Esai · Potret Online

Kala Pulang Kampung ke Pulau Aceh

Penulis Vina Lestari Handayani
Mei 30, 2026
3 menit baca 25
27f168e7-1260-4771-8478-62c43392780e
Foto / IlustrasiKala Pulang Kampung ke Pulau Aceh

Oleh Vina Lestari Handayani 

Di pagi yang cerah dan matahari terbit dari ufuk timur, burung beterbangan, mengeluarkan suara – suara yang indah. Saya pun bangun dari tempat tidur dan langsung  berwudu untuk menyelesaikan shalat subuh.  Setelah selesai shalat saya langsung membangunkan adik – adik  dari tempat tidur mereka  untuk mandi dan bersiap-siap ke sekolah.

Sebagai kakak, saya membantu adik-adik yang membutuhkan pakaian seragam. Ternyata seragam  mereka belum disetrika. Saya berinisiatif menggosok atau menyetrika seragam sekolah adik – adik  saya, supaya rapi saat dipakai untuk ke sekolah.

Saya keluar rumah dan menyaksikan bunga-bunga di halaman, perlu segera disirami. Maka, usai menggosok baju, tidak lupa pula saya menyiramkan bunga – bunga yang ada di  halaman rumah sambil menunggu adik siap untuk diantarkan ke sekolah.

Kegiatan ini adalah kegiatan rutin saya, bila sedang berada di kampung  berhari raya Idul Adha di kampung dan momen libur dari pekerjaan. Pulang kampung setelah dapat izin cuti dari tempat kerja selama beberapa hari. Maka, saat ada waktu di kampung, setiap ada waktu membantu orangtua ke kebun, saya berangkat ke kebun bersama ayah untuk membersihkan kebun.

 Ayah saya ingin menanamkan cabai rawit atau cabai kecil untuk bisa dijual. Dengan menanam cabai rawit, ayah akan punya. penghasilan untuk membantu kecukupan keluarga kami sehari – hari.  Di kebun setelah membersihkan kebun, dilanjutkan dengan menabur bibit cabai, sekalian dengan menyirami bibit cabai yang sudah tumbuh. Setelah bibit tumbuh subur, ayah memindahkan ke lokasi tanah yang sudah disiapkan ayah. Biasanya hasil panen caba dijual ayah kepada para pengepul atau agen.

Sepulang dari kebun saya beres – beres dan menyelesaikan shalat zhuhur, dan langsung membantu mama berjualan kecil – kecilan di depan rumah untuk menambah uang sekolah adik – adik/ itupun kadang – kadang tidak laku sama sekali, karena banyak pedagang yang lain menjualkan apa yang orang tua saya jual. Syukurnya, mama saya tidak patah semangat untuk berjualan, karena yang namanya rezeki sudah diatur oleh Allah SWT.

 Bagi saya, saya tidak  pernah merasa malu mencari rezeki, walaupun proses kita berbeda – beda dari orang lain. Saya juga tidak perlu Dan membanding – bandingkan kehidupan saya dengan kehidupan orang lain. Karena kehidupan saya sudah ditata demikian. 

Saya sadar bahwa kehidupan orang – orang yang kurang mampu seperti saya harus berproses sendirian agar bisa mencapai apa yang saya inginkan. Saya tidak boleh patah semangat karena mendengar kata orang lain.

Saya percaya pada diri sendiri dan bukan pada mereka bahwa saya bisa, tanpa bergantungan dari siapapun. Saya punya prinsip begini:

Berani hidup, tak takut mati 

Takut mati, jangan hidup 

Takut hidup , mati saja .

Selain itu, prinsip yang saya pegang adalah ”  Jangan pernah jatuh karena omangan seseorang, tapi buatlah mereka kagum atas apa yang dibicarakan, setiap harapan pasti punya halangan,setiap tujuan pasti punya rintangan.

Buatlah luka kita semakin mengecil ,karena kita sudah terlalu dewasa untuk terlihat luka itu.

Harus pula ingat bahwa  kita boleh terpuruk sejadi – jadinya dan boleh menangis sejadi – jadinya, tetapi ingat,tidak mungkin Tuhan membawa kita sejauh ini hanya untuk gagal.” Semoga menjadi pelajaran.

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan esai ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi memberikan ruang ekspresi tanpa intervensi isi.
Tentang Penulis
Vina Lestari Handayani
Majalah Perempuan Aceh
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...