Artikel · Potret Online

Membaca Budaya Menulis Profesor

Penulis  Tabrani Yunis
Mei 30, 2026
7 menit baca 35
Membaca Budaya Menulis Profesor - IMG_7677 | Artikel | Potret Online
Foto / IlustrasiMembaca Budaya Menulis Profesor

Oleh Tabrani Yunis 

Rasa bahagia, senang bahkan terasa berbunga-bunga, bagaikan orang yang tengah kasmaran. Itulah yang dirasakan oleh seorang penulis yang selalu giat menulis. Bagi seorang penulis, hal yang selalu didambakan dalam menulis adalah tulisan yang ia tulis dapat  dipublikasikan di media. 

Sang penulis juga selalu berharap agar tulisannya itu cepat dimuat dan dibaca oleh banyak orang atau pembaca. Bahkan, hal yang paling menyenangkan dan sangat membahagiakan adalah tulisan mendapat tanggapan. Tanggapan yang sangat berharga adalah ketika tulisannya dibaca, disimak, dianalisis dan kemudian diberikan tanggapan.

Biasanya dalam era digital ini, di setiap tulisan ada fasilitas tanggapan berupa like,dislike, imaji dan bahkan kolom tanggapan. Tanggapan yang paling menarik dan berhasil guna adalah ketika tulisan itu dibalas dengan ulasan baru dalam bentuk tulisan.

Itulah kebahagiaan yang penulis rasakan setelah sebuah tulisan dengan tajuk atau judul ” Bertanya soal Peran Profesor Pendidikan yang Minim dalam Membangun Pendidikan Aceh”, dimuat di Potretonline.com, edisi 29 Mai 2026.

Sebuah tulisan tanggapan yang sangat cepat datangnya adalah dari seorang penulis, akademisi yang sudah cukup dikenal publik, Prof. Dr. TM Jamil yang merespon lewat tulisannya berjudul, Profesor Bukan Penguasa, Ia Penjaga Akal Sehat Peradaban”. Tulisan yang mengulas tentang eksistensi seorang profesor yang begitu besar dan mulia kedudukannya.

Menurut TM. Jamil, ukuran kebesaran seorang  profesor bukan seberapa banyak ia menguasai orang lain,tetapi seberapa jauh pemikirannya mampu memengaruhi kesadaran masyarakat untuk menjadi baik dan terhormat.

Lebih lanjut T.M Jamil juga memaparkan bahwa Profesor adalah penjaga akal sehat publik. Ia harus mampu berdiri di tengah masyarakat sebagai mercusuar etika, bukan sekadar pembaca pidato seremonial. Ketika negara gaduh, profesor hadir memberi kejernihan. Ketika masyarakat tersesat oleh propaganda, profesor hadir membawa argumentasi ilmiah. Ketika publik dipenuhi amarah dan kebencian, profesor seharusnya menghadirkan kebijaksanaan dan pencerahan.

Tanggapan TM. Jamil yang mencerahkan pemahaman kita mengenai eksistensi profesor dalam kehidupan dan dunia kampus itu, sekali lagi sangat berharga bagi penulis, karena memberikan motivasi kepada penulis untuk lebih lanjut menganalisisnya dan melahirkan pemikiran baru yang dapat ditulis lebih lanjut.

Kebahagiaan kedua yang penulis dapatkan setelah tulisan dengan judul Bertanya Peran Profesor itu adalah datangnya tanggapan dari seorang guru besar, Prof. Dr. Burhanuddin Yasin, yang penulis kenal dekat, yang juga dosen yang pernah mengajarkan penulis ketika kuliah di prodi bahasa Inggris di FKIP Universitas Syiah Kuala ( Unsyiah), kini USK.

Prof Dr. Burhanuddin Yasin menulis  berpendapat sejalan dengan penulis dalam melihat persoalan pendidikan Aceh yang karut marut, di semua level atau jenjang pendidikan, termasuk pada jenjang pendidikan menengah yang berada di bawah payung kekuasaan Dinas Pendidikan tingkat Provinsi Aceh.

Menurut Prof Burhanuddin Yasin, beliau menilai bahwa berdasarkan pengalaman beliau yang pernah terlibat dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan Aceh, memandang bahwa pendidikan Aceh masih menghadapi sejumlah persoalan mendasar, seperti mutu pendidikan yang masih berada di bawah rata-rata nasional, ketimpangan kualitas guru, kesenjangan pendidikan antarwilayah, lemahnya kemampuan berpikir kritis siswa, hingga persoalan tata kelola dan pengelolaan anggaran pendidikan. 

Prof. Dr. Burhanuddin Yasin mendorong adanya reformasi pendidikan Aceh dan merekomendasikan bahwa dalam reformasi pendidikan Aceh membutuhkan keterlibatan aktif kalangan akademisi, khususnya para profesor dan pakar pendidikan, agar kebijakan yang dirumuskan benar-benar berbasis kajian ilmiah dan kebutuhan riil masyarakat. 

Pendapat ini sejalan dengan apa yang penulis paparkan dalam tulisan di Potretonline.com, pada Jumat, 29 Mai 2026 kemarin. 

Nah, dari kedua tulisan tanggapan tersebut memberikan makna bahwa sesungguhnya eksistensi profesor yang secara positioning penjaga peradaban dan merupakan pakar, khususnya dalam dunia pendidikan, dipandang perlu pelibatan aktif dalam membangun pendidikan yang bangkit, hebat serta bermartabat seperti yang selalu diyel-yel dalam slogan-slogan dangkal kepala Dinas Pendidikan tingkat Provinsi Aceh di setiap postingan beliau di media sosial, atau saat berkunjung ke sekolah -sekolah.

Pentingnya pelibatan aktif para profesor dalam setiap aktivitas pembangunan pendidikan di Aceh mengingat  begitu tinggi kedudukan dan nilai seorang profesor dalam tatanan peradaban. Artinya, eksistensi seorang Profesor sangatlah berharga dan mulia serta sangat diharapkan kehadirannya ketika masyarakat bangsa ini berhadapan dengan beratnya masalah kehidupan. Apalagi  eksistensi Profesor adalah sebagai penjaga peradaban. Maka, sangat diharapkan semua profesor tersebut dapat memberikan pencerahan lewat berbagai media yang tersedia.

Sayangnya, seperti yang dinilai dan dirasakan oleh kepala Dinas Pendidikan tingkat Provinsi Aceh, Murthalamuddin sebagaimana diungkapkan beliau dalam pertemuan dengan 21 profesor di aula Dinas Pendidikan kala itu, bahwa minimnya peran Intelektual”   Ya, minimnya keterlibatan kaum intelektual di ruang publik. Menurutnya, para akademisi perlu hadir memberi pencerahan melalui media sosial, media massa, maupun forum masyarakat agar masyarakat tidak dipenuhi informasi yang menyesatkan.

Harapan Murthalamuddin tersebut kepada 21 profesor tersebut, juga sering muncul dalam ingatan banyak orang. Walau sesungguhnya kita juga tidak berharap agar para profesor menjadi content creator seperti selama ini juga diperankan oleh kepala Dinas Pendidikan tingkat Provinsi Aceh dalam membangun citra atau pencitraan lewat slogan-slogan Aceh bangkit, Aceh hebat dan Aceh Bermartabat itu.

Kehadiran pemikiran dan pencerahan para para profesor sesungguhnya sangat diharapkan selalu muncul dalam media-media mainstream, baik cetak maupun online, berupa artikel, esai atau opini.  

Setuju atau tidak, bahwa selama ini sangat sedikit profesor yang mau membagi ilmu mereka lewat media-media mainstream, koran, majalah, cetak atau online. Padahal saat ini, begitu banyak media online yang siap menerima kontribusi pemikiran para profesor di media-media online tersebut. Lagi pula, seperti dipaparkan oleh Prof. Dr. TM Jamil bahwa profesor adalah penjaga akal sehat yang bisa kita pahami sebagai penjaga peradaban.

Idealnya, para profesor dengan kedudukan itu dan banyaknya media yang tersedia saat ini, para profesor dapat dan mau memanfaatkan media -media tersebut sebagai corong pencerahan kepada publik. Apalagi bila kita dalami lebih jauh,  selama ini secara kuantitas, publikasi ilmiah internasional dari Indonesia melonjak tajam dalam satu dekade terakhir. Ini buktinya bahwa para profesor tersebut rajin menulis dan mempublikasikan di jurnal-jurnal internasional.  Hebat sekali bukan? 

Tentulah sangat hebat dan berkelas internasional, namun  jika kita membedah budaya di balik angka tersebut, ada beberapa anomali yang terjadi.

Pertama, para profesor itu menulis lebih cendrung karena Regulasi, bukan tradisi. Artinya, dorongan utama menulis di kalangan dosen dan profesor sering kali bersifat compliance-driven (memenuhi regulasi). Mereka menulis di jurnal- jurnal bereputasi (seperti Scopus). 

Kedua, tulisani-tulisan di jurnal menjadi syarat mutlak untuk naik jabatan fungsional (Lektor Kepala ke Guru Besar) atau mempertahankan tunjangan profesi.  Maka, ketika menulis dianggap sebagai beban administrasi, esensi transfer pengetahuan sering kali hilang dan pantas kalau publik merasa rindu membaca tulisan para profesor di media yang sering diakses publik.

Ketiga,  disadari atau tidak, Profesor di Indonesia lebih banyak mengejar artikel jurnal pendek demi poin KUM (Kredit Utama). Ini sebenarnya berbahaya bagi profesor, karena berkonsekuensi terhadap rendahnya  kontribusi profesor di ruang-ruang media publik yang idelanya bisa membantu memberikan pemikiran dan pencerahan terhadap berbagai persoalan sosial, budaya, politik, pendidikan dan juga keagamaan, sesuai dengan bidang dan keahlian atau kepakaran masing-masing.

Dampak dari mengejar jurnal saja juga berakibat pada sangat sedikitnya profesor yang meluangkan waktu menulis buku teks (monograf) yang mendalam, jernih, dan kontekstual untuk mahasiswa mereka.

Nah, kiranya di akhir tulisan ini, penulis juga ingin mengatakan bahwa realitas yang ada di tengah masyarakat dipahami terjadinya kondisi minimnya profesor yang menulis yang sekaligus mengindikasikan bahwa minat dan budaya menulis di media di kalangan profesor masih rendah. Sehingga membawa pengaruh pada banyak hal, termasuk terhadap para mahasiswa yang mereka hadapi. 

Kita pasti setuju bahwa budaya akademik di tingkat atas (profesor) secara otomatis membentuk habitus akademik di tingkat bawah (mahasiswa). Ini akan selalu ada hubungan kausalitasnya.

Akhirnya, sebagai penutup, tulisan ini bukan hendak menggugat dan mengeritik keberadaan profesor yang kini jumlahnya juga terus meningkat.

Ini hanya sebuah tulisan untuk mengingatkan dan menyampaikan kepada para profesor bahwa publik rindu membaca tulisan-tulisan profesor di berbagai media yang ada diakses meluas oleh publik. Mohon maaf bila dirasakan ini sebagai sebuah kelancangan berpendapat.

Salam hormat 

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Bio Narasi Tabrani Yunis, kelahiran Manggeng, Aceh Barat Daya, Aceh berlatarbelakang profesi seorang guru bahasa Inggris, mulai  aktif menulis di media sejak pada medio Juni 1989. Aktif mengisi ruang atau rubrik opini di sejumlah media lokal dan hingga nasional. Menulis artikel, opini, essay dan puisi pilihan hidup yang  kebutuhan hidup sehari-hari. Telah menulis, lebih 1000 tulisan berupa opini, esası dan puisi yang telah publikasikan di berbagai media.Menerbitkan 2 buku, yang merupakan kumpupan tulisan dalam buku Membumikan Literasi dan buku antologi puisi “ Kulukis Namamu di Awan” Aktif terlibat dalam  membangun gerakan literasi anak negeri sejak tahun 1990 terutama di kalangan perempuan dan anak. Bersama mendirikan LP2SM ( Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Sumber daya Manusia) dan di tahun 1993 mendirikan Center for Community Development and Education (CCDE). Lalu, sebagai Direktur CCDE membidani terbitnya Majalah POTRET (2003) dan majalah Anak Cerdas (2013). Kini aktif mengelola Potretonline.com dan majalahanakcerdas.com, sambil mempraktikkan kemampuan entreneurship di POTRET Gallery, Banda Aceh
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...