Artikel · Potret Online

Agensi Proyek Presiden Prabowo Subianto

4 menit baca 19
IMG_1097
Foto / IlustrasiAgensi Proyek Presiden Prabowo Subianto
Disunting Oleh

Oleh: Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh

Dosen Antropologi, Universitas Malikussaleh, Aceh

Dalam membaca kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, banyak pengamat terjebak pada pertanyaan apakah ia konsisten atau kontradiktif. Namun antropologi menawarkan cara pandang yang berbeda. 

Alih-alih menilai tindakan politik sebagai “benar” atau “salah”, antropologi melihatnya sebagai proyek agensi—sebuah rangkaian tindakan strategis yang dijalankan aktor dalam struktur sosial yang membatasi sekaligus membuka peluang.

Sherry Ortner, dalam Anthropology and Social Theory: Culture, Power, and the Acting Subject(2006), menegaskan bahwa agensi bukan sekadar kemampuan individu untuk bertindak, tetapi proyek jangka panjang yang dijalankan aktor untuk mencapai tujuan tertentu dalam arena kekuasaan. 

Dalam karya lainnya, Unfinished Projects (2016), Ortner menekankan bahwa proyek politik selalu bersifat tidak selesai, penuh negosiasi, dan sering kali tampak paradoksal.

Melalui lensa Ortner, kepemimpinan Prabowo bukan sekadar kumpulan kebijakan, tetapi proyek politik yang dijalankan melalui paradoks—dan paradoks itu sendiri menjadi alat untuk memperluas ruang manuvernya.

Agensi sebagai Proyek: Prabowo dan Dua Jalur Kekuasaan

Ortner menyebut bahwa setiap aktor memiliki projects—tujuan jangka panjang yang membentuk tindakan mereka. Dalam konteks Prabowo, proyek itu tampak jelas: membangun negara kuat, stabil, dan dihormati di panggung global. Namun proyek ini dijalankan dalam struktur demokrasi yang menuntut transparansi, partisipasi, dan akuntabilitas.

Di sinilah paradoks muncul. Prabowo menampilkan dua persona yang tampak bertentangan: Prabowo yang lembut, menari, bercanda, memeluk anak-anak, dan berbicara tentang kasih sayang. Prabowo yang keras, berbicara tentang ancaman, stabilitas, dan kedisiplinan negara.

Dalam kerangka Ortner, dua persona ini bukan inkonsistensi, tetapi strategi agensi. Ia menavigasi dua jalur sekaligus: jalur populisme emosional dan jalur stabilitas militeristik. Keduanya memperluas basis legitimasi dan memperkuat proyek politiknya.

Agensi dalam Struktur: Habitus Militer dan Demokrasi Elektoral

Ortner menekankan bahwa agensi selalu beroperasi dalam struktur yang membatasi. Prabowo membawa habitus militer—disiplin, hierarki, komando—ke dalam arena demokrasi yang egaliter. 

Ketegangan antara habitus dan arena ini menghasilkan paradoks: demokrasi dipertahankan secara retoris, tetapi remiliterisasi ruang sipil berjalan, partisipasi publik dihargai,tetapi struktur komando diperluas.

Dalam perspektif Ortner, paradoks ini adalah hasil negosiasi antara habitus dan struktur, bukan sekadar kontradiksi. Prabowo menggunakan habitus militer sebagai modal simbolik untuk menegaskan ketegasan, efisiensi, dan stabilitas—nilai yang dianggap penting oleh sebagian besar pemilih.

Agensi sebagai “Serious Games”: Politik sebagai Arena Strategis

Dalam konsep serious games Ortner, kehidupan sosial adalah arena permainan serius, di mana aktor memainkan peran,memanfaatkan peluang, menavigasi aturan, dan menciptakan makna baru.

Paradoks Prabowo dapat dibaca sebagai strategi dalam permainan ini. Ia memanfaatkan simbolisme nasionalisme untuk membangun kedekatan emosional, retorika stabilitas untuk menegaskan otoritas, gestur kerakyatan untuk memperluas dukungan, dan narasi ancaman untuk memperkuat kebutuhan akan pemimpin kuat.

Paradoks bukan kelemahan, tetapi alat untuk memainkan permainan politik dalam arena yang penuh kompetisi dan ketidakpastian.

Paradoks sebagai Mekanisme Kekuasaan

Jika kita menggabungkan teori agensi Ortner dengan dinamika politik Indonesia, kita melihat bahwa paradoks Prabowo berfungsi sebagai alat mobilisasi emosi, strategi negosiasi struktur, mekanisme legitimasi, cara memperluas ruang manuver politik.
.

Paradoks bukan sekadar ketidakkonsistenan, tetapi metode. Ia memungkinkan Prabowo tampil fleksibel, adaptif, dan relevan bagi berbagai segmen masyarakat. Dalam konteks demokrasi yang masih mencari bentuk, paradoks menjadi bahasa politik yang efektif.

Ortner mengingatkan bahwa proyek politik selalu “unfinished”—selalu dinegosiasikan, selalu berubah, dan selalu penuh ambiguitas. Kepemimpinan Prabowo pun demikian: sebuah proyek agensi yang terus bergerak, dinegosiasikan, dan dipertontonkan di hadapan publik.

Bibliografi 

Bourdieu, P. (1990). The Logic of Practice. Stanford University Press.

Geertz, C. (1980). Negara Teater: Politik Kebudayaan di Bali. Princeton University Press.

Ortner, S. B. (2006). Anthropology and Social Theory: Culture, Power, and the Acting Subject. Duke University Press.

Ortner, S. B. (2016). Unfinished Projects: Decolonization and the Anthropology of Modernity. Duke University Press.

Turner, V. (1969). The Ritual Process: Structure and Anti-Structure. Aldine Publishing.

Turner, V. (1987). The Anthropology of Performance. PAJ Publications.

Amnesty International Indonesia. (2025). Laporan Tahunan 2024–2025: Ruang Sipil, Militerisasi, dan Hak Asasi Manusia di Indonesia. Amnesty International.

Muhtadi, B. (2025). Voting Behavior in Post-Reform Indonesia: Strongmen, Populism, and Electoral Dynamics. LP3ES Press.

Setiawan, A. (2024). Indonesia’s Foreign Policy under Prabowo: Between Nationalism and Pragmatic Alignment. Journal of Contemporary Southeast Asian Studies, 46(2), 215–233.

Putra, M. A. (2025). “Reinterpretasi Doktrin Bebas-Aktif di Era Prabowo Subianto.” Jurnal Politik Global, 12(1), 55–78.

✦ ✦ ✦
Apakah tulisan ini bermanfaat?
Tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Redaksi tidak selalu sejalan dengan isi tulisan.
Tentang Penulis
Dr. Al Chaidar Abdurrahman Puteh, M.Si., adalah seorang akademisi dan peneliti yang memiliki keahlian di bidang antropologi, dengan fokus utama pada antropologi politik dan agama. Beliau saat ini aktif sebagai dosen di Universitas Malikussaleh, yang berlokasi di Lhokseumawe, Aceh. Selain mengajar, Dr. Al Chaidar juga aktif melakukan penelitian dan seringkali diundang sebagai narasumber atau pengamat untuk berbagai isu sosial, politik, dan keagamaan, terutama yang berkaitan dengan konteks Aceh dan Indonesia secara luas. Kontribusinya dalam pengembangan ilmu antropologi dan pemahaman isu-isu kontemporer di Indonesia sangat signifikan melalui karya-karya ilmiah dan keterlibatannya dalam diskusi publik.
Diskusi
Upload foto profil (opsional)
Memuat komentar...