Menyamar Jadi Penyeimbang: Di Mana Letak Oposisi Kita?

Oleh Yani Andoko
Ketika Parlemen Bertepuk Sebelah Tangan
Saat Anda sedang menonton pertandingan tinju. Di satu sudut, seorang petinju bertubuh raksasa dengan kekuatan super-mayoritas. Di sudut lain, seorang petinju yang lebih kecil, tapi lantang bersuara. Wasit meniup peluit, pertandingan dimulai. Petinju kecil itu meninju udara, berteriak “Awas, aku akan kalahkan kamu!” Tapi tinjunya tak pernah sampai ke wajah lawan. Lawannya hanya tersenyum, lalu dengan santai meladeni. Di akhir ronde, si kecil mengaku telah “bertarung dengan gagah berani”. Penonton bertepuk tangan. Tapi tak ada yang berubah.
Inilah potret politik Indonesia hari ini. Kita memiliki banyak kritik, banyak suara lantang dari sejumlah aktivis, intelektual, bahkan partai politik. Namun, ketika koalisi pemerintah menguasai 81% kursi DPR, suara-suara itu ibarat teriakan di tengah badai: terdengar, tapi tak mengubah arah angin. Lalu, apakah mereka bisa disebut oposisi? Atau sekadar ‘gejolak biasa’ yang nyaman-nyaman saja?
Mari kita bedah bersama, dengan secangkir kopi dan tanpa pretensi akademik yang kaku.
PDIP: Sang “Penyeimbang” Yang Tak Pernah Menyeimbangkan
Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri berkali-kali menegaskan bahwa partainya bukanlah oposisi, melainkan “penyeimbang”. Alasannya: Indonesia menganut sistem presidensial, yang menurut mereka tak mengenal istilah oposisi formal. Dalam pidatonya di DPR Mei 2026, Presiden Prabowo bahkan berterima kasih kepada PDIP karena “berkorban” berada di luar pemerintahan demi menjalankan fungsi kontrol.
Lucu juga, ya. Sebuah kekuasaan mengucapkan terima kasih kepada pengawasnya. Lalu, apa bedanya dengan pujian seorang bos kepada karyawan yang rajin melapor tapi tak pernah ditegur?
Data bicara. Koalisi pendukung pemerintah menguasai sekitar 470 dari 580 kursi DPR. PDIP hanya 110 kursi (19%). Dalam setiap voting, suara PDIP tak pernah cukup untuk menggagalkan kebijakan. Mereka bisa berorasi selama berjam-jam di ruang rapat, menayangkan data, menangis haru, tapi ketika tombol voting ditekan, angka tetap tak berpihak.
Di luar parlemen, elit PDIP juga tak pernah memobilisasi massa untuk menekan istana. Mereka lebih sering hadir dalam acara resmi pemerintahan dengan senyum manis.
Dari perspektif psiko-politik, posisi PDIP ini adalah ‘oposisi simbolis’ atau ‘pseudo-opposition’. Mereka berpura-pura melakukan check and balances agar tetap relevan di mata publik, namun sadar betul bahwa kritik mereka hanyalah ritual belaka. Bahkan, pemerintah pun membutuhkan mereka. Mengapa? Karena kritik yang terinstitusi seperti ini berfungsi sebagai katup pengaman. Masyarakat bisa merasa bahwa masih ada yang “memperjuangkan suara mereka” di parlemen, sehingga tekanan sosial tak meledak ke jalanan. Semua pihak nyaman, tak ada yang benar-benar terganggu.
Jadi, apakah PDIP oposisi diam? Bukan, karena mereka bicara keras. Apakah oposisi terbuka? Juga bukan, karena mereka tak pernah berniat menumbangkan kebijakan. Mereka adalah teater oposisi yang dipentaskan dengan apik tiap musim sidang.
Antara Oposisi Sejati, Sandiwara, Dan Diam Yang Berisik
Andre Yunus, Tyo, Dan Aktivis Mahasiswa: Oposisi Terbuka Yang Tersisa
Berbeda dengan PDIP, para aktivis mahasiswa tak punya kursi di parlemen, tak punya akses ke ruang ber-AC, dan tak punya ‘jatah’ untuk sekadar tampil di TV setiap malam. Mereka punya tubuh dan suara.
Andre Yunus, aktivis yang dikenal kritis, nyaris kehilangan nyawa setelah diserang usai ditangkap berbicara dalam diskusi tentang revisi UU TNI. Ia sendiri menyebutnya sebagai “percobaan pembunuhan berencana”. Tyo (BEM UGM) yang vokal mengritik program Makan Bergizi Gratis dan menyebut rezim “bodoh dan inkompeten” mendapat ancaman penculikan. Keluarganya pun ikut diteror. Mereka tidak bisa bersembunyi di balik kata “penyeimbang” atau “mitra strategis”. Mereka adalah oposisi terbuka dengan konsekuensi terbuka pula.
Namun, apakah gerakan mereka efektif? Jawabannya pahit: efektivitas politik mereka sangat rendah dalam mengubah kebijakan dalam waktu pendek. Demo mahasiswa tak akan membubarkan KIM Plus. Seruan boikot tak akan menggoyahkan kursi presiden. Mereka lebih berfungsi sebagai alarm moral yang mengingatkan bahwa tak semua orang diam. Tapi alarm tanpa pemadam kebakaran hanya akan berbunyi hingga baterainya habis.
Mengapa demikian? Karena kekuasaan saat ini tidak hanya besar, tapi juga cerdas. Pemerintah merespons kritik dengan strategi ‘cambuk dan permen’ : sesekali menggunakan kekerasan (cambuk), lalu memberikan konsesi kecil seperti mendengarkan aspirasi atau menurunkan harga komoditas (permen) untuk meredakan amarah. Akibatnya, mobilisasi massa sulit bertahan lama.
Oposisi Diam: Mereka Yang Memilih Bertahan Dalam Sunyi
Di antara PDIP yang ramai di panggung dan aktivis mahasiswa yang berisik di jalan, ada kelompok ketiga: oposisi diam. Mereka adalah dosen-dosen kritis yang mengajar dengan hati-hati, jurnalis yang menulis opini dengan diksi penuh kode, seniman yang menyindir lewat lukisan dan puisi, atau pegawai negeri yang berbisik di kantin. Mereka tidak ingin viral, tidak ingin ditangkap, tidak ingin kehilangan pekerjaan. Tapi mereka juga tidak bisa diam seratus persen.
Mereka menggelar diskusi tertutup, membuat meme satire di akun anonim, atau sekadar tidak mematuhi aturan kecil sebagai bentuk resistansi pasif. Dari kacamata psikologi politik, strategi ini adalah bentuk learned helplessness yang dibalik menjadi survival. Mereka sadar bahwa perubahan struktural tak mungkin, jadi mereka memilih mempertahankan integritas pribadi dan menabung perlawanan untuk generasi berikutnya.
Apakah ini efektif? Dalam jangka pendek, tidak. Tapi dalam jangka panjang, oposisi diam adalah akar rumput yang tak terlihat. Ia tak akan memukul, tapi ia bisa tetap hidup meski disiram aspal. Contoh sejarah: gerakan Solidarność di Polandia dimulai dari diskusi-diskusi kecil di ruang bawah tanah, bertahun-tahun sebelum akhirnya tumbang. Tapi kita juga harus jujur: tanpa ada pemicu krisis ekonomi atau represi yang melampaui batas, oposisi diam cenderung tetap diam selamanya.
Rocky Gerung: Oposisi Tanpa Kantor, Juga Tanpa Risiko Maksimal
Sebut saja namanya: Rocky Gerung. Intelektual publik yang dijuluki ‘Dosen Bangsa’ ini bergerak cair. Hari ini ia bisa menyebut Menteri Keuangan “cuma kasir” di depan publik, besok ia hadir di pelantikan menteri di Istana. Ia tetap kritis dari dalam, tapi tak sedikit yang menuduhnya kooptasi.
Rocky adalah figur zona abu-abu. Ia bukan oposisi terbuka karena tak pernah memobilisasi massa. Ia bukan oposisi diam karena sangat vokal di media. Ia lebih tepat disebut sebagai oposisi naratif : ia berperang di ranah wacana, bukan di parlemen atau jalanan. Efektivitasnya? Tinggi untuk membentuk opini publik, rendah untuk mengubah kebijakan. Ia bisa membuat Anda merenung atau marah, tapi tak akan membuat Presiden mencabut UU.
Dari sudut pandang psiko-politik, Rocky memainkan strategi ‘kritik tanpa musuh eksplisit’ . Ia mengkritik kebijakan, bukan langsung orangnya, sehingga sulit dilabeli sebagai pemberontak. Ia juga menjaga akses ke kekuasaan, sehingga tak mudah ditekan. Cerdik, tapi kontroversial.
Tidak Ada Oposisi Efektif, Yang Ada Adalah Spektrum Kepasrahan
Setelah berkeliling dari kursi DPR hingga diskusi bawah tanah, apa kesimpulan kita?
Pertama, dalam sistem dengan koalisi gemuk 81%, oposisi efektif tidak mungkin ada. Secara matematis, struktur politik meniadakan ruang untuk perubahan lewat jalur prosedural. Kritik sekencang apa pun akan menjadi gema di ruang hampa.
Kedua, para aktor yang kita sebut sebagai oposisi sebenarnya bermain di ranah yang berbeda. PDIP memainkan teater penyeimbang demi elektoral. Aktivis mahasiswa memainkan perlawanan moral dengan taruhan nyawa. Oposisi diam memainkan strategi bertahan hidup. Rocky Gerung memainkan narasi tanpa tanggung jawab struktural. Tak satu pun dari mereka yang secara tunggal mampu menggoyang kekuasaan.
Ketiga, ini bukan berarti kita putus asa. Justru, dengan memahami posisi masing-masing, kita bisa menentukan strategi yang sesuai dengan kapasitas dan risiko kita sendiri. Jika Anda punya privilege dan kekuatan, berteriaklah seperti Andre Yunus. Jika Anda punya posisi rentan, berkreasilah secara diam-diam. Jika Anda hanya pemilih biasa, setidaknya jangan tertipu oleh sandiwara ‘penyeimbang’ yang tak pernah menyeimbangkan.
Karena pada akhirnya, oposisi yang paling efektif di Indonesia hari ini bukanlah siapa yang paling keras, melainkan siapa yang paling jujur pada realitas, lalu tetap memilih untuk tidak tunduk. Dan di sinilah letak ironi demokrasi kita: kita dipaksa untuk berani, tapi juga dipaksa untuk paham bahwa keberanian itu mungkin tak akan membuahkan hasil dalam hidup kita. Tapi apakah itu alasan untuk berhenti? Tidak.
Lebih baik menjadi teriakan yang tak didengar, daripada menjadi bisu yang ikut-ikutan tertawa.
Batu, 3 Pebruari 2026













