Dengarkan Artikel
Sejarah bangsa-bangsa selalu menampilkan tokoh heroik. Kebenarannya pun perlu difalsifikasi, kata Karl Popper. Bila merujuk Derrida, kata heroik patut dipertanyakan. Heroik bagi siapa dan khianat bagi siapa adalah padanan kata yang seiring sejalan. Tokoh-tokoh itu selalu diperbincangkan, sebut saja raja-raja di masa lalu.
Di Aceh ada Iskandar Muda, di Jawa ada Hayam Wuruk. Lalu, di era pasca-kerajaan lahir tokoh-tokoh kontroversial. Banyak yang memuja, tak sedikit yang mencaci. Bahkan para Nabi di agama-agama samawi tak terhindar dari hinaan. Mereka juga dikritisi tindakannya meski umat yakin itu atas izin Tuhan.
Tokoh politik pun pasti mengalami hal yang sama. Siapapun dia, bahkan jika bukan tokoh politik, akan mendapat pujian dan cemoohan. Seorang penulis, guru, pejabat, apapun profesi Anda, akan merasakannya, meski tidak semua terdengar.
Saat menulis kritik sosial, saya sudah siap dengan respons negatif. Misalnya, kritik kebijakan presiden direspons dengan, “alah dia kritik karena tidak masuk pemerintahan” atau “apa untungnya dia kritik presiden.” Ini contoh Ad Hominem, menyerang pribadi pengkritik dan mengabaikan isi kritik.
Ucapan semacam ini adalah cacat logika: isi kritik diabaikan, karakter orang yang menyampaikan diserang. Cukup tersenyum dan jangan terjebak debat kusir.
Cacat logika memang tidak diajarkan di sekolah, sehingga wajar bila terjadi, bahkan di kalangan pejabat dan akademisi. Contohnya, “Ah, ngapain milih presiden toh tidak ngaruh dengan saya” adalah Non Sequitur, kesimpulan yang tidak relevan dengan premis. Merasa tak terdampak langsung tidak berarti pemilu tidak berpengaruh.
Indonesia beruntung, cacat logika berangsur sirna. Sejak Joko Widodo terpilih, masyarakat merasakan kebijakan yang menggunakan Idola Teater (Bacon), jebakan logika ketika orang percaya pencitraan ketimbang kenyataan. Memilih presiden yang tepat menjadi penting. Namun, krisis kepercayaan memunculkan ucapan, “Ah semua saja,” yang merupakan Generalisasi Berlebihan, menyamaratakan semua tokoh politik sama buruknya.
Meskipun demikian, ini bukan sepenuhnya salah. Bahkan doa mayoritas yang dikabulkan Allah tetap membawa konsekuensi. Indonesia selalu mendapatkan eksekutor yang sama. Presiden, gubernur, bupati, atau wali kota adalah eksekutif, bukan pemimpin mutlak.
📚 Artikel Terkait
Selama 10 tahun Joko Widodo menjadi eksekutor, publik menyadari banyak hal: definisi merakyat, janji politik, dan skenario politik yang membentuk kesadaran masyarakat. Joko Widodo (Mulyono) memperlihatkan bahwa kemunafikan bisa memberi kekuasaan. Bahkan orang berpendidikan tinggi pun terjebak.
Para pemilih Jokowi sendiri bukan kaleng-kaleng: sarjana, magister, doktor, hingga profesor. Meski beberapa mulai menyadari kesalahan, sejarah tetap mencatat siapa yang menghadirkan eksekutor kotor. Publik pun menjadi lebih hati-hati dan tidak mudah terjebak pencitraan, meski pola serupa masih terjadi di 2024 dan mungkin masih terjadi di 2029.
Kelicikan tim pemenangan membungkus “barang lama” agar tetap laku. Banyak pemilih tidak membaca sejarah. Emosi, like–dislike, dan pragmatisme mengalahkan rasionalitas. Sikap “tidak ngaruh bagi saya siapapun pemenangnya” adalah Bandwagon Fallacy dan Apatisme Politik, mengikuti arus tanpa analisis logis.
Pendukung fanatik Jokowi yang dulu siang-malam memantau media sosial perlahan beralih ke Prabowo. Ini sifat manusia pragmatis dan contoh Idola Tribus, jebakan logika berdasarkan fanatisme kelompok, bukan rasionalitas.
Hipotesis ini bisa salah. Ilmiah harus memungkinkan kesalahan agar tetap bersifat falsifikasi, sesuai Karl Popper. Bacon juga memperingatkan agar kita terhindar dari idola-idola pikiran. Nabi Muhammad, Shallallahu ‘Alaihi Wasallam (SAW), telah memberi keteladanan jauh sebelum Bacon, tanpa media sosial atau ego kesukuan. Cahaya kebenaran mudah masuk, dan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam (SAW) mencontohkan hal itu.
Jika masih ada idola pikiran, kebenaran sulit diterima. Pendukung Jokowi di akar rumput saat itu mengidap hal ini, jadi saat mereka sadar, jangan mengejek. Cukup tersenyum dalam hati sambil tetap kritis. Sikap kritis ini membawa Ibrahim Alaihissalam menemukan Tuhan Yang Maha Benar.
Terima kasih, Joko Widodo, karena menumbuhkembangkan sikap kritis manusia Indonesia dengan kinerja Anda. Selama 10 tahun menjadi presiden, Anda membuka tabir kebenaran satu demi satu. Sikap ilmiah mulai tumbuh disebabkan inkonsistensi antara ucapan dan tindakan. Hal itu berakibat rasa percaya pada tokoh politik mendekati nol. Secara ilmiah memang kita patut curiga terhadap apapun bahkan terhadap diri sendiri. Jangan-jangan kita sedang hedonis, egois, fanatik, apatis, atau menuju ke arah yang salah.
Semoga, dari pengalaman dan pengamatan terhadap kepemimpinan selama 10 tahun, kita belajar menegakkan sikap kritis, objektif, dan adil. Jangan terjebak pada fanatisme atau pencitraan semata, melainkan teliti dan introspektif dalam menilai setiap tindakan pemimpin. Seperti firman Allah dalam Al-Qur’an:
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, supaya kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat [49]: 6)
Dengan meneladani prinsip ini, kritik kita menjadi bermakna, bukan sekadar emosi atau opini, melainkan bagian dari menuntut ilmu dan menegakkan keadilan. Semoga Allah membimbing kita agar tetap bijak dalam menilai, bertindak, dan bersikap, sebagaimana Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah memberi contoh. Terima kasih Jokowi. Wallahualam bissawab.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






