POTRET Online
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

Terima Kasih Jokowi

Don ZakiyamaniOleh Don Zakiyamani
September 9, 2025
Tags: Politik
🔊

Dengarkan Artikel

Sejarah bangsa-bangsa selalu menampilkan tokoh heroik. Kebenarannya pun perlu difalsifikasi, kata Karl Popper. Bila merujuk Derrida, kata heroik patut dipertanyakan. Heroik bagi siapa dan khianat bagi siapa adalah padanan kata yang seiring sejalan. Tokoh-tokoh itu selalu diperbincangkan, sebut saja raja-raja di masa lalu.

Di Aceh ada Iskandar Muda, di Jawa ada Hayam Wuruk. Lalu, di era pasca-kerajaan lahir tokoh-tokoh kontroversial. Banyak yang memuja, tak sedikit yang mencaci. Bahkan para Nabi di agama-agama samawi tak terhindar dari hinaan. Mereka juga dikritisi tindakannya meski umat yakin itu atas izin Tuhan.

Tokoh politik pun pasti mengalami hal yang sama. Siapapun dia, bahkan jika bukan tokoh politik, akan mendapat pujian dan cemoohan. Seorang penulis, guru, pejabat, apapun profesi Anda, akan merasakannya, meski tidak semua terdengar.

Saat menulis kritik sosial, saya sudah siap dengan respons negatif. Misalnya, kritik kebijakan presiden direspons dengan, “alah dia kritik karena tidak masuk pemerintahan” atau “apa untungnya dia kritik presiden.” Ini contoh Ad Hominem, menyerang pribadi pengkritik dan mengabaikan isi kritik.

Ucapan semacam ini adalah cacat logika: isi kritik diabaikan, karakter orang yang menyampaikan diserang. Cukup tersenyum dan jangan terjebak debat kusir.

Cacat logika memang tidak diajarkan di sekolah, sehingga wajar bila terjadi, bahkan di kalangan pejabat dan akademisi. Contohnya, “Ah, ngapain milih presiden toh tidak ngaruh dengan saya” adalah Non Sequitur, kesimpulan yang tidak relevan dengan premis. Merasa tak terdampak langsung tidak berarti pemilu tidak berpengaruh.

Indonesia beruntung, cacat logika berangsur sirna. Sejak Joko Widodo terpilih, masyarakat merasakan kebijakan yang menggunakan Idola Teater (Bacon), jebakan logika ketika orang percaya pencitraan ketimbang kenyataan. Memilih presiden yang tepat menjadi penting. Namun, krisis kepercayaan memunculkan ucapan, “Ah semua saja,” yang merupakan Generalisasi Berlebihan, menyamaratakan semua tokoh politik sama buruknya.

Meskipun demikian, ini bukan sepenuhnya salah. Bahkan doa mayoritas yang dikabulkan Allah tetap membawa konsekuensi. Indonesia selalu mendapatkan eksekutor yang sama. Presiden, gubernur, bupati, atau wali kota adalah eksekutif, bukan pemimpin mutlak.

📚 Artikel Terkait

Teungku Chik Di Leupu; Pengarang Kitab Masailal Muhtadi dan Murid Teungku Syiah Kuala

Fanatik Menjadi Langkah Awal Kebodohan

LPD Kunjungi Ibu Rohani Disabilitas Yang Mahir Melukis

“ Awas POTRET” Jangan (hanya) Dibaca

Selama 10 tahun Joko Widodo menjadi eksekutor, publik menyadari banyak hal: definisi merakyat, janji politik, dan skenario politik yang membentuk kesadaran masyarakat. Joko Widodo (Mulyono) memperlihatkan bahwa kemunafikan bisa memberi kekuasaan. Bahkan orang berpendidikan tinggi pun terjebak.

Para pemilih Jokowi sendiri bukan kaleng-kaleng: sarjana, magister, doktor, hingga profesor. Meski beberapa mulai menyadari kesalahan, sejarah tetap mencatat siapa yang menghadirkan eksekutor kotor. Publik pun menjadi lebih hati-hati dan tidak mudah terjebak pencitraan, meski pola serupa masih terjadi di 2024 dan mungkin masih terjadi di 2029.

Kelicikan tim pemenangan membungkus “barang lama” agar tetap laku. Banyak pemilih tidak membaca sejarah. Emosi, like–dislike, dan pragmatisme mengalahkan rasionalitas. Sikap “tidak ngaruh bagi saya siapapun pemenangnya” adalah Bandwagon Fallacy dan Apatisme Politik, mengikuti arus tanpa analisis logis.

Pendukung fanatik Jokowi yang dulu siang-malam memantau media sosial perlahan beralih ke Prabowo. Ini sifat manusia pragmatis dan contoh Idola Tribus, jebakan logika berdasarkan fanatisme kelompok, bukan rasionalitas.

Hipotesis ini bisa salah. Ilmiah harus memungkinkan kesalahan agar tetap bersifat falsifikasi, sesuai Karl Popper. Bacon juga memperingatkan agar kita terhindar dari idola-idola pikiran. Nabi Muhammad, Shallallahu ‘Alaihi Wasallam (SAW), telah memberi keteladanan jauh sebelum Bacon, tanpa media sosial atau ego kesukuan. Cahaya kebenaran mudah masuk, dan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam (SAW) mencontohkan hal itu.

Jika masih ada idola pikiran, kebenaran sulit diterima. Pendukung Jokowi di akar rumput saat itu mengidap hal ini, jadi saat mereka sadar, jangan mengejek. Cukup tersenyum dalam hati sambil tetap kritis. Sikap kritis ini membawa Ibrahim Alaihissalam menemukan Tuhan Yang Maha Benar.

Terima kasih, Joko Widodo, karena menumbuhkembangkan sikap kritis manusia Indonesia dengan kinerja Anda. Selama 10 tahun menjadi presiden, Anda membuka tabir kebenaran satu demi satu. Sikap ilmiah mulai tumbuh disebabkan inkonsistensi antara ucapan dan tindakan. Hal  itu berakibat rasa percaya pada tokoh politik mendekati nol. Secara ilmiah memang kita patut curiga terhadap apapun bahkan terhadap diri sendiri. Jangan-jangan kita sedang hedonis, egois, fanatik, apatis, atau menuju ke arah yang salah.

Semoga, dari pengalaman dan pengamatan terhadap kepemimpinan selama 10 tahun, kita belajar menegakkan sikap kritis, objektif, dan adil. Jangan terjebak pada fanatisme atau pencitraan semata, melainkan teliti dan introspektif dalam menilai setiap tindakan pemimpin. Seperti firman Allah dalam Al-Qur’an:

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, supaya kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat [49]: 6)

Dengan meneladani prinsip ini, kritik kita menjadi bermakna, bukan sekadar emosi atau opini, melainkan bagian dari menuntut ilmu dan menegakkan keadilan. Semoga Allah membimbing kita agar tetap bijak dalam menilai, bertindak, dan bersikap, sebagaimana Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah memberi contoh. Terima kasih Jokowi. Wallahualam bissawab.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 79x dibaca (7 hari)
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 73x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 71x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 64x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 57x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Tags: Politik
Don Zakiyamani

Don Zakiyamani

Penikmat kopi tanpa gula

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
POTRET Utama

Generasi Indonesia Emas  Kehilangan Bonus

Oleh Tabrani YunisMarch 5, 2026
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026
#Pendidikan

Kala Kemampuan Kognisi Siswa Semakin Menurun

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    170 shares
    Share 68 Tweet 43
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    163 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
148
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
211
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya

Menulis Dengan Jujur

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Al-Qur’an

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00