Angin, Hujan, dan Layang-Layang

Tentang Arah yang Tidak Bisa Dipaksakan
Oleh Saiful Bahri
Motivator, Berdomisili di Jakarta
Pagi itu langit cerah. Di lapangan belakang rumah, seorang anak sedang asyik menerbangkan layang-layang buatannya sendiri.
Warna-warni, dengan ekor panjang yang meliuk-liuk ditiup angin.
“Lihat! Aku yang bikin lo terbang tinggi!” katanya sambil menarik tali dengan bangga. Dadanya busung, merasa layang-layang itu bisa tinggi karena tenaganya.
Layang-layang itu hanya diam. Ia tahu betul, kalau bukan karena angin, ia hanyalah selembar kertas yang akan tergeletak di tanah dan jadi pembubgkus makanan saja
Tali di tangannya memang membuatnya terkendali, tapi arah terbang tetap bukan kemauannya.
Tiba-tiba angin pelan lewat dan berbisik,
“Nak, Aku tidak kelihatan memang, tidak bisa kamu genggam. Tapi tanpa aku, lku tidak bakal gerak satu senti pun.
Kamu boleh narik tali sekencang apa pun, tapi arahmu tetap aku yang tentukan.”
Anak itu kesal mendengarnya. Ia merasa diremehkan.
“Ah, bohong! Aku yang atur kami !”
Ia tarik tali lebih keras, berharap layang-layang itu menurut sepenuhnya.
Tali menegang. Layang-layang oleng ke kiri dan ke kanan.
Pret! Tali itu putus.
Layang-layang itu langsung kehilangan arah, berputar-putar di udara, lalu jatuh terhempas ke tanah.
Belum sempat anak itu memungutnya, langit yang tadinya biru tiba-tiba menggelap.
Awan hitam datang cepat. Suasana yang tadinya ramai dengan anak-anak yang bermain, seketika berubah panik.
Hujan turun deras.
Dalam hitungan menit semua bubar. Anak-anak lari mencari atap tempat berteduh, sandal ketinggalan, layang-layang tercecer.
Layang-layang yang tadi jatuh itu sekarang kehujanan, dan hancur. Kertasnya basah, lembek, warnanya luntur.
Yang tersisa hanyalah rangka bambu yang kaku, tergeletak tak berdaya di atas tanah berlumpur.
Angin sudah berhenti. Suara yang ada hanya derai hujan dan gemuruh langit.
Baru saat itu anak itu duduk di bawah emperan, menatap layang-layangnya yang rusak.
Ia baru sadar. Ada hal yang tidak bisa dipaksa dengan tenaga. Ada arah yang harus diikuti, bukan dilawan.
Dan ada kekuatan yang jauh lebih besar dari angin — hujan, air, salah satu tentara Allah yang manusia nggak bisa lawan.
Sekali air itu turun, manusia yang tadinya merasa paling hebat, paling bisa mengatur, langsung kocar-kacir.
Sombongnya hilang. Tinggal lari menyelamatkan diri masing nasing
Pesan:
Jangan pernah merasa bisa mengendalikan segalanya sendirian.
Jangan menarik tali sampai putus karena ego. Kadang yang kita butuhkan bukan tenaga lebih besar, tapi kebijaksanaan untuk mengikuti arah yang benar.
Dan jangan pernah sombong — karena sekali hujan turun, semua yang kita pegang bisa hanyut.













