Artikel · Potret Online

Qurban Prabowo untuk Bersenang-Senang

Penulis  Redaksi
Mei 29, 2026
3 menit baca 25
94e487cb-c6a5-4f9f-ac4d-2a6a617d8c82
Foto / IlustrasiQurban Prabowo untuk Bersenang-Senang

Qurban Prabowo untuk Bersenang-Senang

Jonminofri Nazir

Saya pernah jadi panitia qurban waktu sekolah di SMAN 4 Jakarta. Sudah lama sekali. Ketika itu, orang belum memotret sate sebelum dimakan. Jumlah hewan qurban waktu itu banyak sekali. Saya lupa persisnya berapa. Yang jelas, setelah dibagikan ke lingkungan sekolah, daging masih menumpuk.

Karena daging tidak bisa simpan lama-lama, daging kami kirim sebagian ke Marunda. Naik mobil rame-rame. Dalam pikiran anak-anak sekolah ketika itu, orang Marunda pasti lebih membutuhkan daripada kami. Lagi pula kami dan penduduk sekitar sekolah juga sudah kebagian daging.

Sekarang keadaan malah lebih seru.

Di banyak kompleks perumahan, jumlah hewan qurban melimpah ruah. Daging dibagikan ke “orang kampung”, istilah khas penghuni kompleks untuk manusia yang tinggal di luar pagar. Seolah-olah pagar perumahan itu batas antara peradaban dan rakyat jelata.

Masalahnya, di kampung sebelah, hewan qurbannya juga banyak. Semua orang merasa mampu, semua orang ingin pahala, dan semua orang ingin masuk grup WhatsApp keluarga sambil bilang: “Alhamdulillah tahun ini masih bisa qurban.”

Akhirnya daging menumpuk di mana-mana.

Setiap Idul Adha, negeri ini mendadak seperti festival protein nasional.

Maka pemandangan yang muncul selalu sama: halaman rumah penuh asap sate. Gang-gang kecil berubah jadi arena bakar-bakaran. Orang kaya nyate. Orang miskin nyate. Ketua RT nyate. Pengangguran nyate. Bahkan yang kolesterolnya sudah lewat batas BPJS tetap nyate sambil bilang, “Sekali setahun.” Seolah malaikat pencatat amal juga bekerja sama dengan dokter jantung.

Tentu saja ini tidak salah. Bersenang-senang itu halal. Tertawa sambil makan sate juga tidak membatalkan ibadah qurban. Fungsi berbagi kepada yang membutuhkan memang sudah terpenuhi. Tapi karena daging terlalu banyak dan kulkas terlalu kecil, akhirnya qurban berubah menjadi pesta makan bersama. Ibadah ketemu barbeque.

Tahun ini ceritanya naik kelas lagi.

Prabowo mengalokasikan sekitar Rp100 miliar untuk membeli hewan qurban melalui anggaran Banmaspres 2026. Angka yang tidak kecil. Dengan uang sebanyak itu, mungkin sapi-sapi sampai merasa sedang ikut program hilirisasi nasional.

Presiden-presiden sebelumnya juga pernah membeli hewan qurban dari pos yang sama, tapi biasanya sekadar simbolis. Satu-dua ekor sapi. Tidak sampai seperti sedang memborong isi peternakan se-Jawa Tengah.

Padahal anggaran Banmaspres itu bisa dipakai untuk banyak hal: bantuan bencana, dukungan pesantren, kegiatan sosial keagamaan, bantuan komunitas adat, dan lain-lain. Tapi kali ini hampir seluruhnya habis untuk sapi qurban.

Pertanyaannya sederhana: setelah daging itu habis dibakar jadi sate dalam dua hari, lalu apa?

Karena kenyataannya, daging qurban bukan kebutuhan darurat jangka panjang. Orang miskin memang senang dapat daging. Semua orang senang dapat daging gratis. Bahkan vegetarian pun kadang goyah kalau sate kambing lewat depan hidung. Tapi bantuan model begini efeknya pendek sekali. Hari ketiga, hidup kembali normal. Harga beras tetap mahal. Kontrakan tetap jatuh tempo. Dan rakyat kembali makan mi instan sambil menatap masa depan.

Kalau memang negara ingin membantu rakyat lewat qurban, mungkin bentuknya bisa lebih masuk akal. Misalnya sapi-sapi itu diolah jadi kornet atau makanan kaleng. Jika jual kornet 340 gram ada yang Rp20 ribu per kaleng. Sehingga bisa dihasilkan 5 juta kaleng.

Daging bisa disimpan lebih lama. Bisa dikirim ke daerah rawan pangan. Bisa dipakai saat bencana. Ada manfaat berkelanjutan, bukan sekadar pesta asap sate tahunan.

Lagi pula secara fikih, qurban itu ibadah personal. Yang berqurban adalah orang, bukan negara. Negara tidak masuk surga hanya karena dana APBN digunakan untuk membeli sapi.

Tapi tentu saja, politik selalu punya cara kreatif memelihara citra.

Bayangkan kalau nanti kemasan daging kaleng itu ditempeli foto Prabowo. Ada wajah beliau di kaleng kornet. Di bawahnya tulisan: “Dikonsumsi sebelum kampanye berikutnya.”

Lumayan. Rakyat kenyang, politisi senang, dan sapi akhirnya benar-benar masuk sejarah demokrasi Indonesia.[]

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Majalah Perempuan Aceh
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...