Rezeki yang Tertunda

“
Oleh Saiful Bahri
Motivator, Berdomisili di Jakarta
Rezeki yang Tertunda? Mungkin Allah lagi “Menyepuh” Emasnya
Pernah tidak menunggu paket online? Resi sudah dicek 20 kali sehari. Pas kurir lewat depan rumah, jantung deg-degan. “Ini dia… ini dia…”
Nah, rezeki kita juga begitu. Resinya sudah ada di Lauh Mahfudz. Kurirnya malaikat. Cuma Allah yang tahu kapan “dikirim”.
Kenapa rezeki kadang tertunda? Ada 3 hal:
Allah lagi “menyepuh” emasnya
Emas mentah tidak bisa langsung dipakai. Harus dibakar dulu biar kotorannya luntur. Mau rezeki yang bikin tenang atau rezeki yang bikin kebakar? Makanya ditunda. Biar pas datang, rezekinya sudah bersih. Tidak membawa penyakit, tidak membawa drama.
Allah lagi siapkan “gudangnya”
Beras 50kg tidak muat di kamar 2×2 meter. Hati kita juga begitu. Kalau masih penuh dendam, maksiat, “aku aku”… rezeki segudang juga mampet. Makanya Allah tunda dulu. Sambil bereskan gudangnya hati.
Allah lagi latih “kesabaran ” kita
Orang yang rezekinya lancar dari lahir, mentalnya lembek pas kena ujian. Tapi kita yang rezekinya “telat” tapi pasti… nanti pas dapat, jadi hamba yang paling kuat doanya, paling kencang syukurnya. Itu bonusnya.
Penutup – Ini pesan dari lapangan:
Saya nulis ini bukan menunggu tepuk tangan manusia. Tapi Allah lewat tangan-tangan pembaca, dengan tulus mengapresiasi tulisan kita. Kalau berharap pada manusia, kita akan kecewa. Tapi kalau kita serahkan kepada Allah, insyaAllah kita tidak pernah kecewa.
Benar, Allah kadang bukan tidak mengabulkan permintaan/doa hambaNya. Tapi kadang ditunda dulu. Berprasangka baiklah kepada Allah.
Jadi kalau hari ini ATM masih sepi, jangan menuduh Allah pelit. Mungkin Allah lagi bilang: “Sabar… paketmu Aku bungkus pakai pita emas. Kalau Aku kirim sekarang, pitanya sobek. Tunggu ya, biar utuh sampai ke tanganmu.”
Jadi sekarangv, mau mengecek resi atau mau mengecek hati?
By Saidul Bahri













