Artikel · Potret Online

Gagah Membela, Gagap Mengoreksi

Penulis  Redaksi
Mei 22, 2026
4 menit baca 20

Oleh: Suko Wahyudi 

Begitu agama disentuh oleh ejekan dari luar, udara mendadak berubah tegang seperti kabel listrik yang dikupas sembarangan. Mimbar berdehem lebih keras dari biasanya. Pengeras suara menemukan kembali kejayaannya. Orang orang yang kemarin sibuk dengan urusan cicilan, harga cabai, dan notifikasi pinjaman online, mendadak menjelma pasukan pembela langit. Jalanan penuh oleh semangat yang berlari lebih cepat daripada logika. Semua ingin menjadi penjaga kesucian. Semua ingin tampil sebagai pengawal Tuhan, seolah Yang Maha Kuasa sedang membutuhkan tenaga tambahan dari manusia yang bahkan mengurus hidupnya sendiri masih pontang panting.

Tetapi lihatlah betapa cepat keberanian itu masuk angin ketika maling uang rakyat ternyata pandai mengutip ayat. Betapa mendadak lidah menjadi sopan ketika pelaku pencabulan ternyata memakai peci, sorban, jas dakwah, atau memiliki foto bersama tokoh besar. Orang yang biasanya berteriak sampai urat lehernya menyerupai kabel listrik, tiba tiba bicara lirih seperti penyiar radio tengah malam. Ada yang berkata, “Jangan membuka aib.” Ada yang berkata, “Beliau juga manusia.” Ada yang berkata, “Mari tabayun.” Tabayun menjadi selimut elektrik bagi dosa yang kedinginan.

Padahal korupsi tidak pernah menjadi saleh hanya karena dilakukan sambil mengucap salam. Pencabulan tidak berubah menjadi ibadah hanya karena pelakunya hafal beberapa halaman kitab. Tetapi kita ini memang bangsa yang kadang lebih tersinggung oleh luka pada simbol daripada oleh darah yang menetes dari tubuh korban. Ayat yang salah dikutip bisa membuat rapat darurat. Anak yang dilecehkan kadang hanya mendapat nasihat supaya sabar dan tidak mempermalukan lembaga.

Kita punya keberagamaan yang kadang sangat rajin mencuci wajah, tetapi malas membersihkan hati. Agama dipoles seperti mobil baru menjelang pawai, mengkilap di luar, tetapi mesinnya batuk batuk di dalam. Kita sibuk menjaga kehormatan agama dari mulut orang lain, tetapi tidak terlalu terganggu ketika nilai agama dicopet oleh tangan orang sendiri.

Lucunya lagi, orang yang paling berisik ketika agama dihina, belum tentu paling keras ketika keadilan diinjak. Mereka marah bukan karena kebenaran dilukai, melainkan karena kelompoknya disentuh. Ini bukan lagi soal iman, tetapi soal fanatisme yang diberi parfum religius. Yang dibela kadang bukan ajaran, melainkan gengsi komunal yang memakai jubah suci.

Ada semacam keajaiban sosial di negeri ini: seorang penghina agama dapat diseret dengan kecepatan kilat, tetapi seorang tokoh yang merampok uang publik atau menodai martabat manusia kadang diperlakukan seperti vas bunga antik, disentuh takut pecah, dikritik takut gaduh. Hukum menjadi galak kepada orang yang tidak punya panggung, tetapi mendadak berakhlak lembut kepada mereka yang punya jamaah, punya mikrofon, punya massa, dan punya foto besar di ruang tamu organisasi.

Padahal agama tidak turun ke bumi untuk menjadi satpam perasaan semata. Agama datang membawa tuntutan moral yang kadang pahit seperti jamu tanpa gula. Ia memerintahkan kejujuran bahkan ketika yang berbohong adalah teman sendiri. Ia menuntut keadilan bahkan ketika terdakwanya adalah orang yang dulu mengajari kita doa makan. Tetapi manusia memang makhluk yang aneh: begitu gagah menghadapi musuh di luar pagar, begitu lunglai ketika harus menyapu kotoran di ruang tamu sendiri.

Maka jangan heran jika generasi muda mulai bingung. Mereka melihat orang dewasa menangis ketika simbol agama disentuh, tetapi tetap bisa tidur nyenyak ketika pelaku kebejatan berlindung di balik simbol yang sama. Mereka menyaksikan pidato moral berkilauan seperti lampu hajatan, tetapi redup ketika harus dipakai menerangi kasus yang melibatkan orang dalam.

Agama tidak membutuhkan pembela yang hanya pandai marah. Setan pun tahu cara berteriak. Agama membutuhkan manusia yang berani jujur, bahkan ketika kejujuran itu harus mengiris harga diri kelompoknya sendiri. Sebab mempertahankan citra sambil mengubur kebenaran adalah cara paling halus untuk menghancurkan moralitas sambil tetap terlihat saleh.

Barangkali masalah terbesar kita bukan kurangnya cinta kepada agama. Kita terlalu mencintai agama sebagai bendera, tetapi belum cukup mencintainya sebagai cermin. Padahal agama yang hanya dijadikan bendera akan terus dikibarkan ke jalanan. Sedangkan agama yang dijadikan cermin, mau tidak mau, akan memaksa kita menatap wajah sendiri, termasuk noda yang selama ini kita sembunyikan di balik sorban, slogan, dan suara takbir yang terlalu percaya diri.

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Majalah Perempuan Aceh
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...