita, dan pengalaman secara langsung kepada penonton.

Di tengah era globalisasi saat ini, diplomasi budaya menjadi semakin penting karena hubungan internasional tidak lagi hanya ditentukan oleh kekuatan politik dan ekonomi, tetapi juga oleh kemampuan suatu budaya untuk membangun ketertarikan dan kedekatan dengan masyarakat dunia.

Melalui French Theater 2026, mahasiswa President University berhasil menunjukkan bahwa seni pertunjukan tidak hanya menjadi hiburan semata, tetapi juga dapat menjadi media apresiasi budaya, ruang pembelajaran lintas budaya, sekaligus bentuk diplomasi budaya yang hidup di lingkungan mahasiswa.

Dengan memadukan sastra klasik Prancis, seni pertunjukan modern, serta semangat kolaborasi mahasiswa, French Theater berhasil menghadirkan pengalaman budaya yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memperluas pemahaman penonton mengenai pentingnya interaksi budaya di tengah masyarakat global saat ini.

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan esai ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi memberikan ruang ekspresi tanpa intervensi isi.
Tentang Penulis
Bella Zakiyah Arrafi
Mahasiswi Jurusan Hubungan Internasional President University Jakarta
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...