Ketika Amerika Serikat dan Iran Kehilangan Masa Depan

Oleh Ridwan Al-Makassary
Pada pekan ke-empat bulan ketiga perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, negosiasi diplomatik dan perang berlangsung bersamaan. Adalah CENTCOM Amerika Serikat(AS) telah mengumumkan mengenai “serangan pembelaan diri” dengan menyerang situs rudal dan kapal-kapal angkatan laut Iran di bandar Abbas.
Pada saat yang sama, negosiator Iran berada di Doha untuk mencari penyelesaian damai. Pihak Iran menyebut aksi pengeboman AS tersebut sebagai“pelanggaran atas gencatan senjata”.
Dunia sedang menyaksikan perang yang kehilangan tujuan moralnya sejak hari pertama. Amerika Serikat mengklaim ingin menghentikan ancaman program nuklir Iran. Sementara Iran mengklaim sedang melawan imperialisme global yang dipimpin AS.
Pekan ini, yang tersisa hanyalah ekonomi dunia yang limbung, harga energi yang melonjak, dan lanskap geopolitik yang semakin brutal. Harga minyak berfluktuasi liar akibat ketidakpastian perang dan ancaman terhadap Selat Hormuz yang masih berlansung. Negara-negara berkembang kembali menjadi korban yang paling menderita. Mereka tidak ikut menembakkan rudal, tetapi rakyat merekalah yang harus membayar harga pangan dan transportasi yang lebih mahal.
Inilah wajah paling sinis dari perang modern, di mana mereka yang tidak terlibat justru paling menderita.
Di balik retorika demokrasi dan keamanan internasional, perang ini memperlihatkan satu kenyataan pahit, yaitu tatanan global hari ini bekerja terutama untuk melindungi kepentingan negara-negara kuat.
Ketika Rusia menyerang Ukraina, dunia Barat berbicara tentang hukum internasional. Ketika Gaza dibombardir atau Iran diserang Isreal dan AS, hukum yang sama tiba-tiba menjadi fleksibel atau berlaku standar ganda.
Moralitas internasional telah berubah seperti tombol yang ditekan sesuai kepentingan percaturan geopolitik. Intinya, dunia tidak sedang mengalami krisis keamanan. Malahan, dunia sedang mengalami krisis kejujuran.
Iran, memang, bukan negara tanpa dosa. Rezim otokratik di Teheran memiliki sejarah panjang represi politik dan permainan milisi kawasan seperti Hizbullah di Lebanon. Tetapi, perang ini juga memperlihatkan bagaimana AS terus memelihara keyakinan lama bahwa stabilitas dunia hanya dapat lahir dari dominasi militer.
Padahal sejarah Irak, Afghanistan, Libya, hingga Suriah menunjukkan satu hal sederhana bahwa bom tidak pernah benar-benar menghasilkan perdamaian.
Dengan ujaran lain, bom hanya menciptakan jeda sebelum perang berikutnya. Yang lebih mengerikan adalah normalisasi kekerasan itu sendiri. Di media sosial, perang kini tampil seperti serial tanpa akhir. Ledakan acap menjadi konten, dan juga rudal menjadi grafik visual.
Kematian telah berubah menjadi statistik yang tidak menggetarkan sembari dunia menonton perang sambil menggulir layar telepon genggam. Sebagai satu akibat, kita tidak lagi menangisi korban dan derita perang, kita hanya mengonsumsinya.
Padahal di balik setiap angka korban terdapat kehidupan yang tidak bisa dikembalikan. Seorang ibu yang kehilangan anak, seorang mahasiswa yang kuliahnya berhenti karena kampusnya hancur, seorang sopir ambulans yang harus memilih siapa yang lebih dulu diselamatkan. Tetapi, semua tragedi itu tenggelam di bawah bahasa teknokratik tentang“kepentingan strategis” dan “stabilitas kawasan.”
Menjelang tiga bulan, perang Iran juga memperlihatkan kegagalan diplomasi global. Perserikatan Bangsa-Bangsa tampak lumpuh. Negara-negara besar sibuk menghitung keuntungan geopolitik masing-masing. Memang, Cina dan Rusia mengkritik Amerika, tetapi keduanya juga membaca perang ini sebagai peluang memperluas pengaruh geopolitik.
Sementara negara-negara Arab berjalan hati-hati, oleh karena takut menjadi medan perang berikutnya.
Timur Tengah sekali lagi diperlakukan bukan sebagai rumah bagi jutaan manusia, melainkan papan catur raksasa tempat negara kuat mempertaruhkan ego mereka. Murungnya, perang ini justru membuat Iran semakin penting dalam imajinasi politik global. Semakin ditekan, Teheran semakin dipersepsikan sebagai simbol perlawanan terhadap dominasi barat.
Di banyak negara Dunia Selatan, perang ini tidak lagi dibaca sekadar konflik Amerika Serikat-Iran, tetapi sebagai metafora lama tentang ketimpangan dunia, yaitu siapa yang boleh memiliki nuklir, dan siapa yang harus terus diawasi.
Karena itu, perang ini mungkin tidak akan menghasilkan kemenangan mutlak bagi siapa pun. Amerika mungkin unggul secara teknologi militer. Tetapi setiap hari perang berlangsung, legitimasi moralnya semakin terkikis. Iran mungkin mampu bertahan dan membangun narasi perlawanan. Tetapi harga sosial dan ekonomi yang harus dibayar rakyatnya juga semakin menghancurkan.
Keduanya mungkin sama-sama kuat untuk terus bertempur, tetapi sama-sama lemah untuk membangun perdamaian.
Menjelang tiga bulan perang Iran berlangsung, dunia mengetahui perang ini tidak akan benar-benar menyelesaikan apa pun. Tetapi, tidak ada yang cukup berani menghentikannya.
Sejarah sering mengajarkan bahwa peradaban runtuh bukan hanya karena perang, melainkan karena manusia terlalu lama menganggap perang sebagai sesuatu yang normal.
Pungkasannya, hari ini ketika langit Timur Tengah terus menyala oleh misil dan drone, dunia tampaknya sedang berjalan perlahan menuju terminal kematian yang tidak lagi mengejutkan, dan dunia tampaknya semakin kehilangan kemampuan untuk merasakan penderitaan orang lain.
Penulis adalah Dosen Departemen Ilmu Politik Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) dan Direktur Centerfor the Study of Muslim Politics and World Society (COMPOSE).













