Jubah Tuhan dan Nafsu Setan

Oleh: Suko Wahyudi.
Pegiat Literasi
Negeri ini memang aneh. Orang yang paling nyaring bicara soal surga kadang justru paling piawai membuat neraka di bumi. Mimbar agama yang mestinya menjadi tempat turunnya kesejukan, dalam beberapa peristiwa malah berubah seperti lorong gelap tempat moral diperkosa diam diam. Dan kita kembali tercekat ketika tokoh agama terseret kasus pencabulan, kekerasan seksual, dan kebejatan yang dibungkus dengan tasbih, sorban, serta wajah penuh doa.
Betapa mengerikan jika kejahatan sudah belajar membaca kitab suci.
Pelakunya bukan preman terminal yang sejak awal memang dicurigai masyarakat. Bukan pula pencopet pasar yang wajahnya sudah ditakdirkan tampak kriminal. Mereka adalah orang orang yang di tangannya masyarakat menitipkan iman. Mereka berdiri di depan jamaah sambil mengutip ayat Tuhan dengan suara bergetar. Mereka bicara tentang akhlak sambil mengelus dada. Tetapi ternyata di balik pintu tertutup, ada tubuh tubuh lemah yang dijadikan korban oleh tangan yang sebelumnya dipakai mengangkat doa.
Di sinilah ironi itu berdiri sambil tertawa pahit di hadapan kita.
Masyarakat kita memang terlalu mudah mabuk oleh simbol. Sedikit berjubah langsung dianggap wali. Sedikit pandai menangis saat ceramah segera dipromosikan menjadi penghuni VIP surga. Kita ini bangsa yang kadang lebih percaya pada sorban daripada nurani. Akibatnya, ketika seorang tokoh agama berbuat bejat, masyarakat mendadak lumpuh seperti kehilangan kiblat moral.
Lalu mulailah keluar kalimat klasik paling tua di republik ini: “Itu hanya oknum.”
Kalimat “oknum” di negeri ini kadang lebih sakti daripada obat nyamuk. Semua masalah selesai dengan kata itu. Polisi nakal disebut oknum. Pejabat korup disebut oknum. Tokoh agama cabul juga disebut oknum. Seolah olah dosa menjadi ringan hanya karena diberi nama baru. Padahal kalau kebusukan terus berulang di banyak tempat, mungkin yang bermasalah bukan cuma orangnya, tetapi juga budaya diam yang memelihara kebusukan itu seperti memelihara bonsai.
Kita hidup dalam masyarakat yang terlalu gemar menyakralkan manusia. Tokoh agama diposisikan seperti makhluk setengah malaikat. Kritik dianggap dosa sosial. Korban yang berani bicara malah dicurigai sebagai pembawa fitnah. Akhirnya agama kehilangan wajah kasih sayangnya dan berubah menjadi benteng perlindungan bagi mereka yang punya kuasa simbolik.
Padahal agama tidak pernah meminta manusia untuk menyembah manusia lain.
Yang lebih tragis, banyak korban justru dipaksa diam demi menjaga nama baik lembaga. Nama pesantren harus diselamatkan. Nama tokoh harus dibersihkan. Reputasi harus dijaga. Sementara korban dibiarkan menanggung trauma sendirian seperti memikul gunung di dadanya. Negeri ini kadang memang lebih sibuk mencuci papan nama daripada membersihkan luka manusia.
Dan anehnya, masyarakat sering ikut menikmati sandiwara itu.
Kita terlalu mudah terkecoh oleh tampilan religius. Jubah dianggap bukti kesucian. Padahal jubah hanya kain. Yang suci itu hati. Sorban hanya lilitan kepala. Yang mulia itu akhlak. Tetapi kita hidup di zaman ketika simbol lebih dipercaya daripada nurani. Maka jangan heran jika banyak orang pandai berbicara tentang Tuhan, tetapi gagal memperlakukan manusia dengan layak.
Di sinilah psikologi agama menjadi penting. Ia mengingatkan kita bahwa religius belum tentu matang secara moral. Orang bisa hafal kitab suci di luar kepala, tetapi tidak pernah selesai dengan hawa nafsunya sendiri. Orang bisa menangis saat berdoa, tetapi tetap tega menghancurkan hidup orang lain. Sebab agama yang berhenti di mulut hanya melahirkan retorika. Agama yang gagal masuk ke hati hanya menghasilkan panggung kesalehan.
Dan kita sekarang hidup di zaman panggung itu.
Semua tampak suci di depan kamera. Semua tampak alim di depan jamaah. Tetapi di belakang layar, sebagian manusia sedang bertarung dengan sisi paling gelap dalam dirinya sendiri. Kesalehan berubah menjadi kosmetik sosial. Agama dijadikan alat memperoleh penghormatan, pengaruh, bahkan kekuasaan atas tubuh orang lain.
Sungguh mengerikan jika agama sudah berubah menjadi alat manipulasi.
Karena itu, kesalahan tokoh agama tidak boleh membuat kita membenci agama. Yang busuk adalah perilaku manusianya, bukan ajarannya. Tetapi pada saat yang sama, agama juga tidak boleh dijadikan gudang persembunyian bagi kebejatan moral. Sebab ketika simbol Tuhan dipakai untuk melindungi nafsu setan, maka yang hancur bukan hanya nama seorang tokoh, tetapi juga kepercayaan masyarakat terhadap agama itu sendiri.
Mungkin inilah saatnya kita berhenti memuja manusia secara berlebihan. Tokoh agama tetap manusia biasa. Ia bisa tergelincir, bisa salah, bahkan bisa jatuh lebih dalam daripada orang yang setiap hari ia ceramahi. Sebab godaan terbesar sering justru datang kepada mereka yang terlalu lama dipuji sebagai orang suci.
Dan sejarah berkali kali membuktikan, tepuk tangan manusia kadang lebih berbahaya daripada godaan iblis.











